in

Wakil Ketua DPRD Jateng: Peta Potensi Bencana Di Daerah Perlu Diperbaharui

Banjir rob di Pantai Sigandu Batang, Mei 2022 lalu. (Foto : batangkab.go.id)

HALO SEMARANG – Peta potensi kebencanaan di beberapa wilayah di Jawa Tengah perlu diperbarui. Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko, Senin (15/8/2022).

Dikatakan, untuk semua kabupaten/kota di Jateng perlu memiliki peta potensi bencana di daerah yang sudah terbarukan. Hal tersebut dikarenakan Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi kebencanaan paling tinggi dibandingkan provinsi lain.

“Peta potensi kebencanaan setiap daerah ini sangat penting untuk terus diperbaharui, karena dari situ kita bisa mengetahui titik-titik rawan di mana saja, yang langsung bisa ditindaklanjuti ketika terjadi bencana. Pembaharuan peta potensi bencana juga penting untuk pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana alam. Termasuk mitigasi dan kesiapsiagaan pemerintah daerah dan warga dalam menghadapi potensi bencana,” kata politisi Partai Gerindra ini.

Apalagi saat ini, di beberapa wilayah di Jawa Tengah sudah memasuki musim hujan. Pemetaan potensi bencana di daerah, sangat diperlukan untuk antisipasi, kesiapsiagaan, dan pencegahan. Diketahui, pertengahan Agustus ini, ada beberapa kasus bencana yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Seperti angin kencang di Malang (14/8/2022), banjir bandang di Solok, Sumatera Barat (14/8/2022), gempa bumi di Halmahera, Maluku (14/8/2022), dan beberapa kasus lain.

“Hal ini tentu harus menjadi kewaspadaan bagi pemerintah provinsi Jateng, khususnya pemerintah daerah. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga telah mengimbau warga Jawa Tengah bagian Selatan khususnya Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya untuk mewaspadai potensi terjadinya bencana hidrometeorologi. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan,” tegasnya.

Bencana Hidrometeorologi

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memang mengimbau warga Jawa Tengah bagian selatan khususnya Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya untuk mewaspadai potensi terjadinya bencana hidrometeorologi.

Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi (Stamet) Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo mengatakan, pihaknya pada hari Minggu (14/8/2022) telah mengeluarkan prakiraan cuaca berbasis dampak hujan lebat untuk wilayah Kabupate Cilacap, Banyumas, serta Kebumen yang berlaku hingga Senin (15/8/2022), pukul 07.00 WIB, dan akan diperbarui jika ada perkembangan lebih lanjut.

Dalam hal ini, wilayah Kabupaten Cilacap yang berstatus waspada meliputi Kecamatan Cipari, Cimanggu, Wanareja, Majenang, Karangpucung, dan Nusawungu, sedangkan wilayah Kabupaten Banyumas yang berstatus waspada terdiri atas Kecamatan Gumelar, Pekuncen, Cilongok, Kemranjen, Sumpiuh, dan Tambak.

Sementara wilayah berstatus waspada di Kabupaten Kebumen meliputi Kecamatan Rowakele, Aya Adimulyo, Kuwarasan, Karanganyar, Gombong, Karanggayam, Karangsambung, Alian, Pejagoan, Sruweng, Kebumen, Poncowarno, Klirong, dan Petanahan.

“Dampak hujan lebat bisa mengakibatkan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan sambaran petir,” katanya menjelaskan.

Lebih lanjut, Teguh mengatakan, berdasarkan analisis terhadap dinamika atmosfer pada hari Minggu (14/8/2022), indeks Enso di Nino 3.4 masih bemilai negatif 0,57 sehingga berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hujan harian di wilayah Indonesia. “Normalnya indeks Enso sebesar kurang lebih 0,5,” katanya.

Selain itu, Dipole Mode Index (DMI) bernilai negatif 0,80 yang berdampak terhadap suplai uap air dari wilayah Samudra Hindia ke wilayah Indonesia bagian barat menjadi signifikan. Dengan demikian, aktivitas pembentukan awan di wilayah Indonesia bagian barat pun menjadi signifikan.

Dalam hal ini, Dipole Mode merupakan fenomena interaksi laut dengan atmosfer di Samudra Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai atau selisih suhu permukaan laut antara pantai timur Afrika dan pantai barat Sumatra.

“Perbedaaan nilai anomali suhu permukaan laut itu disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI). DMI dianggap normal ketika nilainya kurang lebih 0,4,” kata Teguh.

Selain itu, kata dia, saat sekarang terjadi gelombang atmosfer berupa Rossby Equator di Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, dan Kepulauan Nusa Tenggara.
Menurut dia, terjadinya hujan dalam beberapa hari terakhir juga disebabkan oleh anomali suhu permukaan laut lebih panas 1-3 derajat Celcius, sehingga ada potensi penambahan penguapan di Selat Malaka, Samudra Hindia barat Sumatra, Laut Natuna, Selat Karimata, Selat Sunda, Laut Jawa Selat Madura, dan Laut Bali.

Kemudian di Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, Laut Flores, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Teluk Tomini, Teluk Bone, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Laut Sawu, Laut Timor, Laut Arafuru, Laut Halmahera, Teluk Cendrawasih, dan Samudra Pasifik utara Papua.

“Berdasarkan indeks-indeks tersebut diprakirakan masih ada potensi hujan dalam beberapa hari ke depan,” kata Teguh.(Advetorial-HS)

Ganjar Ingin Ilmuan Turun Gunung Membangun Pertanian Pangan Alternatif di Jateng

Sambut HUT Ke-74, Polwan Olahraga Bersama Anak Yatim Piatu di Seluruh Indonesia