in

Ternyata Belum Banyak Yang Tahu Tentang Kampung Batik Di Kota Semarang

Ketua Paguyuban Batik Semarang, Eko Hariyanto, menunjukkan batik khas Semarang yang memiliki motif Warak, atau hewan mitologi khas Kota Semarang di gerainya.

 

HALO SEMARANG – Belum banyak yang mengetahui adanya kampung batik di Kota Semarang. Masyarakat masih mengenal Kota Semarang bukan sebagai penghasil tekstil seperti Rembang, Solo dan seterkenal Kota Batik di Pekalongan.

Satu di antara karyawan swasta mengaku tidak mengetahui jika di Kota Lumpia terdapat beberapa kampung batik yang aktif memproduksi batik.

“Saya tidak tahu kalau di Kota Semarang ini ada kampung batik. Setahu saya ya di Pekalongan,” tutur perempuan yang mengaku bernama Santi kepada halosemarang.id, Jumat (30/7/2021).

Kota Batik di Pekalongan. Bukan Jogja, eh bukan Solo,” saut Erika, satu di antara teman kantor Santi melantunkan lagu band kawakan Indonesia, Slank.

Santi dan Erika merupakan warga Kota Semarang. Namun mereka tidak mengenal jika Kota Semarang memiliki Kampung Batik yang terletak di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur.

Lokasinya tidak jauh dari kawasan Kota Lama Semarang, tepatnya di seberang timur Museum Kota Lama atau sebelumnya disebut Bundaran Bubakan.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Ketua Paguyuban Batik Semarang, Eko Hariyanto. Ia menyatakan jika kepopuleran Kampung Batik Semarang belum bisa menandingi Kampung Batik Laweyan di Solo maupun Kampung Kauman di Pekalongan.

“Sebelum tahun 2010, jarang ditemui yang jualan batik. Tapi saat ini sudah ada lebih dari 25 toko atau gerai yang menjual batik di kampung ini. Kebanyakan mereka menjual batik dengan motif khas Semarangan seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, atau Warak,” ujar Eko saat dijumpai di gerainya, (30/7/2021).

Kendati demikian, ia menuturkan, selama 11 tahun terakhir, geliat industri batik di Kampung Batik Semarang terus konsisten berjalan. Hal ini menjadi bukti seiring pengakuan dari UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai warisan dunia pada 2009 silam.

“Setelah adanya pengakuan itu, masing-masing daerah berlomba-lomba untuk mengkreasikan batik khas daerahnya. Pemerintah juga mendorong sentra-sentra batik di wilayahnya dengan predikat Kampung Batik,” tuturnya.

Dijelaskannya, dipilihnya Kampung Rejomulyo sebagai Kampung Batik karena terdapat historis yang erat hubungannya dengan para saudagar batik pada era kolonial.

“Konon saat zaman kolonial, tepatnya tahun 1890-an, di sini menjadi lokasi menginap para saudagar batik yang hendak memasarkan batiknya ke luar Pulau Jawa. Itu didukung juga dengan keberadaan Gedung GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia) di Kota Lama,” ujar pria yang juga mengantongi sertifikat asesor pembatik itu.

Dikatakan Eko, kini deretan butik batik yang berjajar di pinggir jalan telah menjadi pemandangan yang lumrah saat memasuki kampung tersebut.

Ia berharap keberadaan Kampung Batik di Rejomulyo akan terus bertahan untuk menunjukkan pelestarian batik sebagai warisan budaya nenek moyang. Meski diakuinya, hal itu tidak semudah dipikirkan.

“Pernah diadakan pelatihan membuat batik kepada 20 warga. Dari 20 ini, hanya satu yang bisa dan lolos uji sertifikasi,” paparnya.

Sempat Mati

Sebagai informasi, Kampung Batik Semarang ini konon dulunya merupakan sentra kerajinan batik di masa lampau (era kolonial Belanda). Awal mula Batik Semarang sendiri muncul sekitar tahun 1800-an, hal ini berhubungan dengan dengan berdirinya Kota Semarang.

Motif dari Batik Semarang dalam khasanah yang lebih luas banyak ditemui antara lain motif flora yang berupa kembang sepatu dan fauna yang berupa kupu-kupu.

Dalam perjalanan sejarahnya, Batik Semarang ini berhubungan dengan percampuran budaya antara Arab, Jawa, dan Cina yang diterjemahkan dalam bentuk gambaran Warak Ngendog.

Namun dalam sejarah dari tahun 1970 sampai 1980-an, eksistensi Kampung Batik Semarang sempat mati total karena tidak ada aktivitas membatik.

Maka untuk itu, warga berusaha nguri-nguri budaya batik di kampung ini. Baru kemudian pada tahun 2005 mulai ada kegiatan untuk menghidupkan kembali identitas Kampung Batik.

Dengan sentuhan generasi mudanya, Kampung Batik Semarang kini menjadi salah satu kampung yang unik dan menarik, yang selalu dikaitkan dengan sejarah perkembangan batik di Semarang sejak zaman dulu hingga sekarang.(HS)

Share This

Arahan Ganjar Didengar, Mahasiswa ke Pasar Tradisional Bagikan Masker dan Hand Sanitizer

Ganjar Larisi Dagangan Pedagang Sayur dan Pisang Keliling