in

Tradisi Unik Itu Bernama Gebyuran Bustaman

Warga saling serang menggunakan air, perang air istilah penduduk setempat, Minggu (28/4/2019).

 

AROMA khas kambing menyeruak memenuhi udara. Dari ujung gang, sampai jalan- jalan sempit, nampak keriuhan warga mewarnai kampung yang dikenal dengan kampung gulai kambing ini, Minggu (28/4/2019). Seratusan warga saling serang di kampung yang padat penduduknya itu. Namun serangan itu menggunakan air, perang air istilah penduduk setempat.

Kampung Bustaman memang mempunyai tradisi unik untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, yaitu dengan tradisi gebyuran. Warga rela berbasah-basah di sepanjang jalan kampung yang lebarnya hanya 3 meter itu.

Diawali dengan tarian dan doa dari sesepuh, warga yang telah bersiap dengan gayung, memulai saling gebyur atau mengguyur. Tidak hanya anak-anak, remaja dan orang tua ikut saling lempar plastik berisi air, sehingga mereka basah kuyub. Kemeriahan tradisi gebyuran ini dimulai sejak azan Asar hingga Magrib.

Salah satu tokoh warga Bustaman, Hari Bustaman mengatakan, tradisi Gebyuran Bustaman merupakan simbol untuk membersihkan dari segala kotoran menjelang puasa.

“Sebelum acara dimulai, tubuh sengaja kami kotori, dicoreng-coreng pakai bedak. Selanjutnya beramai-ramai berbasa-basah sampai kuyup,” katanya.

Berdasar catatan Hari, tradisi tersebut diadakan warga sejak puluhan tahun silam. Itu merupakan tradisi yang ditinggalkan oleh Kiai Bustaman, seorang tokoh agama yang meninggalkan banyak jejak budaya Islam di Kota Semarang pada zaman kolonial Belanda.

Sekitar 300 warga dari RT 05/III Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan mengikuti acara tersebut. “Kami ingin melestarikan tradisi yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun ini,” kata Hari.

Seusai acara, pengurus kampung setempat lalu mengajak warganya menyantap nasi gudangan di salah satu rumah milik warga.

“Yang tubuhnya basah kena air tidak boleh marah karena habis itu kami mengajak mereka makan nasi gudangan bareng di sini untuk mempererat hubungan antarwarga,” kata Hari.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, bahwa tradisi Gebyuran Bustaman merupakan salah satu ikon Kota Semarang dalam menyambut datangnya Ramadhan. “Kami akan melestarikan tradisi ini, dan menjadikan sebagai salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung di Kota Semarang,” katanya.

Sementara Adyn Hysteria, selaku direktur Komunitas Kolektif Hysteria mengatakan, selain kegiatan tradisi gebyuran, Hysteria bersama warga juga mengagendakan kegiatan Tengok Bustaman IV. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari agenda dua tahunan Tengok Bustaman I sampai III sejak tahun 2013. Ada banyak karya seni peninggalan yang masih terjaga, dan atau dimodifikasi oleh warga kampung di sana-sini. Mural di dinding-dinding kampung, Wayang Gaga yang tergantung, hingga komik strip yang mampu mengundang penasaran hingga gelak tawa pengunjung.

Tengok Bustaman IV merupakan hasil dari kerja keras kolektif komunitas Hysteria dan warga kampung. Dengan menjunjung frasa Bustaman Untuk Dunia, Hysteria mencoba menerjemahkan ulang kontribusi figur Kai Bustam beserta keturunannya yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi hidup dan kehidupan Kampung Bustaman. Dalam hal ini, direspon dengan pendayagunaan kembali bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dalam wujud galeri seni.

“Tengok Bustaman IV menjadi respons isu-isu kampung kota dalam bentuk artistik dengan menggandeng banyak seniman dan para urbanis. Sebagai usahanya, seniman-seniman yang terlibat akan mengangkat dan memperdayakan bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) sebagai ruang publik yang sudah lama ditinggalkan dan diabaikan. Pemberdayaan dan pemanfaatan ini berupa pembuatan galeri seni yang artistik dan estetik sekaligus interaktif bagi partisipasi publik serta ikonik sebagai sebuah ruang yang dapat mengakomodasi ekpresi publik,” kata Adyn.

Agenda ini melibatkan sekurang-kurangnya sepuluh seniman (baik grup maupun individu), band, serta muralis warga dengan didukung pula street perfomer artis yang merespon selasar jalan depan RPH sebagai sebuah panggung ekspresi. Seniman yang terlibat di antaranya Deny Denso, Hasrul (jakarta), Kolase Semauku, Five Miles Stereo.

Arsita Iswardhani (Teater Garasi-Yogyakarta), Pop Corn (Shalihah Ramadhanita-Surabaya), Resto Samkru, Gracia Tobing (Bandung), Propagandasmu (Magelang), Rizka Ainur R, Gump n Hell, Tesla Manaf (Bandung), Sore Tenggelam, Ok Karaoke, serta Tridhatu. Mereka telah mempersiapkan diri selama satu minggu di bawah arahan Iqbal Al Ghofani selaku kurator, dan Syaifudin Iqbal selaku ketua panitia.(HS)

Malam Ini Malam Terakhir Kuliner Pinggir Kali Banjirkanal Barat

Jelang Bergulirnya Kompetisi, PSIS Coret Fauzan Jamal