in

Tritisan Coffee & Tea Weleri, “Hidup Sekali, Nongki Yang Berarti”

Tritisan Coffee & Tea Weleri, menikmati kopi sembari memandang view tol.

 

HALO KENDAL – Berawal dari rasa ingin mengisi waktu luang dan berbuat lebih banyak untuk masyarakat sekitar, Tritisan Coffee and Tea (Tritisan CT) Weleri, didirikan dan sampai sekarang tidak terasa sudah berusia enam tahun menuju tahun ketujuh.

Owner dan Founder, Khafid Sirotudin mengatakan, nama Tritisan disematkan oleh Ratna Sholihah atau akrab disapa Nana, istri tercintanya, dengan mengusung tagline “Hidup Sekali, Nongki (nongkrong) yang Berarti” tersebut, memiliki beberapa keunikan.

Menurut Khafid, di tempatnya, para pecinta kopi akan disuguhkan dengan cita rasa kopi yang diolah secara handmade dan tidak instan.

“Jadi di warung kami, kopi diolah secara manual, tanpa menggunakan mesin pembuat kopi, sebagaimana banyak dilakukan warung kopi atau kafe lain,” ujarnya saat ditemui halosemarang.id, Senin malam (10/5/2021).

Saat ditanya, kenapa lokasinya berada di tengah kampung, tepatnya di Jalan Sambongan Lor nomor 69, RT 03 RW 01, Desa Sambongsari, Kecamatan Weleri, menurutnya, agar lebih menyatu dengan warga.

“Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan warga atau tetangga Tritisan CT yang luar biasa sejak awal berdiri hingga kini, menjadikan Tritisan CT bisa bertahan hingga sekarang,” ungkap Khafid.

Ia pun menegaskan, di warung yang ia dirikan sejak 27 Februari 2015, tidak menjual minuman yang bersoda apalagi beralkohol.

“Seluruh manajemen kami memiliki sesanti. Sekuat-kuatnya pagar tembok, masih lebih kuat pagar mangkok,” imbuh mantan Ketua Kadin Kabupaten Kendal 2005-2015 tersebut.

Ditambahkan Tritisan Cofee and Tea lebih mengedepankan menu minuman tradisional.

“Konsepnya mengusung minuman kultural Jawa. Seperti kopi, teh, jahe empon-empon dan lebih memilih daun serai daripada daun mint,” terangnya.

Selain itu Tritisan CT, memiliki ciri khas yang menurutnya baru pertama kali di Indonesia. Di mana ada racikan kopi organik yang diperkaya dengan Propolis Klanceng.

“Jadi saya melakukan trial selama 6 bulan lebih. Racikan kopi Arabica asal Kenjuran dan Robusta asal Singorojo Kendal, kami perkaya dengan Propolis Klenceng, sehingga membuat cita rasa sepet, sebagaimana teh muncul,” kata Khafid.

Bagi penikmat kopi, lebih mantap apabila ditambahkan Madu Klanceng, sehingga rasa kecutnya menguat.

Selain bisa menikmati Sun-set, pengunjung bisa melihat view sawah, gunung mas dan jalan tol Batang- Semarang. Pengunjung juga bisa mendengarkan live music accoustic yang digelar setiap Sabtu malam Minggu.

“Alhamdulillah Tritisan CT ini, sejak kelahirannya mampu menginspirasi banyak orang untuk membuka cafe atau warung kopi. Sedikitnya 25-an warung kop dan cafe berdiri di Weleri, Rowosari, Ringinarum, Kabupaten Kendal dan Kecamatan Gringsing, Batang setelah menjadi pelanggan di Tritisan CT,” ungkapnya.

Bahkan, lanjut Khafid, sebagian pemilik cafe/warung kopi tersebut masih sering datang ke Tritisan CT sebagai pelanggan, untuk sekadar ngobrol dan sharing usaha kuliner.

“Rasanya bahagia sekali apabila usaha kita mampu menginspirasi banyak orang untuk mengikuti,” imbuhnya.

Khafid pun mengaku, meski belum bisa membuat kaya, namun setidaknya Tritisan CT ini bisa menghidupi lima orang karyawannya, yang bekerja sebagai chef, barista, kasir dan servicent.

“Belum lagi beberapa supplyer bahan baku, sampai tukang parkir dari pemuda kampung setempat. Yang penting berkah dan manfaat untuk orang banyak,” ucapnya.

Sebagai penutup perbincangan, Khafid pun mengungkapkan, banyak sebenarnya potensi Kabupaten Kendal yang bisa digarap. Namun menurutnya harus ada perhatian nyata dan fasilitasi dari pemerintah daerah setempat.

“Jadi produk lokal Kabupaten Kendal ini butuh sentuhan, motivasi, pendampingan sebagai pengungkit UMKM dalam mengembangkan potensi produk kita. Sehingga produk khas Kendal akan lebih dikenal dan bisa menjadi ikon lokal. Think Global, Act Local,” pungkasnya.(HS)

Bikin Konten ala Wasa Wirman Modal Smartphone Sejutaan? Bisa Banget!

Lihat Rumah Angker Untuk Karantina Pemudik, Ganjar: Medheni!