in

Tradisi “Nyadran” Di Rowosari Kendal Digelar Sederhana, Hanya Diikuti Warga Setempat

Tradisi Sedekah Laut atau dikenal dengan sebutan Nyadran di Dukuh Tawang, Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, Jumat (27/8/2021).

 

HALO KENDAL – Tradisi Sedekah Laut atau dikenal dengan sebutan Nyadran banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya juga dilakukan masyarakat pesisir Dukuh Tawang, Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Jumat (27/8/2021).

Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat nelayan Kendal setiap bulan Syuro sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil laut yang melimpah.

Sebelum ada pandemi, para nelayan bersama masyarakat mengadakan ritual Sadranan dengan meriah. Seluruh nelayan menghias kapal-kapal yang berisi sesaji, antara lain kepala kerbau, aneka jajan pasar, wayang Dewi Sri dan Pandawa Lima, aneka mainan anak-anak.

Selain larung sesaji, sebagai rangkaian acara juga diselenggarakan ritual pementasan wayang kulit dan berbagai kegiatan lomba olahraga, kesenian, dan kulirner ikan hasil tangkapan nelayan.

Namun karena masih masa pandemi dan PPKM, maka acara Nyadran di Tawang, Desa Gempolsewu, hanya diikuti warga atau nelayan setempat.

Meski digelar secara sederhana, namun masyarakat setempat antusias mengikuti ritual dengan harapan hasil tangkapan laut setahun ke depan melimpah.

Melalui beberapa prosesi dan do’a selamatan kemudian dibawa ketengah laut untuk dilarung yang diawali pelarungan kepala sapi oleh seorang tokoh masyarakat. Ritual ini juga diikuti masyarakat setempat dan para pengunjung dari berbagai daerah yang sering disebut “lomban”.

Pelarungan kepala sapi atau biasanya kerbau mengandung filosofi sebagai upaya untuk membuang kebodohan, karena kerbau atau sapi dianggap sebagai simbol kebodohan.

Isi perahu yang telah dilarung akan menjadi rebutan anak-anak nelayan, dengan harapan mendapat barokah dari Allah SWT melalui barang-barang sesaji yang dilarung tersebut.

Menurut penuturan tokoh masyarakat Desa Gempolsewu, Pudjiharto (60), acara Nyadran dua tahun terakhir berbeda dengan sebelumnya.
Hal ini dikarenakan masih dalam kondisi pandemi dan pembatasan kegiatan masyarakat.

Pria paruh baya yang akrab disapa Mbah Gempol juga menyebut, untuk tahun ini tidak ada ritual penyembelihan kerbau yang kepalanya dilarung kemudian dagingnya dibagikan kepada warga. Warga hanya menyembelih seekor sapi kecil sebagai pengganti kerbau.

“Nyadran tahun ini tidak seperti sebelum ada pandemi. Tahun ini diadakan secara sederhana. Hanya menggelar tasyakuran dan melarung sesaji kepala sapi yang diikuti warga setempat,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Kusmawati (44) warga setempat, menurutnya sudah dua tahun ini nyadran tanpa ada acara hingar bingar seperti sebelum ada pandemi dan PPKM.

“Karena tradisi turun temurun, Nyadran di desa kami tetap digelar secara sederhana. Tidak ada hingar bingar perayaan sampai pentas wayang. Hanya slametan (syukuran) dan melarung sesajian saja,” ujarnya.(HS)

Share This

Dinkes: Sasaran Vaksin untuk Disabilitas dan ODGJ Total 6 Ribu Orang

Raih Penghargaan Trisakti Tourism Award 2021, Desa Wisata Kampung Jawi Beri Motivasi Desa Wisata Lain