in

Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Masyarakat Selektif Saat Membeli Hewan Kurban

(ilustrasi) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Jawa Tengah pastikan kebutuhan stok hewan untuk kurban aman.

HALO SEMARANG – Masyarakat, khususnya umat muslim diimbau untuk selektif dalam memilih dan membeli hewan kurban jelang Idul Adha 1443 atau hari raya kurban, yang akan jatuh pada 9 Juli 2022. Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko, Senin (20/6/2022).

Menurutnya, warga harus membeli hewan kurban, khususnya sapi yang telah dicek kesehatan. Hal itu lakukan untuk menghindari penyembelihan hewan kurban terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

“Saat ini masih merebak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan terutama pada sapi dan kambing. Pastikan hewan yang akan dikurbankan sehat dan aman dikonsumsi,” kata politisi Partai Gerindra ini.

Dia mengatakan, dalam masalah kurban, hendaknya umat Muslim tidak sembarang membeli hewan kurban, sehingga mengancam dan membahayakan si penerima daging. Syarat hewan yang dikurbankan yakni cukup umur dan sehat. Untuk itu ia berharap umat Muslim yang akan berkurban dapat meminta informasi dari instansi terkait untuk mengetahui kondisi hewan yang akan dibeli.

Heri Pudyatmoko juga mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempercepat penyaluran vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK). ”Jangan sampai momentum Idul Adha menjadikan duka tersendiri bagi peternak. Vaksin PMK yang sudah mulai didistribusikan harus segera direalisasikan,” tegasnya.

“Dinas Peternakan harus segera menginstruksikan jajaran di bawahnya sampai petugas penyuluh lapangan (PPL) tingkat kecamatan dan desa untuk memantau intensif para peternak di Jawa Tengah,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Agus Wariyanto menyampaikan, vaksin massal untuk penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak akan diproduksi akhir Agustus mendatang. Vaksinasi PMK ini diharapkan bisa mengurangi penyebaran virus pada ternak.

“Vaksin yang bulan Juni itu vaksin terbatas, karena ini vaksin darurat. Istilahnya Pak Menteri (Pertanian) itu vaksin darurat, dan nanti vaksin massal itu memang diproduksi akhir Agustus,” kata Agus dalam diskusi virtual, baru-baru ini.

“Sekarang sudah diketemukan serotipenya, nama serotipe virusnya adalah O, cuma dalam rangka menghadirkan vaksin yang diproduksi dalam negeri, Pak Menteri Pertanian kemarin menyatakan akhir Agustus baru ada lagi vaksinnya,” imbuh Agus.

Menurut Agus, solusi untuk mengatasi PMK adalah dengan vaksinasi massal. Sebab, vaksin bersifat permanen, sehingga hewan tidak akan terjangkit PMK lagi. Selama belum ada vaksinasi massal, Agus menyebut pihaknya akan melakukan vaksinasi terbatas pada bulan ini.

“Jadi untuk ternak yang terduga atau suspek sampai hari ini itu 9.500-an, kurang dari 10 ribu. Tapi baru dugaan ini, kan belum tentul ternak itu betul-betul positif menderita PMK. Itu harus diuji di laboratorium. Balai Besar di Wates, DIY, itu yang punya kewenangan,” terang dia.

Pasar Hewan Ditutup

Pasar hewan di sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Tengah juga ditutup terkait adanya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng melakukan berbagai upaya agar jelang Idul Adha pasar hewan bisa segera bisa buka agar memenuhi kebutuhan kurban.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jateng, Sumarno, Senin (13/6/2022). “Kita sudah identifikasi kondisi ketersediaan untuk Idul Adha, insya-Allah cukup untuk memenuhi kebutuhan kurban. Kita kebutuhan (Idul Adha) 273 ribu ekor, tersedia 400 ribu,” imbuh Sumarto.

Ia membenarkan ada sejumlah pasar hewan ditutup di Jateng terkait PMK. Untuk membukanya kembali harus melihat kondisi. Namun ia berharap seluruh pasar bisa kembali dibuka jelang Idul Adha.

“Kalau buka itu lihat kondisi di daerah masing-masing. Dua mingguan biasanya kita evaluasi. Iya, (dibuka dekat Idul Adha) tapi kalau ada kondisi darurat kan tentu saja ditutup, pemenuhannya dari daerah yang aman,” jelas Sumarno.

Saat ditanya apakah hewan yang terjangkit PMK layak untuk disembelih saat kurban, dirinya mengatakan sebenarnya tidak apa-apa ketika gejalanya masih ringan, namun jika sudah parah sebaiknya dihindari.

“Boleh (dikonsumsi) kecuali yang parah, kalau yang masih belum parah masih bisa. Salah satu solusinya (agar bisa dikonsumsi) kan disembelih ya,” ujarnya.(Advetorial-HS)

Pegadaian Siapkan KUR Syariah Rp 5,9 Triliun untuk Pengembangan Usaha Super Mikro

Ratusan Peserta Ikuti Gowes Bareng Polres Kotawaringin Barat dalam Rangka HUT Bhayangkara ke-76