Udan Salah Mongso, Biennale Hysteria Menanggapi Perubahan Iklim

Salah satu karya yang akan ditampilkan pada pameran seni bertajuk “Udan Salah Mongso” Kolektif Hysteria yang akan dibuka 1 Desember mendatang.

 

HALO SEMARANG – Peduli dengan perubahan ekosistem dan konstelasi dunia, Kolektif Hysteria menggelar pameran seni bertajuk “Udan Salah Mongso”, sebuah acara dua tahunan mengambil tempat khusus sebagai situs acaranya.

Disokong Galeri Nasional, tema ini diangkat dalam Penta Klabs III, yang sudah berlangsung sejak 2016 lalu.

Berbeda dengan acara sebelumnya, pameran Udan Salah Mongso dipamerkan melalui luar jaringan dan dalam jaringan. Delapan kampung di Kota Semarang dilibatkan dalam pameran virtual galeri https://galnasonline.id/ yang akan dibuka 1 Desember mendatang.

Pengunjung daring dapat melihat aneka art project yang berada di Randusari, Kemijen, Bustaman, Krapyak, Jatiwayang, Petemesan, Sendangguwo, dan Bandarharjo Kota Semarang, dalam tampilan kamera.

Selain memamerkan project baru dari seniman Alodia (Salatiga), Poharin (Malang), Isrol Triono (Yogyakarta), Arief Hadinata dan Satrio Sudibyo (Semarang), pengunjung juga bisa melihat karya-karya lain yang sudah dikurasi dari data dokumentasi Kolektif Hysteria sejak aktif di kampung sekitar 2013 lalu.

“Udan Salah Mongso dipilih sebagai tema atas respons kondisi ekosistem hari ini. Pandemi juga bagian dari ekses ketidakseimbangan alam dan manusia,” ujar A Khairudin sebagai kurator pameran, Minggu (22/11/2020).

Kurator yang juga dosen antropologi Undip dan biasa dipanggil Adin ini juga menambahkan, untuk pertama kalinya seniman Semarang menggarap mural setinggi 15-16 meter di rumah susun Bandarharjo. Ide ini tercetus sejak bertahun lalu, namun baru kali ini berhasil direalisasikan.

“Jika biasanya Penta Klabs mengambil tempat satu kampung saja, kali ini melibatkan jejaring kampung selama ini aktif berkegiatan bersama,” kata Adin.

Salah seorang seniman Satrio Sudibyo (27) yang berambisi menaklukkan dinding vertikal di Semarang, sejak awal antusias terlibat dalam program ini.

“Penggarapan dinding tinggi di Jakarta dan Bandung sudah biasa, tapi di Semarang hal ini baru pertama dan ternyata gampang-gampang susah,” ujarnya.

Karya Sudibyo sendiri berkolaborasi dengan Arief Hadinata dengan mengangkat visual relasi anak dan orang tua, dengan warna-warni cerah.

Dalam kondisi pandemi seperti ini, menurutnya selalu aktif dan berpikir positif, juga hubungan hangat dengan keluarga sangat membantu merawat kesehatan jiwa dan badan. Ide itulah yang mendasari karya tersebut.

Selain menggelar pameran virtual, Penta Klabs juga mengadakan simposium bekerja sama dengan PWK Unissula, dengan mengangkat isu-isu yang relevan.

Seperti Perempuan dan Pandemi, Teknologi untuk Manusia, Ketahanan Warga, Non Human Actor, dan Ruang Terbuka di Musim Pagebluk. Digawangi dosen senior Mila Karmilah, simposium online juga diharapkan mendapatkan sumbangsih gagasan dari para applicant.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.