Tanaman Hias Laris Manis di Tengah Pandemi Corona

Foto ilustrasi: Aglaonema, salah satu jenis tanaman hias yang banyak digemari masyarakat.

 

ADA trend unik di tengah pandemi corona yang melanda Indonesia dan banyak negara di dunia. Saat daya beli masyarakat menurun dan ekonomi tak stabil, penjualan tanaman hias di Kota Semarang malah laris manis.

Bahkan beberapa pedagang tanaman hias mengaku peningkatan daya beli masyarakat pada tanaman hias naik sampai dua kali lipat dibanding sebelum pandemi. Bahkan beberapa tanaman yang sebelumnya harga jual meredup, kini kembali naik. Seperti gelombang cinta dan jemani.

Dadang, salah satu penjual tanaman hias di Kecamatan Pedurungan mengatakan, beberapa bulan terakhir trend tanaman hias memang mulai naik. Dimungkinkan, karena banyak warga yang beraktivitas di rumah akibat pandemi, membuat warga banyak menghabiskan waktu dan membunuh kebosanan dengan merawat tanaman di rumah.

“Tak hanya tanaman hias, permintaan benih sayuran seperti bayam, kangkung, dan kubis juga meningkat. Saya sempat dapat pesanan untuk mencarikan bibit sayuran. Katanya buat ditanam model hidroponik,” katanya, Jumat (23/7/2020).

Budi daya tanaman hias saat ini bisa dikatakan sebagai ladang usaha yang lagi ngetren. Apalagi di tengah masa pandemi virus corona (Covid-19) yang membatasi mobilitas masyarakat, membuat orang mencari kegiatan baru untuk mengisi waktu luang yang sebagian besar dihabiskan di rumah.

Salah satunya adalah aktivitas berkebun. Tak jarang orang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menyuplai tanaman-tanaman hias paling mahal untuk ditanam di pekarangan rumahnya.

“Harga jual bebebrapa tanaman juga terus naik. Bahkan ada yang dua kali lipat dibanding sebelum ada pandemi. Aglaonema misalnya, tanaman yang dikenal juga dengan nama sri rejeki kini harganya mencapai Rp 300 ribu hingga lebih. Bahkan sebelumnya harga di bawah Rp 100 ribu, bahkan ada yang Rp 25 ribu untuk satu tanaman di dalam pot,” kata Dadang.

“Namun mahal tidaknya tanaman dilihat dulu dari jenis dan keunikannya. Satu jenis tanaman, beda harga jika keunikannya berbeda. Tergantung selera istilahnya,” kata Andika, salah satu penggemar tanaman hias di Tembalang, Semarang.

Sebagaimana diketahui, tanaman hias saat ini merupakan salah satu komoditas yang diperjual belikan secara luas di pasaran.

Perkembangan teknologi lewat berbagai kanal media sosial, membuat trend penggunaan tanaman hias di rumah pun semakin meningkat.

Jika dulu tanaman hias hanya dilirik segelintir orang, kini rumah-rumah sederhana hingga penghuni kamar kost pun berburu tanaman hias untuk mempercantik ruangannya. Beberapa tanaman yang diburu di antaranya aglaonema, kaktus, monstera, calathea cynthia, lidah mertua, dan lainnya.

Dari tahun ke tahun pun tren tanaman hias yang digemari bisa berubah-ubah tak tentu arah.

“Tak hanya penjualan di pedagang tanaman secara langsung, tanaman hias juga laris diperjual belikan lewat media sosial. Hal ini tentu sangat memudahkan penjual untuk memasarkan produk. Tapi pesan saya, hati-hati dan lebih selektif saat melakukan transaksi jual beli tanaman hias di media online. Karena biasanya ada teknik pengambilan gambar yang bisa membuat tanaman lebih indah saat difoto,” kata Andika.

Tak hanya tanaman hias, permintaan ikan hias ternyata juga tinggi di tengah pandemi corona. Alasannya hampir sama, banyak warga yang menghabiskan waktu saat berada di rumah dengan memelihara ikan di akuarium.

“Mungkin untuk hiburan agar tak bosan di rumah. Penjualan meningkat drastis akhir-akhir ini,” kata Adi, salah satu penjual ikan hias di kawasan Pasar Johar.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.