Temukan Kejanggalan, Peserta Tes Perangkat Desa di Ngampel Minta Hasil Ditinjau Ulang

Penyerahan surat pernyataan dan permintaan klarifikasi hasil tes perangkat desa di Ngampel, Kendal.

 

HALO KENDAL – Dugaan pengkondisian pelaksanaan tes peserta seleksi perangkat desa di Kecamatan Ngampel, berbuntut panjang. Sejumlah peserta meminta untuk meninjau ulang hasil tes berbasis komputer (CAT) yang dilaksanakan oleh salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Kota Semarang.

Selain itu, peserta meminta panitia tidak menetapkan hasil seleksi, sebelum ada klarifikasi atas berbagai kejanggalan dalam tes yang dilaksanakan pekan lalu.

Salah seorang peserta In’am mengaku, para peserta sudah menyampaikan pernyataan tertulis dan telah dikirimkan ke panitia di masing-masing desa dan Camat Ngampel.

“Surat tertanggal 15 Februari 2021, berisi pernyataan dan testimoni dari para peserta,” terang In’am, Rabu (17/2/2021).

Berdasarkan sejumlah kejanggalan yang dialami, para peserta meminta panitia memberikan penjelasan terkait CAT yang dilaksanakan oleh PTS di Semarang tersebut, selaku pihak ketiga yang ditunjuk.

“Selain mengklarifikasi berbagai dugaan adanya pengondisian hasil tes, kami juga minta panitia hadirkan pihak PTS untuk memberikan penjelasan teknis terkait pelaksanaan CAT yang kami temukan banyak kejanggalan,” ungkapnya.

Dikatakan, sebagaimana dilampirkan dalam surat pernyataan, sejumlah kejanggalan yang ditemukan para peserta.

“Mulai dari nilai yang berubah, materi soal tidak sesuai ketentuan, hingga ID peserta yang telah disiapkan sebelum tes dilaksanakan,” ujarnya.

Belum lagi, lanjut In’am, yang sangat aneh, hasil CAT bisa sama dengan nama yang sudah beredar sebelumnya.

“Bahkan sebelum tes dilakukan, ada yang sudah mengunggah di media sosial nama-nama yang nantinya akan lolos tes,” lanjutnya.

Untuk mengungkap dugaan tersebut, pihaknya meminta PTS selaku pihak ketiga yang ditunjuk, untuk membuka server CAT.

“Dengan membuka server, akan dapat dilacak rekam digital setiap peserta dalam mengerjakan soal tes,” tandas In’am.

Peserta lain berinisial AR menambahkan, dugaan adanya permainan dalam seleksi perangkat desa dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintahan desa.

Menurutnya, kalau ini dibiarkan justru yang dirugikan Pemdes bersangkutan, karena dari proses rekrutmennya saja diduga sudah bermasalah.

“Panitia harus bisa memberikan penjelasan dengan data dan bukti yang bisa dipercaya,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak empat desa di Kecamatan Ngampel, menggelar tes seleksi perangkat desa dengan sistem CAT pada Rabu (10/2/2021) lalu.

Sebagai pelaksana, panitia di masing-masing desa menunjuk pihak ketiga. Tiga desa yakni Kebonagung, Dempelrejo dan Winong menunjuk salah satu PTS di Kota Semarang.

Sedangkan satu desa, yakni Banyuurip, menggandeng Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) sebagai pelaksana CAT.
Jika tes yang dilaksanakan PTS menuai komplain, LPMP nyaris bebas dari suara miring.

Dari rekam jejak pelaksanaan tes perangkat desa di Kendal, komplain terhadap hasil tes PTS tersebut hampir selalu muncul setiap tahun, sejak lembaga ini ditunjuk sebagai pelaksana mulai tahun 2018.

Bahkan sebelum tes kembali dilaksanakan di Ngampel, sejumlah peserta dan warga yang pernah ikut tes telah memberikan catatan khusus kepada PTS yang ditunjuk.

Kepala Dispermasdes Kabupaten Kendal, Wahyu Hidayat, usai menghadiri audensi dengan DPRD terkait hal ini mengaku, soal penunjukan pihak ketiga, wewenangnya ada pada desa.

Kecuali desa meminta untuk difasilitasi seperti pada tahun 2017.

“Kami menggandeng LPMP untuk melaksanakan tes seleksi perangkat desa dengan sistem CAT untuk pertama kali,” tukasnya. (HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.