in

Taman Rekreasi Istana Majapahit Semarang, Pernah Jadi Idola Anak-anak Era 1980-an

Bangunan bekas Taman Rekreasi Istana Majapahit Semarang.

BAGI generasi yang tumbuh di tahun 1980 hingga 1990an awal, khususnya yang tinggal di wilayah Semarang bagian timur dan sekitar, tentu tak asing dengan Taman Rekreasi Istana Majapahit Semarang. Tempoat bermain yang ada di Jalan Majapahit nomor 288-290, Palebon, Pedurungan, Kota Semarang tersebut, sempat menjadi idola bagi anak-anak saat memanfaatkan liburan.

Dengan fasilitas bermain yang lengkap di era itu, Taman Rekreasi Istana Majapahit kerap ramai pengunjung ketika ada liburan panjang maupun saat Lebaran.

Bahkan, kurang lengkap rasanya bagi anak-anak era itu, saat liburan belum berekreasi di tempat tersebut. Bahkan beberapa orang tua, untuk membujuk anak-anaknya agar giat belajar, kerap memberi iming-iming dengan kata-kata “ayo belajar, besok kalau liburan tak ajak ke Istana Majapahit”.

Heri Widodo (39), warga Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan mengatakan, dulu di awal tahun 1990an, anak seusianya kala itu kerap diajak bermain di tempat itu saat liburan sekolah atau liburan hari besar lainnya. Dia bersama keluarga dan teman kecilnya, biasanya diajak rombongan untuk “berlibur” mengunjungi Istana Majapahit yang sangat populer bagi anak-anak di wilayah Gubug, Tegowanu (Kabupaten Grobogan), Karangawen, Mranggen (Kabupaten Demak), dan Pedurungan Kota Semarang. Ia yang sekarang bekerja di sebuah bank swasta di Kota Semarang ini mengaku, saat itu Istana Majapahit menjadi simbol gengsi anak sekolah ketika rekreasi liburan.

Dikatakan, di era 1990an, masuk area itu ada banyak permainan anak-anak seperti ayunan, jungkat jungkit, plorotan, dan kolam dihuni ikan emas berukuran besar.

“Fasilitas utamanya memang kolam renang. Saat itu kolam renang adalah hal yang mewah bagi generasi kami di desa, yang maaf, listrik saja baru masuk dan banyak yang masih istilahnya nyalur. Tapi di dalam juga ada kebun binatang mini dan wahana permainan lainnya. Paling diminati adalah foto sekali jadi, dan saya masih menyimpan beberapa foto koleksi lama di sana beserta patung gajah,” kata kata Heri.

Namun saat ini, saat dia tumbuh dewasa tak lagi bisa mengulang kenangan karena Istana Majapahit kini sudah berubah wujud. Pertumbuhan kota di sisi timur Kota Semarang ternyata tak mampu diikuti oleh pengelola. Tempat itu semakin menyempit, bukan secara area, namun kemampuan merawat wahana yang ada serta dari segi bisnis.

“Saya lupa terakhir tahun berapa, tapi saat itu memang sudah mengalami kemunduran,” katanya.

Istana Majapahit pernah juga menjadi harapan para pedagang tiban saat Lebaran. Tiap Lebaran atau libur panjang taman rekreasi Istana Majapahit penuh berjejal pengunjung. Bahkan untuk masuk saja harus antre. Antrean karena melebihi daya tampung inilah yang dimanfaatkan para pedagang makanan kakilima untuk berjualan di sekitar lokasi.

“Tiap Lebaran, selalu berlimpah pengunjung terutama anak-anak,” kata Mbak Tik, pedagang kaki lima yang sampai sekarang masih berjualan di sekitar lokasi.

Patung punokawan di depan bekas bangunan Taman Rekreasi Istana Majapahit Semarang.

Namun sayangnya, saat ini lokasi Taman Rekreasi Istana Majapahit sudah mangkrak dan tak terurus. Bagian depan yang dulu dihiasi gambar-gambar wayang dan binatang, kini sudah dicat polos dengan warna putih. Tinggal menyisakan empat patung punokawan, Semar, Petruk, Gareng, Bagong, dan berada di pintu masuk kawasan.

“Pemiliknya sudah meninggal beberapa tahun lalu, ahli waris atau anak-anaknya tak meneruskan lagi,” kata Mbak Tik, tanpa tahu siapa pemilik kawasan Taman Rekreasi Istana Majapahit.

Informasi yang didapat halosemarang.id, Taman Rekreasi Istana Majapahit dulunya milik seorang pengusaha di Kota Semarang. Karena bisnis taman hiburan mulai surut, pada akhir 1990an pengelola menutup bisnis tersebut. Informasinya, kawasan tersebut kini juga akan dijual oleh ahli warisnya.

Wayang Orang

Taman Rekreasi Istana Majapahit dulu juga sempat dipakai untuk menggelar pertunjukan wayang orang. Era tahun 1990-an Kelompok Wayang Orang Ngesti Pandawa harus berpindah homebase ke sana. Hal itu karena Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS) yang dulu menjadi gedung pertunjukkan tetapnya, dialih tangankan kepada pihak swasta oleh Pemkot Semarang. Mereka kelimpungan mencari tempat manggung.

Berbekal pesangon dari Pemkot Semarang, Ngesti Pandawa menggelar pertunjukkan di gedung GRIS yang baru. Hanya bertahan beberapa bulan karena akustik dan setting gedung memang tidak diperuntukkan untuk pertunjukkan, akhirnya WO Ngesti Pandawa menggelar pertunjukkannya di hall Istana Majapahit dan di TBRS Semarang

Setiap hari pertunjukkan di Istana Majapahit ini sukses menghadirkan penonton dalam jumlah besar. Hari Senin-Rabu digunakan untuk pertunjukkan Wayang Orang, sedangkan Kamis malam untuk pertunjukkan ketoprak. Jumat-Minggu kembali menggelar Wayang Orang.

Di era 1990-an itulah Istana Majapahit bisa bertahan dengan cukup bagus. Kolam renang dengan berbagai kedalaman tersedia. Setiap hari Minggu pagi, selalu ramai dengan anak-anak yang les renang. Otomatis taman rekreasi itu ramai. Dan malamnya juga ramai karena ada pertunjukkan wayang orang setiap hari. Tak jarang menghadirkan bintang-bintang nasional seperti Yati Pesek, Mamiek Podang, hingga Timbul Srimulat dan dalang Ki Manteb Sudarsono.(HS)

Jajaran DPRD Kota Semarang Siap Kawal Penataan Pedagang Eks-Johar Sampai Selesai

Tugiman, Lagu Baru Farel untuk Ganjar