Tiga Mahasiswa Ciptakan Biodiesel dari Bahan Batuan Fosfat dan Minyak Goreng

Tiga mahasiswa dari jurusan Teknik Kimia Fakulkas Teknik, Undip Semarang menunjukkan hasil biodiesel pengganti bahan bakar solar dengan memanfaatkan batuan fosfat.

HALO SEMARANG – Bahan bakar fosil seperti solar untuk kebutuhan dunia industri dan transportasi yang saat ini bergantung dari impor, diperkirakan akan habis dalam 10 tahun ke depan. Sehingga diperlukan energi terbarukan pengganti bahan bakar fosil tersebut, yakni dengan biodiesel.

Untuk itu, tiga mahasiswa dari jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Undip Semarang berhasil memproduksi biodiesel tersebut dengan mengembangkan katalis fosfat alam (Kafosta).

Kafosta ini memanfaatkan batuan fosfat yang diperoleh dari daerah Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, untuk memproduksi biodiesel pengganti bahan bakar solar yang ramah lingkungan dengan bahan dasar minyak goreng bekas (jelantah).

Mereka adalah Permadi Wisnu Aji Wardani, Murest Patra Patriosa, dan Jovita Cahyonugroho, dengan dosen pembimbing Prof Dr Widayat, ST, MT.

Dalam pembuatan biodiesel diperlukan katalis untuk mengarahkan reaksi pembuatan bahan bakar tersebut. Katalis untuk pembuatan biodiesel bisa menggunakan bahan baku cangkang telur, tulang hewan, cangkang moluska dan batuan fosfat.

Batuan fosfat dipilih sebagai bahan baku karena sebelumnya belum banyak yang menggunakan batuan fosfat dalam proses pembentukan katalis. Di sisi lain batuan fosfat memiliki kelebihan lain yaitu harganya murah, luas permukaan besar, kapasitas adsorpsi besar, dan tidak beracun.

“Adapun, untuk proses pembuatan biodiesel sendiri, yaitu mengambil batuan fosfat kemudian dihancurkan hingga berbentuk serbuk, lalu selanjutnya serbuk tadi kami lakukan perlakuan kimia hingga menjadi bio material yaitu katalis. Katalis ini kami tambahkan dalam minyak jelantah dengan penambahan alkohol, dilakukan proses yang dinamai esterifikasi. Sehingga diperoleh biodieselnya,” terang Murest Patra Patriosa,  Jumat (21/6/2019).

Sementara mahasiswa lain, Permadi Wisnu Aji mengatakan, untuk memperoleh 1 liter biodiesel dibutuhkan sebanyak 10 gram serbuk batuan fosfat dan 1,2-1,5 liter minyak jelantah. Sedangkan dalam penelitian ini, digunakan reaksi esterifikasi-transesterifikasi secara simultan dengan katalis yang sama (Kafosta) sehingga dapat menurunkan ongkos dari produksi biodiesel tersebut.

“Dengan adanya inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai jual batuan fosfat di daerah Sukolilo, Pati, Jawa Tengah dan dapat memberi solusi  untuk permasalahan mahalnya harga katalis di industri pembuatan biodiesel,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.