in

UMKM di Jateng Ditargetkan Masuk Pasar Digital Tahun 2023

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jateng, Emma Rachmawati/dok.

 

HALO SEMARANG – Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Jawa Tengah (Jateng) ditargetkan masuk ke pasar digital pada tahun 2023. Target ini merupakan bagian dari mewujudkan ekonomi digital.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jateng, Emma Rachmawati mengungkapkan, para pelaku UMKM di Jateng telah mempersiapkan diri untuk melenggang di pasar digital.

“Kami sendiri sudah mempersiapkan berbagai macam pelatihan, baik dari kita sendiri maupun kolaborasi dengan teman-teman start up e-commerce,” tutur Emma kepada halosemarang.id, Kamis (26/8/2021).
Namun, dari jumlah total UMKM yang ada di Jateng hanya 1,6 juta dari 4,1 juta pelaku UMKM yang dapat memanfaatkan pasar digital dalam waktu dekat itu.

“Di Jawa Tengah (UMKM) ada 4,1 juta, padahal dari jumlah itu 2,5 jutanya petani. Jadi jumlahnya hanya 1,6 juta pelaku UMKM yang produsi, perdagangan, dan sebagainya,” ujarnya.

Merujuk target yang ditentukan oleh Menteri Perdagangan, jumlahnya yaitu 30 juta UMKM untuk dapat masuk ke pasar digital di tahun 2023. Ia menyebut, jumlah itu separuh dari total pelaku UMKM di Indonesia.

“Kalau misalnya separuhnya itu, di Jawa Tengah baru sekitar 5,4 persen dari pelaku UMKM yang menggunakan internet untuk digunakan bisnis. Untuk mencapai 50 persen memang cukup berat karena harus butuh 44,6 persen lagi,” katanya.

Kendati demikian, ia tetap optimistis, meskipun berat upaya membangun target yang sudah ditentukan. Target tersebut, menurutnya, adalah sebuah tantangan yang harus ditaklukkan.

Pelatihan demi pelatihan terus dilakukan pihaknya untuk mewujudkan euforia pasar digital dua tahun yang akan datang.

“Yang kita latih bukan pelaku UMKM langsung, tetapi para pendamping. Berdasarkan pengalaman, kalau langsung kepada pelaku UMKM, mereka tidak masuk,” tuturnya.

Dari pelatihan tersebut, satu pendamping dituntut untuk mendampingi 100 pelaku UMKM dalam waktu sekian bulan. Sebab, jika pelatihan langsung diberikan kepada pelaku UMKM, membutuhkan waktu cukup lama.

“Hasilnya agak lumayan, teman-teman pelaku UMKM agak masuk dengan sistem ini. Masing-masing start up e-commerce berbeda, makanya pendamping juga dituntut untuk dapat menguasai,” katanya.

Ia menjelaskan, ada sejumlah syarat masuk ke pasar digital yang harus diperhatikan oleh pelaku UMKM. Di antaranya, produk, kemasan, dan pemasaran.

“Satu di antara syarat untuk dapat menembus pasar digital yaitu kemasan produk. Kami sudah melakukan pelatihan kemasan secara langsung,” jelasnya.

Ia berpesan, pada zaman serba digital seperti saat ini, pelaku UMKM harus dapat menyesuaikan diri. Sebab, ketergantungan teknologi sudah menjadi hal wajar dalam perkembangan dunia bisnis.

“Saat ini eranya sudah masuk pada era digital, tidak ada alasan lagi untuk menolaknya. Kita dituntut untuk belajar menjalankan usaha digital,” tandasnya.(HS)

Share This

Stok Vaksin Masih Jadi Kendala Daerah

BMKG: Prediksi Musim Hujan Lebih Awal, Pemda Diimbau Segera Lakukan Aksi Mitigasi