in

Tingkatkan Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Petani, Dispertan Kendal Gelar Pelatihan Budidaya Kopi

Tingkatkan Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Petani, Dispertan Kendal Gelar Pelatihan Budidaya Kopi

HALO KENDAL – Dalam rangka pengembangan kapasitas kelembagaan petani, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten (Dispertan) Kendal, menggelar pelatihan budidaya kopi di salah satu agrowisata di Kendal, Rabu-Kamis (23-24/11/2022).

Acara yang diikuti 30 petani kopi dari daerah Sukorejo, Plantungan, Patean, Pageruyung, Singorojo, Boja dan Limbangan, dengan menghadirkan narasumber Prof Sri Mulato, dari Coffee dan Cocoa Training Center Surakarta.

Kepala Dispertan Kendal, Pandu Rapriat Rogojati mengatakan, tujuan dilaksanakannya pelatihan ini, untuk meningkatkan keterampilan dan wawasan petani kopi Kabupaten Kendal.

Melalui kegiatan pelatihan budidaya kopi, diharapkan dapat memberikan wawasan kepada para petani, supaya tanaman kopi yang dibudidayakan dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal.

“Kami berharap petani di Kabupaten Kendal bisa lebih mengetahui karakter dari masing-masing produk kopi dan bermanfaat untuk pengembangan dan pengelolaan kopi kedepannya,” ujar Pandu, Rabu (23/11/2022).

Selain pemberian materi, lanjutnya, narasumber juga akan melaksanakan praktek langsung uji cita rasa.

“Harapannya kopi kendal dapat dikenal karakteristik cita rasanya dan mempunyai ciri khas yang dapat ditonjolkan,” ungkap Pandu.

Dirinya juga menjelaskan, prospek Komoditas kopi di Kendal menjadi salah satu potensi ekonomi yang luar biasa bagi tiap daerah, termasuk bagi Kabupaten Kendal.

“Sebagai salah satu daerah penghasil kopi, Kendal memiliki area perkebunan rakyat untuk komoditas kopi arabika dan robusta yang berada di wilayah pegunungan bagian atas,” jelas Pandu.

Dirinya juga memaparkan, dengan data luas area dan produksi komoditas kopi di Kendal, berdasarkan data tahun 2021, untuk jenis Arabika, tanaman yang belum menghasilkan seluas 76,53 hektare, sedangkan tanaman yang menghasilkan seluas 97,27 hektare. Dengan jumlah produksi 88,86 ton atau rata-rata 913,54 kilogram per hektare

“Sementara untuk jenis Robusta, tanaman yang belum menghasilkan seluas 326,31 hektare, sedangkan tanaman yang menghasilkan seluas 2.475,87 hektare. Dengan jumlah produksi 1.717,36 ton atau rata-rata 696,52 kilogram per hektare,” papar Pandu.

Sementara itu, Prof Sri Mulato dalam materinya mengungkapkan, saat ini, produktivias kopi di tingkat petani umumnya mencapai 600 kilogram per hektare. Menurutnya, jumlah produktivitas ini masih bisa ditingkatkan menjadi dua ton per hektare.

“Kemampuan produksi tersebut masih punya kemungkinan untuk dinaikan lebih besar lagi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kopi dalam rangka perbaikan hasil kopi,” ungkapnya.

Sementara faktor-faktor yang menentukan quantitas dan qualitas dari kopi menurut Sri Mulato adalah, bibit yang unggul, ekosistem yang tepat, pemeliharaan yang baik dan opulasi tanaman kopi yang sesuai.

Dijelaskan, populasi tanam, jika mengacu ke standar yang umum, adalah 1.500 pohon per hektare. Akan tetapi jika tanah dan iklim yang bagus, maka populasi dapat ditambah menjadi 2.000 pohon per hektare.

“Pengalaman budidaya kopi di Vietnam menunjukkan bahwa populasi 3.000-3.500 pohon per hektare. Akan tetapi, sangat penting untuk dipahami bahwa semakin besar populasi, maka semakin besar pula nutrisi tanah yang harus dipenuhi. Demikian juga dengan perawatan akan semakin extra,” jelas Sri Mulato.

Secara ekonomis, lanjutnya, pertumbuhan dan produksi tanaman kopi sangat tergantung pada atau dipengaruhi oleh keadaan iklim dan tanah.

Ia juga menyebut, kebutuhan pokok lainnya yang tidak dapat diabaikan adalah mencari bibit unggul yang produksinya tinggi dan tahan terhadap hama dan penyakit.

Setelah persyaratan tersebut dapat dipenuhi, lanjut Sri Mulato, suatu hal yang juga penting adalah pemeliharaan, seperti, pemupukan, pemangkasan, pohon peneduh, dan pemberantasan hama dan penyakit.

Iklim yang cocok untuk tanaman kopi Arabika, garis Lintang 6°-90° LU sampai 24° LS, tinggi tempat 1.250 sampai dengan 1.850 mdpl, curah hujan 1.500 sampai dengan 2.500 mm per tahun, bulan kering (curah hujan< 60 mm/bulan) 1-3 bulan. 5.Suhu udara rata-rata 17°-21° Celcius.

Sedangkan persyaratan iklim Kopi Robusta, garis lintang 20° LS sampai 20° LU, tinggi tempat 300 s/d 1.500 mdpl, ulan kering (curah hujan< 60 mm/bulan) 1 -3 bulan, suhu udara rata-rata 21-24 Celcius.

Ditegaskan, pohon tanaman kopi tidak tahan terhadap goncangan angin kencang, lebih lebih di musim kemarau. Karena angin itu mempertinggi penguapan air pada permukaan tanah perkebunan.

“Selain mempertinggi penguapan, angin dapat juga mematahkan dan merebahkan pohon pelindung yang tinggi, sehingga merusakkan tanaman di bawahnya,” tandas Sri Mulato. (HS-06)

Kepala Dispertan Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, saat meninjau roasting kopi, di sela-sela acara pelatihan budidaya kopi, di salah satu agrowisata di Kendal, Rabu (23/11/2022)

Respon Gempa Cianjur, PMI Kirim Personel dan Bantuan

BNPB Fokuskan Pencarian Korban Gempa Cianjur