Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Tali Asih Tak Sesuai Harapan, Para WPS Sunan Kuning Tolak Tandatangani Berkas

Salah satu gang di Resos Argorejo atau Lokalisasi Sunan Kuning (SK) Semarang .

HALO SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang (Pemkot) Semarang kembali menemui kendala saat akan melanjutkan sosialisasi proses penutupan Resosialisasi Argorejo atau lokalisasi Sunan Kuning (SK) di Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Senin (7/10/2019).

Pasalnya, para Wanita Pekerja Seks (WPS) kompak menolak menandangani berkas pencairan tali asih yang diserahkan Dinas Sosial Kota Semarang. Beberapa berkas seperti kwitansi dan persetujuan penutupan, memang harus ditanda tangani oleh para WPS. Namun para WPS penghuni Argorejo kompak menolaknya.

Menurut Ketua Resosialisasi Argorejo, Suwandi, penolakan itu karena permintaan tanda tangan tersebut tidak memberikan kejelasan nasib para WPS.

“Kami tadi disuruh tanda tangan dari Dinsos Kota Semarang, tapi kami tolak daripada bermasalah ke depannya. Di kwitansi itu tidak tertera berapa nominal jumlahnya dan waktu kapan dilaksanakan penutupan,” kata Suwandi, Senin (7/10/2019).

Dia menambahkan, dalam berkas tersebut juga tidak sesuai dengan hasil kesepakatan awal. Di awal sosialisasi, para WPS dijanjikan akan diberi tali asih sebesar Rp 10,5 per orang.
Suwandi menilai, pergantian kabinet tidak bisa dijadikan alasan perubahan besaran tali asih yang disosialisasikan pada waktu lalu.

“Yang ganti kan cuma orangnya. Kebijakannya jangan sampai juga ganti. Kalau ganti orang tidak lantas ganti kebijakan,” ujarnya.

Dia berharap, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang merealisasikan apa yang telah dijanjikan. Suwandi menyebutkan, data WPS di Resos Argorejo adalah 475 orang sedangkan yang terdaftar untuk mendapat tali asih adalah 448 orang.

Salah satu penghuni Sunan Kuning, Meli menolak tanda tangan lantaran ketidakjelasan dalam berkas tersebut. Dia masih berharap, pemerintah membatalkan penutupan Sunan Kuning.

“Saya single parent punya anak dua. Kalau ini ditutup, saya tak tahu harus mencari penghidupan di mana,” kata Meli.
Namun sayangnya hingga Senin sore (7/10/2019) belum ada keterangan resmi dari Dinas Sosial Kota Semarang terkait masalah ini.

Sementara, Kasatpol Kota Semarang Fajar Purwoto mengatakan, pihaknya memperkirakan setelah anggaran disiapkan oleh Dinas Sosial, dan dilakukan pembahasan di tingkat kota, penutupan secara resmi SK akan dilaksanakan pada akhir Oktober 2019 atau paling tidak awal November 2019.

Untuk saat ini, sebelum penutupan secara resmi komplek lokalisasi ini, sesuai kesepakatan, mereka tetap menjalankan aktivitas seperti semula. Namun, setelah ditutup, warga asuh Argorejo, yang sudah menerima tali asih akan pindah dan dikembalikan ke kampungnya masing-masing.

“Nantinya secara teknis Satpol PP untuk pengamanan paska penutupan SK akan bertugas sampai Desember 2019 di sini. Dan akan mendirikan tiga pos pantau di tiga titik di sini, dengan melibatkan Polrestabes, Koramil, dan Kesbangpolinmas. Setiap pos itu akan ada sebanyak 7 personel yang siap bertugas pengamanan,” imbuh Fajar, baru-baru ini.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang