in

Walau Sehat, Jangan Sepelekan Covid-19

Sumber : Covid19.go.id

 

HALO SEMARANG – Bertepatan dengan peringatan Hari Lansia 29 Mei 2001, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyerukan prioritas perlindungan untuk lansia. Seruan itu pu diamini Eka Simanjuntak, warga DKI yang kehilangan ayah tercinta, Humala Simanjuntak. Sang ayah meninggal dunia 1 Maret 2021 lalu, akibat korona.

Sebelumnya, Almarhum dirawat selama 11 hari di Rumah Sakit Hermina Kemayoran. “Bapak wafat pada usia 85 tahun,” tutur Eka, seperti dirilis Covid19.go.id.

Menurut Eka, sebelum meninggal dunia ayahnya masih sangat aktif, masih bekerja, jalannya juga masih tegak, berpikir baik, bahkan kemana-mana masih setir sendiri. Menurut Eka, ayahnya yang berprofesi sebagai pengacara itu masih aktif melakukan pendampingan bagi orang-orang yang memiliki masalah hukum.

Namun satu saat, ayahnya jatuh di tangga. Eka dan keluarga sempat membawa ayahnya ke rumah sakit. Sempat didiagnosis memiliki masalah pada gendang telinga (keseimbangannya terganggu) dan rawat jalan di rumah.

Kecurigaan bahwa ayahnya terjangkit Covid-19 muncul saat makan. Saat itu, Humala Simanjuntak tak bisa lagi mencium dan merasakan makanan.

“Kakak saya mulai curiga. Ayah saya langsung di PCR dan hasilnya positif Covid-19. Kemudian langsung dirawat di RS Hermina Kemayoran hingga tutup usia,” katanya.

Eka menceritakan, semasa hidupnya ayahnya adalah orang yang sangat disiplin menerapkan protokol kesehatan. Tidak hanya pada dirinya tapi juga rekan kerja di kantor. Ayahnya sering mengingatkan yang lain, agar selalu menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan tidak boleh berkumpul.

Hingga karena suatu keperluan, lanjut Eka, ayahnya pulang ke kampung. Di sana ayahnya menyaksikan banyak orang yang tidak menjalankan protokol kesehatan, tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, tetapi tidak banyak yang tertular Covid-19.

Nah pengalaman itulah yang membuat ayahnya kemudian mulai menganggap Covid-19 tidak terlalu berbahaya, seperti yang selama ini disampaikan.

“Apalagi ayah saya merasa sehat dan masih bisa beraktivitas seperti biasa di usia yg sudah 85 tahun,” ujarnya.

Untuk itu, Eka berpesan kepada siapapun, untuk tidak menganggap remeh Covid-19 meski merasa sehat. Menurut Eka, ayahnya juga dari segi kesehatan tidak pernah ada masalah.

“Selama hidup ayah juga amat konsen dengan kesehatan, makan dan tidur teratur, serta rajin olahraga, namun akhirnya terpapar Covid-19 dan meninggal. Kita tidak pernah tahu dalam kondisi seperti apa kita tertular,” pesan Eka.

Untuk itu, dia pun mengingatkan, selain menerapkan protokol kesehatan, vaksinasi merupakan satu-satunya cara untuk memperkuat pertahanan tubuh dari serangan Covid-19.

Tidak alasan untuk tidak divaksin. Ada banyak rumor tentang efek samping setelah divaksin, tapi ada ratusan juta orang di seluruh dunia yang telah divaksin dan sejauh ini hampir semua baik-baik saja.

“Tidak ada yang lain. Vaksinasi mengurangi risiko, dan kalaupun masih tertular, proses penyembuhannya akan lebih baik dibanding dengan yang belum divaksinasi,” tegas Eka.

Peristiwa serupa juga dialami Taufiq Dimas (20), asal Banyumas, yang harus kehilangan ayahnya karena Covid-19. Dimas berpesan, pandemi sudah lama melanda bangsa ini dan sudah banyak yang harus meninggal dunia akibat Covid-19. Sudah bukan waktunya untuk ragu apakah Covid-19 ada atau tidak. Apalagi sampai menganggap enteng dan meremehkan. Dimas juga berpendapat, vaksinasi amat penting terutama bagi lansia.

“Jangan karena masih merasa sehat saja dan tidak pernah mengalami hal yang tidak diinginkan kita jadi abai dengan protokol dan malah membahayakan orang lain,” ujar Dimas. (HS-08)

Share This

Jaga dan Sayangi Orang Tua dengan Vaksinasi

Sosialisasi Pertama Rembuk Warga Perumahan Penerima Bantuan