in

Tekuni Bisnis Tembakau, Ragil Senda Gurau Melawan Anggapan Tingwe Budaya Kuno

Ragil saat menunjukkan beragam tembakaunya.

 

TREN rokok linting kini semakin digandrungi masyarakat, tidak hanya kalangan tua, tetapi juga oleh kawula muda. Geliat rokok linting atau linting dewe (tingwe) yang dulunya dianggap kuno, sekarang dapat bersaing dengan eksistensi rokok elektrik (vape).

Tingwe dianggap memiliki keunikan tersendiri bagi para penikmatnya, bahkan tingwe menjelma menjadi gaya hidup masyarakat modern. Selain khas menghisap, menikmati tingwe juga disebut sebagai cara melestarikan budaya masyarakat masa lampau.

Dengan kertas khusus, dibutuhkan kemampuan jemari dalam melinting dan meracik tembakau.

Melalui kebiasaan merokok tingwe, Ragil Maulana, salah satu pemuda di Kota Semarang mampu meraup pundi-pundi rupiah. Ragil mengaku, dalam menjalankan bisnis tembakau, selain dapat lebih hemat (karena dia juga mengkonsumsi sendiri), dirinya berhasil mengubah anggapan stigma tingwe yang dulunya masih dianggap kuno.

Bersama dengan kawannya, Ragil merintis bisnis tembakau pada awal tahun 2019. Bermodalkan Rp 400 ribu, tembakau seberat dua kilogram menjadi awal ladang pemasukkannya yang masih bertahan hingga kini. Bisnisnya memang masih lingkup rumahan. Namun hal itu tak membuat dirinya mengubur mimpi untuk bisa menjalankan yang lebih besar.

Awalnya, dari warung kopi ke warung kopi lainnya dia mulai menawarkan tembakaunya. Dalam berproses, kadang tak hanya mendapatkan cuan namun juga cibiran. Hal itu tak mempengaruhinya dalam menekuni bisnis tembakau dengan merek Sendau Gurau.

“Sempat mendapat stigma nglinting dianggap kuno, dan seringkali dipandang sebelah mata. Namun dari situ kami berpikir, bagaimana caranya untuk melawan stigma itu. Akhirnya ketemu lah ide, kami menjual tembakau dengan kemasan yang menarik, sekaligus mengedepankan kualitas rasa tembakau,” ujar Ragil saat ditemui halosemarang.id di kontrakan kecil Jalan Mulawarman Utara Dalam II, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Kamis (8/7/2021).

Seiring berjalannya waktu, bisnisnya mulai berkembang, dan banyak orang yang sudah mulai tertarik dan menganggap bukan hal yang tabu untuk menikmati tembakau kemudian dilinting sendiri.

Di satu sisi memang, saat pandemi Covid-19 membuat perekonomian masyarakat menjadi sulit. Hingga alih-alih berhemat dalam mengkonsumsi rokok, para penikmat tingwe malah mengalami amnesia dari rokok pabrikan.

“Pandemi Covid-19, malah penjualan tembakau saya mengalami peningkatan. Satu bulan itu bisa menjual delapan sampai 10 kilogram. Untuk pengiriman terjauh, Pekanbaru, Nusa Tenggara Barat, Padang,” ungkapnya yang kini lebih sering menjajakan tembakau di tempat tinggalnya.

Stok tembakau Senda Gurau milik Ragil.

Membantu Petani

Bahkan sekarang, yang awalnya Ragil membangun bisnis tembakau bersama kawan, kini ia telah mampu menjalankan bisnis tembakaunya sendiri. Stok jenis tembakau pun semakin banyak, dari yang awalnya dua jenis tembakau, kini sudah memiliki stok tembakau berbagai jenis dari berbagai daerah di Tanah Air.

“Ada tembakau Aceh yaitu Gayo (hijau sama kuning), Sumedang ada Parugpug sama Darmawangi, Temanggung ada Lamsi sama Paksi, Jawa Timur ada Besuki, Madura ada Poday moris dan poday bukabu, dari Lombok ada Kasturi dan Madu Coklat,” tuturnya.

Tidak hanya tembakau saja, namun juga tersedia kertas, cengkeh, alat pelinting, wadah tembakau dari daun pandan juga pipa tembakau. Dari ketersediaan tembakau miliknya, masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Hal itu juga mempengaruhi harga yang ia tawarkan kepada konsumen.

“Tentunya dengan jenisnya dari mana dan perawatan. Per lima puluh gramnya saya jual mulai dari Rp 13 ribu sampai Rp 25 ribu,” kata pria lulusan jurusan Teknik Mesin salah satu politeknik negeri di Kota Semarang.

Pria berkacamata ini merasa bersyukur dapat menekuni bisnis tembakau. Di satu sisi melatih berwirausaha juga turut membantu perekonomian para petani tembakau.

“Alhamdulillah, bisa turut membantu para petani tembakau. Selama ini mereka dihargai murah oleh pabrik ketika panen. Sekarang dengan adanya orang seperti saya mereka dapat menjual kiloan dan harganya lebih ketimbang dijual langsung banyak ke pabrik,” bebernya.(HS)

Share This

Harga Obat Naik, Ini Kata Wali Kota Semarang

Dari Hobi, Kini Rais Menjadi Distributor Ikan Cupang se-Indonesia