Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Tugu Muda Semarang, Monumen Mengenang Peristiwa Bersejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang

Monumen Tugu Muda Semarang.

SALAH satu tempat atau monumen bersejarah di Kota Semarang adalah Tugu Muda yang terletak di jantung Kota Semarang. Monumen ini terletak di kawasan yang berdekatan dengan bangunan bersejarah lain, yakni Lawang Sewu, Museum Mandala Bhakti, Gedung Pandanaran yang kini untuk kantor Pemkot Semarang. Di lokasi tersebut banyak merekam peristiwa penting selama lima hari pertempuran di Semarang, yang berlangsung pada 15 Oktober-19 Oktober 1945. Yang mana setiap tanggal 15 Oktober digelar rutin peringatan pertempuran Lima Hari di Kawasan Tugu Muda.

Posisi Tugu Muda sendiri, yaitu berada di pertemuan antara jalan protokol, seperti Jalan Pemuda, Jalan Imam Bonjol, dan Jalan Dr Sutomo, Mgr Soegijapranata serta Jalan Pandanaran.

Tugu setinggi 53 meter itu dibangun untuk mengenang peristiwa sejarah perjuangan pemuda Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan melawan tentata Jepang yang terkenal dengan peristiwa Pertempuran 5 Hari di Semarang. Dan sebagai bukti mereka kala itu dengan semangat berani mati mempertahankan kemerdekaan negara yang baru beberapa pekan di Proklamasikan di Jakarta.

Bangunan bersejarah yang berdiri tegak dan masih kokoh inilah, merupakan salah satu saksi bisu gugurnya pemuda dan pejuang Semarang putra terbaik bangsa kala itu. Sengitnya pertempuran di Kota Semarang dan keberanian para pejuang Semarang, sebagian tergambar dalam diorama yang diukir di bagian bawah Tugu Muda.

Salah satu pemicu terjadinya pertempuran Lima Hari di Semarang sendiri, terbunuhnya seorang tokoh bernama dr Kariadi, yang kini namanya diabadikan menjadi nama sebuah rumah sakit di Semarang. Kematian dr Kariadi terjadi saat dirinya akan memeriksa tandon air Wungkal di daerah Candi Lama, yang kini bernama reservoir Siranda yang kabarnya diracun oleh tentara Jepang. Hal ini membuat gelisah warga, sehingga pecahnya perang dari dua belah pihak.

Apalagi saat itu, ada 8 polisi istimewa yang menjaga tandon air tersebut, dan diserang tentara Jepang. Para polisi ini ditangkap, dilucuti, dan disiksa di Markas Ki Do Kutai, di Jatingaleh. Peristiwa ini memicu keberanian para pemuda Semarang yang bahu membahu bersama Tentara BKR melakukan serangan balasan, hingga meletus pertempuran yang lebih besar. Di mana Mayor Kido yang saat itu pimpinan Jepang memerintahkan pasukannya untuk menyerbu sampai pusat kota.

“Memang pada waktu itu, terjadi peperangan antara Laskar Republik dengan serdadu Jepang. Karena dulunya, Markas Ki Do Kutai, berada di Jatingaleh yang kini jadi Markas Arhanud. Para tentara Jepang bergerak dari sana turun ke bawah untuk menguasai Kota Semarang. Salah satunya lewat Tanah Putih dan Siranda. Dalam pertempuran Lima Hari di Semarang dari pihak Indonesia ada 2.000 jiwa yang meninggal dalam peristiwa tersebut, dan dari pihak Jepang sekitar 400 jiwa,” kata pengamat sejarah Kota Semarang, Rukardi, baru-baru ini.

Untuk mengenang terjadinya pertempuran itulah, kemudian pemerintah Indonesia membangun monumen Tugumuda, di Semarang.

Sedangkan untuk tahap pembangunan Tugu Muda sendiri, dilaksanakan pada 28 Oktober 1945, dan diprakarsasi Gubernur Jateng Mr Wongsonegoro. Wongsonegoro sekaligus menjadi tokoh yang meletakkan batu pertama pembangunan monumen ini di alun-alun Semarang, yaitu di sekitar wilayah Johar sekarang. Namun karena pada November 1945 meletus perang melawan sekutu dan Jepang, proyek ini terbengkalai.

Kemudian tahun 1949, Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI) memprakarsai pembangunannya kembali. Namun upaya ini pun gagal karena kesulitan dalam hal pendanaan.
Pembangunan baru berjalan lancar ketika pada 1951, Wali Kota Semarang Hadi Soebeno Sosro Werdoyo membentuk panitia pembangunan Tugumuda. Lokasi pun dipindah dari alun-alun ke lokasi sekarang.

Desain tugu dikerjakan oleh Salim, sedangkan relief pada bagian bawah digarap seniman Hendro. Batu-batu didatangkan dari Kaliurang dan Pakem Yogyakarta. Tanggal 10 November 1951 diletakkan batu pertama oleh Gubernur Jateng Boediono, dan pada tanggal 20 Mei 1953 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional Tugu Muda diresmikan oleh Presiden Soekarno.

Monumen Tugu Muda sempat mengalami beberapa penambahan, terutama pada kolam dan taman. Sehingga lebih asri dan cocok untuk berswafoto sekaligus menikmati pemandangan suasana Kota Lumpia. Untuk mendukung pelestarian bangunan bersejarah, kini kawasan Tugu Muda ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Penetapan itu berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2011-2031.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang