in

Taruna Pelayaran di Semarang Dianiaya Senior, Keluarga Korban Ajukan Restorative Justice di Polda Jateng

Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol M Iqbal Alqudusy saat memberikan keterangan terkait dugaan kasus penganiayaan taruna pelayaran, di Mapolda Jateng, Kamis (15/6/2023).

HALO SEMARANG – Taruna Pelayaran di Semarang berinisial MGG (19) dianiaya oleh seniornya hingga mendapatkan sejumlah luka lebam bahkan pandangan matanya sempat tidak normal selama dua pekan. Merasa tak terima, keluarga korban melaporkan kejadian tersebut ke Polda Jateng untuk ditindaklanjuti.

Kepolisian pun telah menerima dan memproses laporan dugaan penganiayaan itu. Namun keluarga korban mengajukan surat penundaan perkara dan mengajukan restorative justice (RJ) ke Polda Jateng. Saat ini pun kepolisian sedang memproses pengajuan surat tersebut.

“Polri selalu menindaklanjuti setiap laporan yang masuk, seperti dalam perkara ini. Namun terakhir justru orang tua pelapor membuat surat penundaan RJ,” ujar Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol M Iqbal Alqudusy saat ditemui di Mapolda Jateng, Kamis (15/06/2023).

Menurutnya, surat pengajuan penundaan perkara yang disampaikan ke Polda sudah ditandatangani orang tua pelapor. Iqbal pun mengaku, sebelum pengajuan RJ, pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi atas kasus dugaan kekerasan fisik ini.

“Kalau statemen kuasa hukumnya sudah dilaporkan namun pihak keluarga sendiri yang meminta RJ, mereka ingin ada perbaikan sistem di akademi tersebut. Kami sebenarnya sudah jalan memproses kasus ini,” jelasnya.

Sementara itu, pendamping hukum korban dari LBH Semarang, Ignatius Radit mengatakan, sudah memegang surat pernyataan pengakuan dari para senior yang melakukan penganiayaan terhadap korban. Meski demikian, ia berharap korban tak mendapatkan perundungan lagi oleh para seniornya.

“Kami tak ingin penyelesaian kasus tidak hanya secara pidana saja, melainkan ada perbaikan struktural dari pihak kampus supaya tak menormalisasi kekerasan,” jelasnya.

Sebelumnya, korban telah mengalami kekerasan setidaknya empat kali. Kekerasan pertama berupa pemukulan bertubi-tubi menggunakan tangan terbuka di kepala dari arah atas, depan, kiri dan kanan.

Pukulan mengenai di kepala dan tendangan di tulang kering oleh Pembina dan Pengasuh Taruna (Binsuhtar) pada Minggu, 9 Oktober 2022. Penganiyaan kedua, korban mengalami pemukulan di kepala bagian belakang sebanyak lebih dari 10 kali oleh seniornya angkatan 56, Minggu sore, 23 Oktober 2022.

Berikutnya, korban mengalami penganiayaan fisik, dipukul sekitar 40 kali di bagian perut, termasuk ulu hati pada Rabu malam, 2 November 2022. Terakhir tadi malam Selasa (13/6/2023) , korban alami kekerasan dengan ditendang oleh seniornya.

“Secara fisik memang tidak begitu parah, tetapi hal itu mengingatkan rasa trauma korban. Hal itu terbukti dari hasil assesment psikolog LPSK yang menyatakan korban alami trauma,” imbuhnya. (HS-06)

13 Ribu Guru Keagamaan di Kendal Terima Bantuan Hibah Penyelenggara Pendidikan Agama

Uji Coba Leg Kedua PSIS vs Persijap Batal Digelar