in

Tak Terpuji, Oknum Dokter Diduga Mencampurkan Sperma ke Makanan Istri Sejawatnya

Ilustrasi kekerasan seksual.

 

HALO SEMARANG – Kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi lagi. Seorang oknum dokter diduga melakukan tindakan tidak terpuji kepada korban, ketika pelaku menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di sebuah universitas di Semarang.

Korban merupakan istri teman sejawat pelaku sendiri. Pelaku dan suami korban adalah teman satu angkatan. Korban menerima perbuatan tak lazim oleh pelaku, yang diduga mencampurkan spermanya ke dalam makanan milik korban.

“Pelakunya adalah dokter dan sudah berkeluarga. Kejadiannya itu di rumah kontrakan yang disewa pelaku dan suami korban selama menempuh studi dokter spesialis,” ungkap pendamping korban dari LRC-KJHAM, Nia Lishayati kepada ketika dihubungi halosemarang.id, Senin (13/9/2021).

Selama menempuh pendidikan, korban yang merupakan ibu rumah tangga ikut tinggal di rumah kontrakan dengan suaminya bersama sang pelaku sejak tahun 2018.

Pada tahun 2019, korban bersama suaminya berniat berpisah menyewa rumah sendiri. Namun pelaku merasa keberatan dengan alasan kekurangan biaya untuk menyewa rumah sendiri.

Kejadian itu diduga terjadi pada bulan Oktober tahun lalu. Korban curiga setelah bentuk dan posisi makanannya selalu berubah. Korban berinsiatif melakukan perekaman secara tersembunyi dengan perangkat ponselnya, dan mengetahui perilaku buruk sang pelaku.

“Tampak jelas di dalam video, ketika korban sedang mandi, pelaku mendekati ventilasi jendela kamar mandi korban. Kemudian pelaku melakukan onani dan setelah klimaks mencampurkan spermanya ke makanan korban,” terang Nia.

Dampak dari kejadian itu, trauma mendalam dialami korban. Hingga sekarang, korban mengalami gangguan susah tidur dan emosional. Sejak bulan Desember 2020, korban mengkonsumsi obat anti depresan yang diresepkan psikiater.

“Korban juga harus melakukan pemeriksaan dan mengkonsumsi obat anti depresan selama minimal beberapa bulan ke depan. Selain ke psikiatri, korban juga melakukan pemulihan psikologis ke psikolog,” ucapnya.

Nia menyebutkan, atas perbuatan ini pelaku telah memenuhi unsur melakukan kekerasan terhadap perempuan. Seperti tertuang dalam Rekomendasi Umum PBB Nomor 19 tentang Kekerasan Terhadap Perempuan. Selain itu, pelaku juga diduga melanggar Pasal 281 KUH Pidana tentang tindakan pidana merusak kesopanan di muka umum, dan melanggar sumpah dokter.

Kasus tersebut telah dilaporkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah (Jateng). Namun mengalami kendala ketika berkas dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Jateng, dua kali berkas dikembalikan oleh jaksa. Jaksa juga meminta pelaku untuk diperiksa kejiwaannya.

Perlindungan dari (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) LPSK juga didapatkan korban berupa layanan pemenuhan hak prosedural, bantuan medis, rehabilitasi psikologis, dan fasilitasi restitusi.

“Jaksa mengembalikan berkas dan meminta penyidik untuk memeriksa kondisi kejiwaan pelaku. Padahal kalau melihat seorang dokter harus sehat jasmani dan rohani, apalagi pelaku sudah menempuh program program spesialis dan cumlaude. Kondisi ini agak janggal,” katanya.

Korban bersama pendamping menuntut Polda Jateng segera mempercepat proses penanganan kasus berkeadilan gender. Dan mendesak Kejaksaan Tinggi Jateng memastikan proses pemeriksaan yang adil dan menjalankan Peraturan Kejaksaan Tinggi Nomor 1 Tahun 2021 tentang Akses Keadilan Bagi Perempuan dan Anak dalam Penanganan Perkara Pidana.

“Termasuk memastikan Jaksa yang menangani agar memasukkan tuntutan maksimal dan memasukkan restitusi ke dalam tuntutan dan mempercepat proses penanganan kasus agar segera disidangkan,” tandasnya.(HS)

Share This

Tim DVI Polri Dalami Data Ante Mortem Dua Napi WNA Korban Kebakaran Lapas Tangerang

Dokter Cabul Akhirnya Ditetapkan Jadi Tersangka