Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Tugu Soeharto Semarang, Tempat Kungkum Para “Pencari Berkah” di Bulan Suro

Tugu Soeharto Semarang.

 

MENELUSURI jejak sejarah Semarang memang tidak ada habisnya. Kota ini mempunyai banyak kisah yang menceritakan tentang sejarah Kota Semarang di masa silam. Satu dari ratusan tempat bersejarah yang ada di Semarang adalah Tugu Soeharto. Saat memasuki bulan Suro pada penanggalan Jawa seperti saat ini, tak sedikit yang ingat dengan Tugu Soeharto di Semarang ini.

Berada di Kelurahan Bendan Duwur, jalan untuk menuju Tugu Soeharto sedikit sulit, namun setelah tiba, halosemarang.id disambut dengan hembusan angin yang mengurai wajah. Memandangi Tugu Soeharto menjelang matahari terbenam menjadi pemandangan yang indah.
Bagaimana tidak, saat halosemarang.id menyambangi Tugu Soeharto yang berada di Jalan Tugu Suharto RT 6, RW 4 Kelurahan Bendan Duwur, Gajahmungkur ini, pada Senin (17/6/2019), gemercik aliran air sungai Banjirkanal Timur juga terdengar di antara gemuruh kendaraan yang melewati jembatan Tugusuharto yang ada di atasnya.

Di tempat yang ditandai dengan monumen setinggi sekitar 8 meter ini merupakan pertemuan antara Kaligarang dan Kali Kreo. Di sini, pada pergantian tahun baru Jawa, 1 Sura, orang-orang melakukan ritual kungkum atau ngalap berkah. Sebagian masyarakat memang mempercayai, dengan ritual kungkum pada malam 1 Sura ini senantiasa mendapatkan berkah dan keselamatan ke depannya serta akan dikabulkan keinginannya. Kepercayaan ini dinilai sebagai nilai spiritual yang terdapat di Tugu Suharto, meski sekarang banyak pula yang iku-ikutan melakukan prosesi ritual kungkum tanpa mengerti manfaat yang sesungguhnya.

Mereka yang datang tak hanya warga Semarang saja, tetapi juga warga luar kota. Selain sebagai tempat yang bersejarah, warga sekitar mempercayai bahwa orang-orang yang ritual kungkum di sungai yang mengalirkan aliran sumber air dari Ungaran ke muara laut untuk mendapatkan keberkahan tertentu.

Tugu Soeharto memang populer dikaitkan dengan ritual kungkum atau berendam di sungai saat malam menjelang tanggal 1 Muharram atau 1 Suro. Ritual ini mengacu pada apa yang pernah dilakukan mantan Presiden Soeharto pada saat dia masih berdinas militer di Jawa Tengah.

Dibangunnya Tugu Soeharto ini memiliki hubungan dengan sebuah peristiwa spiritual Presiden kedua RI, Soeharto.

Nama Tugu Soeharto bermula saat Presiden yang menjabat lebih dari 30 tahun di Indonesia ini kala masih berpangkat mayor dan bertugas di Semarang.

Menurut cerita, kala itu dalam masa perjuangan kemerdekaan RI secara utuh, Soeharto mencari inspirasi ke arah selatan kota yang saat itu masih berupa hutan belantara. Soeharto melompat ke sungai yang merupakan pertemuan dua arus sungai, yaitu dari Kali Kreo dan Kali Ungaran, dan kemudian menancapkan tongkat dan berendam di sana.

Dan di titik inilah kemudian dibangun monumen yang bernama Tugu Soeharto dan masyarakat yang percaya pada aliran kejawen Soeharto, ikut melanjutkan tradisi berendam atau kungkum di area tersebut.
Dari tulisan yang ada di prasasti, Tugu Soeharto dibangun tahun 1965 pada Jumat Legi.

Salah seorang sesepuh warga di sekitar tugu, Sukarno menjelaskan, sejarah Tugu Soeharto yang mulai dibangun fisiknya sekitar tahun 1970-an.

Setelah dibangun, banyak masyarakat yang melakukan ritual di kali tempur sambil siram jamas, mandi dengan keramas.

“Itu ceritanya pak Soeharto waktu dulu saat tempur di sini, pak Harto (Soeharto-red) kejebak lawan lalu berteduh di sebuah batu di situ (Tugu Soeharto-red). Dan pembangunan, sejak saya mulai berdomisili di sini pada tahun 1970 an, sudah mulai menggali tanah untuk dibangun fondasi Tugu Soeharto. Dan dibangun oleh warga sekitar dengan pemerintah Kota Semarang. Sedangkan setelah selesai pembangunannya, peresmian Tugu Soeharto dilakukan tahun 1973 yang jatuh pada hari Jumat Legi, oleh salah satu sesepuh ritual, Mbah Romo Diyat,” terangnya, Senin (17/6/2019).

Ditambahkan Sukarno, pembangunan tugu tersebut atas perintah langsung dari Presiden Soeharto. Sehingga pembangunannya dilanjutkan oleh pemerintah Kota Semarang dengan memberikan nama Tugu Soeharto. Dan sekarang dikenal dengan nama Tugu Soeharto.

“Proses pembangunanya tidak serta merta langsung jadi, karena awal digali untuk fondasi tugu, pernah diterjang banjir sehingga harus menggali ulang tanahnya. Dulu, titik pertemuan arus kali atau tempuran ya di situ (Tugu Soeharto-red). Tapi karena faktor alam, banjir sehingga titik pertemuan arus berubah-ubah semakin ke atas,” katanya.

Sukarno menambahkan, saat ini sudah ada perbaikan Tugu Soeharto dan di sekitar sungai. Seperti pembangunan talud sekeliling sungai pada tahun 2001-2002 lalu dan tangga menuju tugu tersebut. Kemudian, pembangunan jembatan baru pada tahun 2013 lalu, di atas sungai Kali Garang yang dulu, dikenal warga dengan jembatan besi bergoyang.

Soekarno pun berharap pemerintah kota lebih memperhatikan keberadaan tugu ini. Apalagi Tugu Soeharto memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata, khususnya wisata religi.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang