Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Tembalang, Semarang Barat, dan Semarang Utara Masuk Zona Merah Penyebaran Kasus HIV/Aids

Foto ilustrasi.

HALO SEMARANG – Dari total 16 kecamatan di Kota Semarang, terdapat tiga kecamatan dengan zona merah kasus HIV/Aids. Disebut zona merah, karena terdapat 83-107 temuan kasus penderita HIV/Aids per tahun di tiga kecamatan itu. Tiga kecamatan itu yakni Tembalang, Semarang Barat, dan Semarang Utara.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, M Abdul Hakam mengatakan, temuan jumlah penderita HIV/Aids di Kota Semarang terus mengalami peningkatan sejak 2011 yang mencapai 1.711 kasus. Menjadi 3.114 pada 2014, dan 2018 menjadi 5.232 kasus. Saat ini temuan total mencapai 5.228 penderita. Peningkatannya berkisar 500 kasus dalam satu tahun. Penyebarannya pun merata di setiap kecamatan. Namun paling tinggi yaitu di tiga kecamatan, Tembalang, Semarang Barat, dan Semarang Utara.

Hakam mengungkapkan, data-data tersebut diperoleh dari setiap rumah sakit, Puskesmas, Voluntary Counselling and Testing (VCT) Mobile, maupun Rapid Test. Hasilnya, dari ribuan penderita HIV/AIDS yang ada di Kota Semarang, ternyata diketahui jika sebagian besar merupakan warga luar kota.

“Jumlah tersebut tidak semua berasal atau merupakan warga asli Kota Semarang. Sebagian besar dari penderita merupakan warga luar kota, mereka hanya menetap di Kota Semarang karena bekerja,” katanya, Rabu (4/12/2019).

Lebih lanjut, Hakam menjelaskan, jumlah tersebut merupakan jumlah yang terdekteksi, dan kemungkinan dapat bertambah jika ada yang memeriksakan diri terkait penyakit HIV/Aids.

“Angka tersebut diperoleh karena saat ini sudah banyak orang yang memeriksakan diri terkait HIV/AIDS. Jadi jumlah itu merupakan penderita yang terdeteksi. Bisa saja jumlahnya bertambah, jika masih ada yang belum memeriksakan kesehatan atau terdeteksi. Kami berharap, upaya penutupan SK dan Gambilangu bisa efektif untuk menurunkan kasus HIV/AIDS,” ungkapnya.

Menurut dia, selain karena hanya permasalahan domisili, ternyata ada sebagian dari pasien tersebut merupakan pasien daerah lain yang memeriksakan diri di rumah sakit yang ada di Kota Semarang. Misalnya saja warga Kabupaten Semarang yang menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND).

“Pelaporan kesehatan terkait HIV/Aids dibutuhkan agar pasien yang terdeteksi dapat segera mendapatkan terapi atau obat. Untuk penyebab penularannya, jumlah Laki Suka Laki (LSL) masih menjadi yang tertinggi dibandingkan lainnya, seperti Wanita Pekerja Seks (WPS), dan WPS tidak langsung,” tambahnya.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Abdul Majid, menyampaikan, jika usaha memaksimalkan penekanan penularan HIV/Aids hendaknya terus digencarkan. Salah satunya berupa sosialisasi dan pemberian edukasi yang menyeluruh kepada masyarakat. Mulai dari cara penularan HIV/Aids, gejala-gejala, hingga pencegahannya. Selain itu, sosialisasi harus bisa dilangsungkan melalui Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, dan Dinas Kesehatan dengan menjalin kolaborasi.

“Sebenarnya semua pihak harus terlibat, untuk mengawasi dan mewaspadai penularan virus HIV/Aids. Hal yang dikhawatirkan yaitu jika usia produktif antara 15 tahun hingga 35 tahun, justru menjadi tertular penyakit ini,” imbuhnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang