in

Taliban Rebut Afganistan, Polri Imbau Masyarakat Waspadai Penyebaran Terorisme via Medsos

Kedatangan WNI yang dievakuasi dari Afghanistan ke tanah air, di Base Ops, Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Sabtu dini hari (21/8/2021).

 

HALO SEMARANG – Kemenangan kelompok Taliban di Afghanistan, diperkirakan bakal membangkitkan sel-sel tidur teroris di tanah air. Sel-sel tidur itu, bisa termotivasi untuk bangun dan menebar pengaruh termasuk melalui media sosial. Tujuan mereka antara lain untuk membentuk sel-sel baru.

Peringatan kewaspadaan itu disampaikan Kepala Densus 88 Antiteror Polri, Irjen Polisi Martinus Hukom, dalam webinar “Meningkatkan Partisipasi, Terorisme Dapat Ditanggulangi” yang diselenggarakan oleh Divisi Humas Polri, Selasa (31/08).

Acara tersebut turut dihadiri Deputi VII Badan Intelejen Negara (BIN) Dr Wawan H Purwanto, pengamat intelijen Dr Susaningtyas Kertopati, dan Dekan Fisip Universitas Airlangga Prof Dr Bagong Suyanto MSi.

Menurut Martinus, Densus 88 sudah menemukan indikasi munculnya sel-sel baru, termasuk melalui media sosial.

“Oleh karena itu ketika melakukan operasi, kami menemukan mereka membentuk sel-sel baru di media sosial. Mereka berdiskusi tentang keberhasilan Taliban menguasai panggung politik di Afghanistan. Ini bisa menjadi model bagi mereka, untuk melakukan hal yang sama di Indonesia,” tuturnya.

Secara historis gerakan aksi teror di Indonesia juga kerap berkaitan dengan Taliban dan Afganistan. Dia mencontohkan bahwa pada tahun 1990-an, Negara Islam Indonesia (NII) pernah ikut mengirimkan orang untuk berlatih di Afghanistan.

Menurut data Densus 88, saat ini sekitar 200 orang menjadi tokoh sentral di dalam kelompok-kelompok teroris tersebut.

Taliban kini sudah mulai dilirik oleh kelompok-kelompok teroris, seperti ISIS-K atau ISIS Provinsi Khurasan Afghanistan. Kelompok Al-Qaeda juga mulai mempengaruhi dominasi Taliban. Sebelumnya, dua kelompok ini juga memiliki hubungan harmonis.

Karena itu berbagai pihak, termasuk masyarakat internasional, saat ini sedang memantau perkembangan di Afganistan, terutama setelah Amerika Serikat meninggalkan negara itu dalam beberapa hari ke depan.

Adapun untuk upaya pengamanan di Indonesia, Martinus mengatakan Densus 88 Antiteror telah berhasil meringkus 309 orang, dalam beberapa waktu terakhir. Angka tersebut bakal bertambah, karena Densus 88 juga masih akan melakukan penangkapan-penangkapan lain.

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Rusdi Hartono mengatakan bahwa tindak pidana terorisme, merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crimes), sekaligus kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity).

Karena itu pemerintah selalu memberi perhatian penuh pada mereka. Perhatian ini tercermin dalam penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, serta dibentukan BNPT dan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri.

“Ini dimaksudkan untuk menanggulangi aksi terorisme dengan sebaik mungkin sehingga dapat memberikan jaminan atas kamtibmas yang kondusif yang pada gilirannya tercipta stabilitas sebagai modal utama pembangunan,” terang Brigjen Pol Rusdi Hartono.

Deputi VII BIN, Dr. Wawan Hari Purwanto mengakui fenomena kemenangan Taliban di Afghanistan telah memicu kekhawatiran sejumlah pihak tentang kebangkitan paham radikal dan teror. Keresahan ini terbukti dengan adanya ledakan bom di luar Bandara Kabul, 26 Agustus lalu.

“Peristiwa tersebut menyisahkan tanda tanya bagaimana modus baru gerakan terorisme saat ini dan bagaimana partisipasi publik menekan aksi tersebut,” tutup Dr. Wawan Hari Purwanto.

Ajak Civil Society

Sementara itu dalam kesempatan lain, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga berupaya mengajak banyak kelompok masyarakat atau sosial (civil society), untuk bekerja sama dalam penanggulangan terorisme.

Salah satu civil society yang diajak bekerja sama adalah Ikatan Saudagar Muslim Se-Indonesia (ISMI) dan The Habibie Center. BNPT bersama dua lembaga tersebut diketahui baru saja menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) bertempat di Jakarta pada Senin (30/8).

Kepala BNPT, Dr Boy Rafli Amar MH, seperti dirilis BNPT.go.id, mengatakan kerja sama yang tertuang dalam MoU ini, menjadi modal luar biasa dalam rangka menanggulangi terorisme.

“Semakin banyak civil society yang menjalin kerja sama sama dengan BNPT ini, menjadi modal luar biasa, utamanya untuk mengeliminasi paham radikal intoleransi dan radikal terorisme,” jelasnya.

Boy menjelaskan kerja sama dengan ISMI dan The Habibi Center, adalah bagian dari usaha pencegahan terorisme melalui edukasi.

“Masyarakat khususnya anak muda, sangat rentan terpengaruh paham radikalisme dan terorisme. Untuk itu perlu adanya edukasi, agar mereka dapat memfilter konten-konten negatif,” jelasnya.

Selain fokus di bidang edukasi seperti pendidikan dan pelatihan wawasan kebangsaan, riset dan kajian potensi radikal, pelaksaan RAN-PE, MoU ini juga berisi pemberdayaan ekonomi kepada mitra deradikalisasi dalam hal kewirausahaan.

Di bidang ekonomi, kerja sama BNPT dan dua lembaga tersebut, adalah pelaksanaan teknologi, inovasi dan kewirausahaan (Teknosa), pelaksanaan ekosistem ekonomi dan pengembangan kerja sama, pembinaan, kemajuan dan kemandirian UMKM.

Sementara itu, Ketua ISMI Dr Ing Ilham Akbar Habibie MBA, menyebutkan lembaganya sangat terbuka dan mendukung penuh BNPT dalam penanggulangan terorisme.

“Tema terorisme jadi aktual dan kompleks. Untuk itu perlu kerja sama di bidang  pendidikan dan ekonomi,” katanya.

Ilham juga meyakini tantangan penanggulangan terorisme oleh BNPT harus mendapatkan bantuan dari segala pihak, terutama di bidang pencegahan yang tantangannya sangat luar biasa.

“Tantangan dan kompleksitas perkembangan zaman membuat radikalisme dan terorisme perlu ditanggulangi bersama secara komprehensif,” jelasnya. (HS-08)

Share This

Target Level 1, Dewan Minta Pemkot Penuhi Target Testing dan Tracing

Lawan Korona, Polres Jepara Semprotkan Disinfektan, Bagi Masker, dan Kampanye Prokes