in

Tunjukkan Budaya Bangsa, Dosen UIN Walisongo Teliti Batik Linggo

Proses workshop pembuatan Batik Linggo di Limbangan, Kabupaten Kendal.

 

HALO SEMARANG – Semenjak ditetapkan oleh UNESCO sebagai Indonesian Cultural Heritage, batik menjadi semakin menunjukkan eksistensinya sebagai identitas kultural Bangsa Indonesia.

Dasar itu mendorong Dosen Kimia Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melakukan penelitian tentang Batik Linggo khas Limbangan, Kabupaten Kendal dari sudut pandang sains ilmiah.

Menurutnya, selama ini batik hanya dikaji dari sudut seni, budaya dan ekonomi, namun tidak banyak yang mengkaji dari aspek sains ilmiah.

“Proses produksi Batik Linggo memuat banyak sekali kajian ilmiahnya, mulai dari pemilihan kain, pembuatan pewarna dari bahan alam sampai proses fiksasi. Sains tradisonal (indigenous science) dari masyarakat perlu dikuatkan dengan sains ilmiah,” ungkapnya, Rabu (22/9/2021).

Teguh menyampaikan, tujuan penelitiannya adalah untuk memperkuat budaya bangsa. Melalui penelitian ini diharapkan mampu menambah makna dari budaya bangsa, dalam hal ini Batik Linggo.

“Hal inilah yang perlu diungkap dan tersampaikan ke masyarakat supaya semakin bangga dan ikut melestarikan batik. Ini juga sebagai peran dari perguruan tinggi, khususnya UIN Walisongo Semarang, untuk melakukan revitalisasi kearifan lokal,” ucapnya.

Tidak hanya itu, hasil penelitiannya juga diseminasikan kepada mahasiswa dan guru kimia di Kabupaten Kendal melalui kegiatan workshop pembuatan Batik Linggo.

“Juga memberikan pengetahuan tentang karakteristik bahan yang digunakan berdasarkan sains ilmiah.  Harapannya dari kegiatan ini selain mempunyai keterampilan membuat batik, mahasiswa juga memperoleh pengetahuan tentang manfaat kimia untuk pembangunan berkelanjutan. Selain itu guru-guru kimia juga bisa menggunakan materi ini sebagai bahan untuk proses pembelajaran dengan berpendekatan kearifan lokal (etnosains),” paparnya

Pengelola sentra Batik Linggo, Zachrony menjelaskan, ide pembuatan Batik Linggo terinspirasi dari adanya peninggalan berupa reruntuhan candi yang ada di sekitar Desa Gonoharjo, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Sejak 2007 silam, dia menggunakan bahan yang didapatkan dari alam.

“Saya sangat senang jika ada pihak akademisi yang berkenan melakukan penelitian guna perkembangan Batik Linggo. Produksi ini juga diawali dari niatan untuk mengembangkan budaya, dan tentunya menggunakan bahan alam untuk menjaga lingkungan tetap sehat,” jelas pria yang akrab disapa Rony ini.(HS)

Share This

Bola Crossing Dan Konsentrasi Pemain Jadi Evaluasi Tim Pelatih PSIS

Pemkot Surakarta Sepakati Kerja Sama Pengembangan UMKM Dengan BJB