UNESCO Tetapkan Pantun sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda

Foto Ilustrasi Setkab.go.id

 

HALO SEMARANG – Indonesia boleh berbangga diri, karena United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), telah mengakui tradisi pantun, sebagai warisan budaya dunia bukan benda.

Pengakuan tersebut disampaikan pada sesi ke-15,  Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage, di Kantor Pusat UNESCO, di Paris, Prancis, belum lama.

Berdasarkan informasi dari KBRI Prancis, melalui Setkab.go.id, usulan kepada Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB ini, diajukan Indonesia dan Malaysia secara bersama.

Adapun bagi Indonesia, pantun menjadi tradisi budaya Indonesia ke-11, yang diakui oleh UNESCO. Sebelumnya Pencak Silat juga diinskripsi sebagai Warisan Budaya Tak Benda, pada 12 Desember 2019.

Pantun dinilai memiliki arti penting bagi masyarakat Melayu, bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial, namun juga kaya akan nilai-nilai budaya dan agama, yang menjadi panduan moral.

Pesan yang disampaikan melalui pantun umumnya menekankan keseimbangan dan harmoni hubungan antarmanusia.

Bagi Indonesia, keberhasilan penetapan Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda, tidak lepas dari keterlibatan aktif berbagai pemangku kepentingan, baik Pemerintah Pusat, pemerintah daerah, maupun berbagai komunitas terkait, seperti Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), Lembaga Adat Melayu, Komunitas Joget Dangdut Morro, Komunitas Joget Dangdut Sungai Enam, Komunitas Gazal Pulau Penyengat, Sanggar Teater Warisan Mak Yong Kampung Kijang Keke, serta sejumlah individu dan pemantun Indonesia.

Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, Surya Rosa Putra menyampaikan bahwa sebagai nominasi Indonesia pertama yang diajukan bersama dengan negara lain, inskripsi Pantun memiliki arti penting bagi Indonesia dan Malaysia, yang merefleksikan kedekatan dua negara serumpun yang berbagi identitas, budaya, dan tradisi Melayu.

Pantun merupakan tradisi lisan komunitas Melayu, yang telah hidup lebih dari 500 tahun. Pantun digunakan untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran melalui syair yang berima.

Umumnya pantun digunakan dalam nyanyian dan tulisan di upacara adat dan pernikahan. Saat ini, tidak hanya sebagai identitas Melayu, Pantun juga telah menjadi media pendukung dalam pemberdayaan ekonomi kreatif.

Ke depan, Indonesia dan Malaysia berkomitmen untuk terus melakukan berbagai upaya, untuk memastikan pelindungan Pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda, melalui pelibatan aktif komunitas lokal di kedua negara. Pantun juga dilestarikan dengan diajarkan secara formal di sekolah dan melalui kegiatan kesenian. (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.