in

Uniknya Tudung Saji Anyaman Bambu Khas Banjarnegara

Tudung saji dari anyaman bambu, produk D'Bantar Bamboo Craft Banjarnegara.

HALO BANJARNEGARA – Kerajinan bambu banyak menarik perhatian karena memiliki berbagai keunggulan seperti ringan, mudah dirawat, dan dapat berfungsi selayaknya produk dari bahan dasar kayu namun ramah lingkungan.

Kini kerajinan bambu semakin beragam bentuknya dan memiliki gaya serta keanggunannya sendiri. Selain itu, kreativitas para pengrajin bambu juga semakin meningkat.

Jika suka barang-barang kerajinan dari bambu, kita bisa datang ke D’Bantar Bamboo Craft di Desa Bantar Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara.

Di sana kita akan disuguhi, aneka produk yang unik dan natural. Banyak corak dan jenis kerajinan bambu yang artistik. Kesannya memang klasik tapi elegan.

Bila berkunjung di D’Bantar Bamboo Craft, pengunjung akan diajarkan cara membuat beberapa pilihan produk di sana berbahan dasar bambu tentunya.

Menurut perajin bambu di D’Bantar Bamboo Craft, Warso, pembuatan tudung saji, konsep awalnya adalah menyukseskan program PHBS sekaligus melestarikan kreasi anyaman bambu.

“Karena dengan mencintai produk lokal, kita sudah ikut dalam meningkatkan kesejahteraan para pengrajin lokal,” ujarnya melalui rilis yang diterima halosemarang.id, Minggu (13/2/2022).

Dijelaskan, kegunaan tudung saji untuk melindungi sajian hidangan di meja makan dari kotoran maupun serangga yang dapat mencemari makanan, agar tetap bersih dan sehat.

“Desain tutup saji memang sengaja dibuat tidak rapat, masih terdapat sela sela lubang,” ungkap Warso.

Hal ini menurutnya, untuk sirkulasi udara dan uap makanan didalam agar bisa dengan mudah keluar dan tidak mempengaruhi kualitasnya.

“Ada dua model desain tutup saji. Yakni oval dan bundar, dengan ukuran standar, juga jumbo serta dengan motif putihan maupun kulitan,” ungkap Warso.

Ditambahkan, pemakaian alat-alat makan dari bambu, tidak hanya digunakan untuk mempercantik dekorasi di ruang makan saja.

“Kita juga dapat ikut ambil bagian dalam kampanye mengurangi penggunaan plastik dengan menggunakan peralatan makan dari bambu,” imbuh Warso.

Dirinya berharap, dengan mencintai produk lokal, maka sudah ikut dalam meningkatkan kesejahteraan para pengrajin lokal.

“Ya di sini lengkap, ada tudung saji, kursi, amben, kaligrafi, tempat lampu, almari, nampan, tempat payung, tempat majalah, keranjang buah, pembungkus wajik dan masih banyak lagi,” pungkas Muchlas.(HS)

Pemkot Mulai Terapkan Parkir Elektronik di Kota Semarang, Ini Titik Lokasinya

Berjuang Tembus Lima Besar