in

Trisobo Park Tidak Beroperasi Akibat Pandemi, Warga Sekitar Kehilangan Pekerjaan

Objek wisata Trisobo Park di Desa Trisobo Kecamatan Boja yang ditutup untuk umum, Kamis (17/2/2022)

HALO KENDAL – Desa Trisobo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, kini memiliki wahana wisata baru yang bernama Trisobo Park. Objek wisata ini letaknya tak jauh dari Pasar Karetan Boja, yaitu di sisi sebelah utara.

Menempati lahan 10 hektare, Trisobo Park ini konsepnya dibuat untuk wisata keluarga. Meski belum 100 persen rampung pengerjaannya, namun obyek ini mampu menawarkan wisata yang tak kalah dengan obyek wisata lainnya.

Tapi seiring dengan kondisi meningkatnya angka kasus Covid-19 di Kabupaten Kendal, pemilik Trisobo Park sejak Januari hingga sekarang menonaktifkan sementara waktu operasional Trisobo Park untuk umum.

Hal tersebut pun membuat warga Desa Trisobo yang kesehariannya menggantungkan hidup di Trisobo Park tidak ada lagi penghasilan.

Sekretaris Desa Trisobo, Joko Sudrajat mengungkapkan, sebenarnya warga sangat terbantu dengan dibangunnya wahana wisata Trisobo Park yang dikelola bekerja sama dengan Pemerintah Desa Trisobo.

Menurutnya, di samping warganya bisa ikut menjadi karyawan atau sumber daya manusianya (SDM), para pelaku UMKM di desanya juga bisa ikut menjual produk usaha mereka di wahana tersebut.

“Trisobo Park yang dibangun sejak empat tahun yang lalu ini, menyediakan area lapak atau ruko untuk jualan produk UMKM warga sekitar,”  ungkap Joko yang akrab disapa Mas Carik kepada halosemarang.id, saat menunjukkan suasana Trisobo Park, Kamis (17/2/2022).

Dijelaskan, semenjak meningkatnya kasus Covid-19 ini, membuat pemilik Trisobo Park yang bermukim di Jakarta, memutuskan untuk menghentikan sementara operasional sampai batas waktu yang belum ditentukan.

“Ya, untuk sementara pemilik meminta operasional Trisobo Park dihentikan dulu, sambil menunggu kondisi Covid-19 ini. Beliau tidak ingin muncul klaster yang timbul akibat dibukanya objek wisatanya ini,” jelas Joko.

Meski tidak beroperasi, namun Trisobo Park masih melayani dan menerima tamu untuk kegiatan rombongan. Seperti rombongan karyawan yang akan meeting atau rombongan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

“Kalau untuk umum sementara memang tidak dibuka. Namun saat ini, Trisobo Park hanya melayani rombongan untuk meeting atau kegiatan seperti makrab mahasiswa saja. Jadi area ini seperti diboking sewa rombongan,” imbuh Joko.

Dengan tidak beroperasinya objek wisata ini, lanjutnya, otomatis berdampak kepada ekonomi warga sekitar yang selama ini menggantungkan hidup dari Trisobo Park.

“Ya otomatis terdampak. Karena warga yang biasa bekerja sebagai tenaga kebersihan, yang setiap hari bersih-bersih di sini dan mendapat upah,  sekarang hanya seminggu dua kali kerjanya. Itupun kadang tidak,” lanjut Joko.

Hal tersebut menurutnya, juga dirasakan warga yang bertugas sebagai keamanan. Mereka semua sudah diputus kontrak kerjanya. Belum lagi para pelaku UMKM juga tidak ada pemasukan karena sama sekali tidak ada pengunjung.

Joko berharap, pandemi ini segera berakhir dan Trisobo Park kembali beroperasi. Supaya warga bisa kembali bekerja.

Selain kehadiran Trisobo Park bisa mengangkat UMKM di desanya, menurutnya sekaligus juga mengangkat nama Desa Trisobo.

“Kami berharap pandemi segera berakhir. Supaya ekonomi warga kembali pulih. Selain itu para pelaku UMKM desa kami juga ada hasil,” harap Joko.

Saat beroperasi, imbuhnya, yang menjadi daya tarik dari objek wisata Trisibo Park adalah wahana kolam renang dengan waterboomnya.

Menurut Joko, kolam renang dengan bentuk memanjang ini, memiliki kedalaman lebih dari satu meter. Jadi anak-anak memang tidak direkomendasikan masuk area ini.

“Namun tak perlu khawatir, karena objek wisata ini menyediakan wahana bermain untuk anak-anak yakni Waterboom. Wahana ini tentu akan lebih menarik perhatian, karena bisa bermain air di area kolam,” ujarnya.

Selain itu, untuk memanjakan para pengunjung, beberapa kendaraan motor ATV juga disediakan pengelola untuk disewakan kepada pengunjung yang ingin berkeliling menikmati suasana area Trisobo Park.

Untuk menjajal kendaraan bermotor roda empat ini, pengunjung cukup merogoh kocek sebesar Rp 30 ribu. Dengan biaya tersebut pengunjung bisa menjajal ATV untuk dua putaran area Trisobo Park.

“Pengunjunjung pun tidak perlu khawatir, karena di wahana ATV ada petugas yang akan memandu sekaligus mengawasi,” jelas Joko.

Selain berbagai wahana diatas, Trisobo Park juga telah dilengkapi dengan fasilitas aula, mobil tua, gazebo, dan penjaja makanan dengan harga terjangkau.

“Para pengunjung juga bisa menikmati aneka jajanan dan hidangan secara lesehan di bawah pohon yang rindang, yang banyak terdapat di Trisobo Park,” papar Joko.

Sementara itu, Koordinator UMKM di Trisobo Park, Murbiyatun mengungkapkan, dirinya dan para warga yang bekerja sebagai karyawan, berharap agar objek wisata ini bisa kembali dibuka untuk umum.

“Karena banyak warga yang menggantungkan hidup dari Trisobo Park sebagai karyawan. Yakni di bagian masak, kemudian bagian bersih-bersih dan juga bagian perawatan taman dan bangunan,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Murbiyatun, para pelaku UMKM, termasuk dirinya juga sangat terdampak dengan tidak beroperasinya objek wisata ini.

“Paling produk kami bisa laku, kalau dipadukan dengan pemesanan konsumsi, baik makanan maupun minuman. Itupun kalau pas ada rombongan, yang belum tentu ada,” pungkasnya. (HS-06).

Bupati Kendal akan Bantu Korban Puting Beliung di Ngabean

Hadapi Meningkatnya Covid-19 di Kendal, Satgas Jogo Tonggo Kembali Dihidupkan