in

Tertarik Bela Diri Kempo Sejak Kecil

Sugeng Dilianto.

 

DI sela-sela kesibukan dengan rutinitas sebagai seorang abdi negara aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kota Semarang, Sugeng Dilianto masih menggeluti hobinya sejak kecil yakni olahraga bela diri kempo.

Bagi pria yang saat ini menjabat sebagai Kabid Stabilitas Harga dan Pengembangan Pasar Dinas Perdagangan Kota Semarang, olahraga bela diri asal Jepang itu berbeda dengan olahraga bela diri lainnya. Menurut Dili, sapaan akrabnya, kempo sebenarnya seperti olahraga bela diri lainnya. Yang membedakan adalah di dalam kempo banyak akan nilai filosofinya.

“Untuk hobi saya tetap kempo. Tujuan utama rutin latihan untuk menjaga kondisi fisik agar tetap bagus,” katanya, Kamis (23/9/2021).

Memang selama PPKM, yang mengharuskan pegawai Pemerintah kota Semarang bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH), membuat dirinya hanya berlatih kempo di rumah.

“Durasinya cukup 3 jam setiap latihan. Misalnya latihan dasar seperti kihon. Lalu ken, waza juho, dan kuho serta randoi,” terang pria kelahiran Semarang, November 1976 ini.

Sebenarnya, untuk latihan kempo, yang rutin yaitu tiap hari Selasa dan Jumat di Auditorium Undip.

“Menurut saya banyak manfaatnya rutin berlatih kempo. Selain untuk membuat kondisi tubuh selalu terjaga, juga syarat dengan nilai filosofi di dalamnya. Dengan saya belajar kempo, juga belajar untuk mengendalikan diri, dan mengalahkan dari rasa marah dan malas,” kata pria yang juga hobi bersepeda ini.

Sebenarnya, dirinya sudah tertatik dengan olahraga bela diri sejak kecil, karena melihat di lingkungan tempat tinggalnya dekat dengan kompleks asrama polisi.

“Karena setiap pagi, saya melihat anggota polisi latihan karate dan taekwondo. Pertama belajar taekwondo dan karate dari teman, tapi pada waktu itu biaya untuk beli perlengkapannya cukup mahal. Sedangkan ada latihan kempo di sekitar rumah yang biayanya murah, saya akhirnya latihan di situ. Sebelumnya, saya juga pernah ditawari olahraga tinju. Saya tidak cocok, karena harus mengeluarkan biaya untuk beli sepatu, handgloves, pelindung gigi, dan lainnya,” ucap pria yang saat ini tinggal di daerah Tembalang ini.

Dikatakan Dili, kempo dibandingkan dengan lainnya, punya keunikan. Salah satunya teknik yang komplet, ada juho (lunak) lipatan dan bantingan, melepas kuncian. Serta goho, (keras). Ini memiliki nilai filosofinya sendiri, terutama di dalam ajaran Buddha, yaitu menyatukan kekuatan dan kasih sayang.

“Jika mendapatkan serangan lawan, kenshi (pemain kempo) akan menghindar, baru menyerang dengan menekukkan bagian badan dan mengunci serta mengenali titik kelemahan lawan,” pungkasnya.(HS)

Share This

UPGRIS Gelar Vaksinasi Massal Untuk Mahasiswa dan Masyarakat

Juninho, Andalan Anyar PS Sleman