Ternyata Ini Tujuan Mahasiswa Udinus Ciptakan Alat Pendeteksi Diabetes

Mahasiswa Udinus mengetes alat pendeteksi diabetes tanpa luka yang berhasil diciptakan.

 

HALO SEMARANG – Empat mahasiswa Udinus, Diana Almaas Akbar Rajah, Annelicia Eunice Arabelle, Nadiya Nurul, dan Kevin Tedjasukmana serta Dosen Pembimbing Kaprodi S-1 Teknik Biomedis, Dr Aripin dan Dosen Fakultas Tekhnik Udinus, Sari Ayu Wulandari berhasil menciptakan alat bernama Gluconov.

Alat ini diciptakan untuk mendeteksi gula darah untuk penderita diabetes, tanpa harus melakukan pemeriksaan seperti disuntik maupun dirobek bagian tubuh penderita.

Ketua Tim Diana Almaas Akbar Rajah mengatakan, inovasi yang dibuatnya ini berawal dari sang ayah yang sudah lama menderita diabetes militus dan sulit untuk melakukan pemeriksaan darah, karena mengalami kesakitan ketika diperiksa.

“Jadi saya berfikir untuk membuat alat yang bukan hanya untuk ayah saya saja, tetapi juga bisa untuk seluruh masyrakat,” kata Diana Senin (16/2/2021).

“Gluconov menjadi solusi untuk menjawab keluh-kesah penderita diabetes melitus yang harus melakukan pengecekan gula darah rutin,” lanjutnya.

Kemudian para mahasiswa Udinus itu menciptakan alat untuk mendeteksi kadar gula yang berada dalam tubuh seseorang, tanpa menimbulkan rasa sakit dan hanya dideteksi dengan cara meletakan jari ke alat kecil yang berbentuk kotak, dengan sensor cahaya serta keakuratan 95%.

Pasien pun tidak perlu disuntik ataupun dirobek untuk melakukan pemeriksaan diabetes.

“Kami juga sudah riset mengumpulkan data orang terkena diabetes, dan dari IDF (International Diabetes Federation) ternyata banyak sekali orang yang terkena diabetes, serta masih menggunakan alat invansif (alat kesehatan yang menembus badan) untuk melakukan pemeriksaan,” ungkapnya.

Diana juga menambahkan, alat yang mereka ciptakan itu sudah dilombakan dan berhasil mendapatkan medali emas di ajang Asean Innovation Science and Entrepreneur Fair 2021.

Dan alat yang timnya ciptakan akan diproduksi secara massal dengan harga yang terjangkau.

“Perlombaanya secara daring menggunakan zoom, dan karya kami menjadi yang terbaik menyisihkan 505 tim dari 20 negara di dunia,” terangnya.

Sementara itu, Dosen Pembimbing dari Fakultas Tekhnik Udinus, Sari Ayu Wulandari mengungkapkan, alat yang diciptakan mahasiswanya itu bertujuan agar penderita diabetes saat melakukan pemeriksaan tidak perlu diambil darahnya, karena akan membuat orang tersebut mengalami kesakitan.

“Kasihan juga sudah sakit terus diambil darahnya, lagipula ketika penderita diabetes diambil darahnya pasti akan berdampak pada luka,” imbuhnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.