in

Tradisi Ganti Luwur di Makam Kampung Melayu Semarang untuk Kenang Sosok Waliyullah Habib Muhammad Ba’abud

Suasana peringatan Haul dan Ganti Luwur salah satu Waliyullah di Semarang, Habib Muhammad Ba'abud dan Syarifah Alwiyyah di Musala Nurul Karomah, Kampung Kalicilik, Dadapsari, Semarang Utara, Senin (1/4/2024) malam.

TRADISI peringatan Haul dan Ganti Luwur di Makam Habib Muhammad Ba’abud dan Syarifah Alwiyyah digelar di Musala Nurul Karomah, berada di wilayah Kampung Melayu, yakni Kampung Kalicilik, Dadapsari, Semarang Utara diikuti ratusan orang, pada Senin (1/4/2024) malam.

Habib Rifki Shahab, selaku pengelola Musala Nurul Karomah menjelaskan, bahwa peringatan Haul dan Ganti Luwur yang diadakan pada Senin (1/4/2024) malam, atau ba’da Salat Tarawih untuk mengenang sosok waliyullah di Semarang yaitu Habib Muhammad Ba’abud dan Syarifah Alwiyyah. Acara dimulai pukul 20.30 WIB sampai selesai.

“Peringatan haul Habib Muhammad Ba’abud diadakan setiap tahun sekali, yang diisi dengan khataman Alquran, pembacaan tahlil, maulid dan dzikir-dzikir ibadah sunah yang dilakukan menjelang akhir bulan Ramadan. Sedangkan tradisi ganti luwur atau penutup makam sendiri, ini baru dilaksanakan yang keempat kalinya,” jelasnya, saat dihubungi Halosemarang, Selasa (2/4/2024).

Kegiatan tradisi ganti luwur makam, kata dia, merupakan inisiatif dari pengelola makam, bertujuan supaya orang-orang mau mengenang dan menghargai sosok sesepuh di wilayah tersebut serta mengingatkan tentang kematian.

“Beliau kan sesepuh di wilayah ini, jadi tradisi ini untuk nguri-nguri dari generasi muda agar ikut ngrumat makam dengan cara ditata dengan baik, dan penutupnya juga diganti dengan yang baru,” katanya.

Suasana peringatan haul dan penggantian luwur makam nampak berjalan dengan khidmat dan khusyuk. Adapun acara ini dihadiri dari berbagai kalangan, mulai dari penduduk setempat, jemaah musala, jemaah torikot qodiriah, dan beberapa murid Habib Umar Al Muthohar.

Ditambahkan Habib Rifki, bahwa kegiatan ini sengaja dikemas agak berbeda, dan materi yang disampaikan pun dibuat ringan seperti yang disampaikan dari penceramah agar bisa diterima oleh masyarakat umum.

“Sehingga bisa berdampak kepada anak-anak muda setempat untuk merubah kebiasaan negatif di wilayah tersebut menjadi kegiatan yang positif. Semoga juga bisa mengena kepada anak muda yang dulunya masih punya kebiasaan seperti nongkrong di jalan, dan sering tawuran, jadi lebih baik lagi dan bernilai yang positif,” paparnya.

Dijelaskan Habib Rifki, pihaknya terbuka jika dari pemerintah Kota Semarang ingin membantu dan mendukung acara tersebut untuk menjadi jujugan wisata religi di Kota Semarang.

Adapun, sekilas tentang riwayat hidup Habib Muhammad Ba’abud dikenal sebagai sosok waliyullah yang konon hidup di tahun 1700 M di wilayah Kampung Kalicilik Semarang bagian Utara tersebut. Dan dilihat dari sejarah kerajaan di Jawa pada tahun 1700an masih masa di bawah kekuasaan Mataram Islam yang berpusat di Jawa Tengah bagian Selatan.

“Salah satu karomah dari sosok waliyullah, Habib Muhammad Ba’abud, yakni suka meludahi orang lain. Namun, ludahnya sangat manjur. Pernah dalam suatu cerita, beliau berkeliling dan meludahi banyak orang. Kalau diludahinya bagian kaki maka orang itu akan menjadi alim. Sedangkan jika meludahi dipunggung maka dipastikan orang tersebut tidak akan pernah taubat sampai akhir hayatnya,” pungkasnya.(HS)

Semarang Jadi Kota IHK dengan Inflasi Terendah di Jateng

Gelar Ramp Check, Dishub Kota Semarang: Ada 12 Bus Angkutan Umum Ditilang