in

Wabup Blora Ajak Para Pemangku Kepentingan Cegah Pernikahan pada Usia Anak

Talkshow “Menyongsong Masa Depan Unggul, Stop Pernikahan Anak”, belum lama ini di Pendopo Rumah Dinas Bupati. (Foto : Blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Wakil Bupati Blora Tri Yuli Setyowati mengajak stakeholders untuk bersama-sama mencegah pernikahan anak. Saat ini Blora menempati peringkat tengah dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah, untuk jumlah kasus pernikahan anak.

Ajakan tersebut disampaikan Wakil Bupati Blora Tri Yuli Setyowati, ketika mewakili Bupati H Arief Rohman, membuka dan mengisi materi Talkshow “Menyongsong Masa Depan Unggul, Stop Pernikahan Anak”, belum lama ini di Pendopo Rumah Dinas Bupati.

Dalam acara yang diselenggarakan Kohati Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Tengah – DI Yogyakarta ini, Wabup Tri Yuli menekankan pentingnya multistakeholder dalam menekan angka pernikahan anak.

“Tingginya angka pernikahan anak di Blora ini menjadi PR kita bersama. Berbagai pihak harus bersama-sama sesarengan mencegah dan menangani pernikahan bawah umur. Karena dampaknya akan sangat bahaya bagi keberlangsungan kehidupan generasi muda Blora ke depan,” kata Wabup Tri Yuli, seperti dirilis blorakab.go.id.

Menurutnya upaya pencegahan ini dimulai dari pimpinan daerah, Dinas Kesehatan, Dinas Dalduk KB, Dinas Sosial P3A, PKK, Kemenag, hingga berbagai organisasi masyarakat (ormas) keagamaan, Gerakan Pramuka, Forum Anak, Forum Genre, dan Osis, harus berjalan bersama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahayanya pernikahan anak.

“Biasanya pernikahan anak ini disebabkan oleh faktor ekonomi keluarga, kemudian lingkungan sosial utamanya di pedesaan, kualitas pendidikan orang tua, rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi, hingga pola pengasuhan yang primitif,” kata dia.

Dalam kesempatan itu dia juga menyinggung dampak dari pernikahan yang terpaksa dijalani anak, lantaran terlanjur hamil. Beberapa di antaranya, angka perceraian meningkat karena secara ekonomi dan psikis belum siap, sang ibu yang belum matang fisiknya rentan terkena kanker mulut rahim, hingga bayi yang dilahirkan bisa cacat dan stunting, karena perkembangnan janin tidak maksimal pada rahim muda.

“Oleh sebab itu, melalui acara yang baik ini mari kita bersama-sama belajar untuk mengajak masyarakat di sekitar kita, teman kita untuk memahami bahayanya nikah dini. Ojo kawin bocah,” sambungnya.

Wakil Bupati mengapresiasi keaktifan Forum Anak, Forum OSIS dan Forum Genre di Kabupaten Blora. Apalagi Genre sudah terbentuk hingga tingkat Kecamatan, yang diharapkan bisa memberikan edukasi kepada teman sebaya bersama PIK-R di tingkat desa.

“Biasanya kalau yang ngomongi itu orang tua pada takut, mereka juga takut cerita kepada orang tua. Namun ketika yang menasehati teman sebaya, biasanya remaja ini akan terbuka. Maka celah inilah yang harus bisa kita maksimalkan. Apalagi Bunda Genre kita, Bunda Aini Solichah ini sangat aktif berkegiatan dengan adik-adik Genre,” tambah Wabup.

Pihaknya berharap, peran serta generasi muda juga bisa ikut menekan potensi pernikahan anak.

“Yang dimaksud pernikahan anak adalah pernikahan usia dibawah 19 tahun. Yang mana telah diatur dalam UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang perkawinan. Kita perlu pahamkan ini ke masyarakat luas.,” terang Wabup.

Turut menjadi pemateri dalam talkshow ini adalah Kepala Dinas P3AP2KB Jawa Tengah Retno Sudewi dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blora, Ainia Sholichah.

Retno Sudewi dalam paparannya menyampaikan bahwa berdasarkan data yang ada di Pemprov Jateng, angka pernikahan anak di Kabupaten Blora untuk periode 2021 sebanyak 448 kasus.

“Blora menduduki peringkat ke 13 dari 35 Kabupaten Kota se Jateng yang pernikahan anaknya banyak. Posisi pertama Cilacap. Meskipun berada di tengah, upaya pencegahan dan penanganan pernikahan anak ini harus kita lakukan bersama-sama. Saya kagum dengan Blora karena strategi daerah dalam penanganan pernikahan anaknya sudah sesuai strada jateng dan stranas yang diinginkan Pak Presiden. Tinggal bagaimana kita action bersama di lapangan,” ajaknya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blora, Ainia Sholichah, menyampaikan data pernikahan anak selama tahun 2021 dari Kantor Kemenag Blora sebanyak 640 kasus. Dengan rincian laki-laki 100 kasus dan perempuan 540 kasus.

“Artinya ada 100 laki-laki dan 540 perempuan di bawah 19 tahun yang menikah selama tahun 2021 di Kabupaten Blora. Kita identifikasi datanya, yang paling banyak adalah Kecamatan Jati, ada 64 perempuan dan 54 laki-laki dibawah umur 19 tahun telah menikah. Ini menjadi perhatian kita bersama,” ungkap Aini Shalicah.

Maka harus ada pendekatan, edukasi yang baik kepada anak anak, pelajar SMP, SMA, SMK sederajat, dan orang tuanya. Jika anak-anak remaja kita dekati melalui Forum Anak, Genre, Forum Osis, Karang Taruna dll.

“Maka untuk orang tuanya bisa kita dekati lewat Muslimat, Aisyiyah, PKK dan lainnya. Mari kita bergerak bersama untuk menekan angka pernikahan anak di Kabupaten Blora,” tambahnya.

Talkshow ini diikuti oleh perwakilan pelajar SMA/SMK se Kabupaten Blora, Forum OSIS, Forum Anak Blora, GenRe Blora, Fatayat, Muslimat, Aisyiyah, PKK, dan para pengurus dan anggota KOHATI HMI Jawa Tengah – DI Yogyakarta. Yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Selain talkashow, juga dilaksanakan penandatanganan deklarasi gerakan Jo Kawin Bocah, dan penandatanganan MoU antara KOHATI Jateng – DI Yogyakarta dengan Kepala Dinas P3AP2KB Jateng tentang pencegahan pernikahan anak. (HS-08).

Sidak Penyakit Mulut dan Kuku di Pasar Hewan, Pemkab Sosialisasikan Gejala Klinisnya

Wabah PMK Masuk di Semarang, Dispertan Lakukan Biosekuriti Hewan Ternak