in

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko: Jatuh Cinta Dengan Tanaman Hias

NAMANYA sudah tak asing lagi bagi para pecinta tanaman hias di Jawa Tengah. Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko selama ini memang gemar mengoleksi dan membudi daya tanaman hias, khususnya jenis aglonema dan tanaman hias lainnya. Beberapa kali, Heri Pudyatmoko juga mengikutkan tanaman hiasnya untuk pameran di beberapa daerah.  Dia juga tak sungkan untuk berdiskusi dan menimba ilmu dari para pakar tanaman hias di Indonesia.

Bahkan di rumahnya, di Bukit Cendana, Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang berjejer ribuan tanaman hias berbagai jenis. Tanaman-tanaman itu nampak terawat dengan daun yang berwarna-warni, di ruangan khusus seluas sekitar 800 meter persegi yang dibangun untuk budi daya tanaman.

“Sejak dulu saya memang suka tanaman hias, khususnya jenis aglonema, philodendron, anthorium, dan keladi (caladium). Tak hanya koleksi, tapi juga budi daya dan breeder khususnya untuk keladi dan anthorium,” kata politisi Partai Gerindra ini, Kamis (18/11/2021).

Di tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat, Heri Londo, sapaan akrabnya lebih banyak menghabiskan waktu bersama tanaman hias. Baik itu meracik pupuk, menyemai, menyiram, maupun melakukan penggandaan dengan cara memisah akar.

Di rumahnya, peralatan untuk budi daya tanaman hias jenis aglonema sangatlah komplet. “Dibilang koleksi ya bisa, tapi dibilang bisnis ya boleh. Untuk hal bisnis memang dikelola oleh keluarga, khususnya anak dan keponakan. Karena memang sektor ini cukup potensial sebagai potensi bisnis, khususnya untuk mensupport ekonomi keluarga,” katanya.

Bahkan sebagai potensi bisnis, dia mengaku jenis-jenis tanaman hias koleksi memiliki nilai jual yang tinggi, bahkan mencapai jutaan rupiah. Tanaman jenis aglonema golden hope misalnya, nilai jualnya bisa sangat tinggi dan dicari para kolektor tanaman hias.

“Kalau jenis ini memang buruan kolektor. Penjualannya dihitung perdaun. Pernah beberapa waktu lalu ada yang laku sampai Rp 15 juta hanya lima daun,” kata bapak tiga anak tersebut.

Aglonema golden hope, menurutnya memiliki ciri khas daun yang bentuknya khas, warnanya perpaduan kuning, hijau, dan merah. Sejak diluncurkan, aglonema golden hope sangat diburu pencinta tanaman dengan harga mencapai puluhan juta rupiah, dan ini ditangkapnya sebagai peluang bisnis. Khususnya untuk mengajari anak-anaknya mengelola bisnis dengan kemandirian.

Menurutnya kecintaannya pada tanaman hias, khususnya jenis aglonema sudah sejak beberapa tahun lalu, sebelum trend tanaman hias populer. Menurutnya, aglonema merupakan salah satu tanaman hias yang mudah dibudi dayakan. Tanaman ini saat ini juga banyak diburu karena keunikan dan corak warna yang indah.

“Beberapa tahun belakangan, aglonema pun kian naik daun. Bahkan tak sedikit orang rela merogoh saku dalam demi bisa mengoleksi aglonema,” katanya.

Tak hanya tanaman hias,pria kelahiran Grobogan, 19 Februari 1966 ini juga sedang menggeluti budi daya ayam ras, khususnya ayam petarung. Meski tak digunakan sebagai fasilitas judi sabung ayam, Heri juga sangat gemar menekuni budi daya ayam ras karena hobi. “Saya lebih memilih untuk menjadi breeder, yang berusaha menyilangkan beberapa jenis ayam aduan untuk menciptakan spesifikasi yang diinginkan,” papar sekretaris PA GMNI Jawa Tengah ini.

Tak tanggung-tanggung, Heri kerap mendatangkan ayam ras dari Thailand untuk ambisinya “menciptakan” jenis ayam tertentu sesuai spesifikasi yang diinginkan.  Dia juga aktif berkonsultasi dengan para peternak lain di seluruh Indonesia, untuk menambah wawasannya tentang dunia peternak ayam aduan.

“Tapi untuk keseriusan, soul saya memang lebih suka ke tanaman hias.Meski ternak ayam juga sangat saya seriusi. Ini untuk bekal saya jika nanti sudah tidak aktif lagi di dunia politik. Saya ingin menjadi peternak dan budi daya tanaman hias, sambil menikmati hari tua sebagai politikus,” katanya.

Terkait harapan, Heri Pudyatmoko berharap anggota dewan lainnya agar bisa memberi contoh bagi lingkungan sekitarnya, untuk lebih kreatif dalam upaya memanfaatkan pekarangan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat. Tujuannya agar bisa menjaga lingkungan dari polusi udara, menjaga keindahan alam sekitar, dan bisa dikembangkan untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga.

“Setidaknya memberikan contoh yang baik bagi masyarakat sekitarnya. Lebih baik lagi bisa memberikan edukasi ke masyarakat sekitar tempat tinggalnya, tentang pentingnya menjaga ekosistem alam, dan lebih menyadari tentang lingkungan hidup. Menanam bukan untuk kita saja, tapi juga untuk generasi penerus nantinya,” tandasnya.(Advetorial)

Ganjar Kembali Jadi Mandor, Hujan-Hujanan Cek Pembangunan Kawasan Borobudur

Ganjar: Borobudur Marathon Sukses, Kita Siapkan Lagi Tahun Depan