in

Tim Pakar Universitas PBB Sebut Banyak Bencana Bisa Punya Akar Masalah yang Sama

Angin kencang dan suhu tinggi telah menyebabkan kebakaran hutan menyebar ke seluruh Athena di Yunani. (Foto : news.un.org)

 

HALO SEMARANG – Bencana di berbagai belahan dunia, yang semula seakan-akan tidak berhubungan, ternyata bisa mempunyai akar masalah, sekaligus solusi yang sama.

Hal itu terungkap dalam Laporan Interconnected Disaster Risk terbaru, yang dikeluarkan para pakar di Institut Lingkungan dan Keamanan Manusia Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UN University Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS).

Dalam laporan itu disebutkan, berbagai bencana alam besar di sejumlah negara dalam dua tahun terakhir, telah mengakibatkan sekitar 10.000 orang meninggal dan kerugian diperkirakan mencapai 280 juta dollar Amerika Serikat atau lebih dari Rp 4,1 triliun di seluruh dunia.

Beberapa bencana itu di antaranya, rekor gelombang panas di British Columbia, kebakaran hutan di Mediterania, banjir di Nigeria, dan kekeringan di Taiwan.

“Bencana yang terjadi di belahan dunia yang sama sekali berbeda, pada awalnya tampak tidak berhubungan satu sama lain. Tetapi ketika Anda mulai menganalisisnya secara lebih rinci, dengan cepat menjadi jelas, bahwa mereka disebabkan oleh hal yang sama,” kata Dr Zita Sebesvari, penulis utama laporan itu, sekaligus Wakil Direktur UNU-EHS, seperti dirilis news.un.org.

Menurut Zita, penyebab yang sama tersebut, antara lain emisi gas rumah kaca dan pemasan global. Selain itu juga kecenderungan manusia, untuk mengeksploitasi sumber-sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.

Dalam penelitian mereka, tim pakar PBB tersebut, mendapati adanya kaitan antara peristiwa bencana, dengan penyebab-penyebab yang serupa.

Misalnya, penggundulan hutan menyebabkan erosi tanah, yang pada gilirannya membuat tanah sangat rentan terhadap tanah longsor, kekeringan, dan badai pasir.

Penyelidikan yang lebih dalam, menunjukkan bahwa pemicu bencana, dibentuk oleh akar penyebab bersama yang bersifat lebih sistemik, seperti melalui sistem ekonomi dan politik.

Deforestasi atau penggundulan hutan, dapat terjadi karena kepentingan ekonomi, ditempatkan di atas kepentingan untuk melestarikan lingkungan.

Akar penyebab umum lainnya, termasuk pembangunan yang tidak merata, adanya peluang mata pencaharian, emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia, dan warisan kolonialisme.

Akar penyebab seperti inilah yang dapat ditemukan dalam bencana di seluruh dunia.

Koneksi tidak berhenti pada akar penyebab, tetapi juga mengenai siapa dan apa yang paling berisiko atau kelompok rentan. Mereka termasuk penduduk dan ekosistem alam. , terus menjadi pihak yang paling terpukul oleh bencana.

Namun demikian, satu jenis solusi, dapat pula diterapkan dalam beberapa konteks untuk mengurangi dampak bencana di berbagai belahan dunia.

Selain itu,, ada beberapa solusi untuk mengatasi satu jenis bencana dan solusi tersebut paling ampuh jika diterapkan dalam kombinasi satu sama lain.

Sebagai contoh adalah solusi yang disebut “biarkan alam bekerja”. Solusi ini mengacu pada kekuatan alam, untuk mencegah risiko dan menghindari bencana.

Solusi semacam ini, seperti pembakaran hutan di tertentu, dapat mengurangi risiko kebakaran lebih besar di Mediterania.

Demikian pula memulihkan kondisi sungai dan drainase perkotaan, dapat mengurangi dampak banjir seperti yang melanda New York setelah Badai Ida.

Atau berinvestasi dalam meningkatkan sistem peringatan dini, dapat meningkatkan prediksi dan komunikasi risiko, sebelum bencana terjadi.

Tiga peristiwa yang dianalisis dalam laporan tersebut, yakni gelombang panas British Columbia, gunung berapi dan tsunami Tonga, dan banjir Lagos di Nigeria, semuanya menyebutkan perlunya sistem peringatan dini untuk mengurangi korban jiwa.

“Jika kita tidak ingin bencana yang kita alami saat ini menjadi kenormalan baru, kita perlu menyadari bahwa bencana tersebut saling terkait, demikian pula solusinya,” kata penulis utama Dr Jack O’Connor.

O’Connor mengatakan pihaknya memiliki solusi yang tepat, untuk mencegah dan mengelola bahaya dengan lebih baik.

“Tetapi kami perlu segera berinvestasi dalam meningkatkannya dan mengembangkan pemahaman yang lebih baik, tentang bagaimana mereka dapat bekerja dalam kombinasi satu sama lain,” kata dia.

Namun demikian para peneliti juga mengakui, solusi yang harus diambil, tidak selalu menyenangkan semua orang.

Hal ini karena ada sebagian pihak yang harus berbagi sumber daya mereka secara lebih luas, dibanding yang mereka lakukan saat ini.

Solusinya pun tidak terbatas pada pemerintah, pembuat kebijakan, atau sektor swasta, melainkan juga sampai ke tingkat individu. (HS-08)

Gendang Ring Petir Sukoharjo, Hadiah Ganjar untuk Farel Prayoga

Pemkab Temanggung Hapus Denda Pembayaran PBB-P2 hingga Akhir September