in

Sumur Tua Kota Lama Semarang, Nasibmu Kini

Sumur tua di Kota Lama Semarang yang kini ditutup.

KEBERADAAN sumur tua di kawasan Kota Lama, Semarang, terancam eksistensinya oleh program revitalisasi yang dilaksanaman pemerintah setempat. Nilai sejarah situs tersebut dikhawatirkan hilang seiring pembangunan toilet permanen yang dibangun di dekat sumur tahun 2012 lalu, serta kebijakan penutupan sumur menggunakan cor beton awal tahun 2022 ini.

Di kawasan Kota Lama Semarang memang terdapat sumur tua yang mempunyai peran penting dalam perjalanan sejarah Semarang. Sumur yang konon berusia lebih dari 180 tahun itu terletak di pinggiran Taman Srigunting.

Sayangnya, sumur yang memiliki nilai sejarah panjang dalam perjalanan pembentukan Kota Semarang tersebut, alih-alih dirawat, sumur tersebut malah seakan diabaikan. Pada tahun 2022 ini sumur tersebut ditutup beton, setelah sebelumnya pada tahun 2019 lalu dibangun toilet umum permanen di dekatnya.

Untuk diketahui, bibir lubang sumur bersejarah itu berada di tengah-tengah antara Taman Srigunting dengan Hotel Kotta yang saat ini masih proses pembangunan. Dulu, setengah bibir sumur itu terbuka sehingga airnya bisa diambil oleh masyarakat umum.

Namun kini sumur yang kabarnya tak pernah kehabisan sumber itu benar-benar ditutup rapat, dengan dibuatkan sumur pompa untuk aktivitas warga mengambil air bersih.

Menurut informasi, yang menutup sumur adalah pihak hotel. Hanya saja belum ada yang bisa dikonfirmasi. Di lapangan hanya ada pekerja bangunan hotel yang tidak tahu siapa pemiliknya.

Koordinator Komunitas Penggiat Sejarah Semarang (KPS), Rukardi Achmadi menyayangkan ditutupnya sumur bersejarah tersebut. “Padahal, sumur itu pada awalnya dibangun untuk kepentingan publik. Kemarin kami lihat kok ditutup, ada apa ini?” kritik Rukardi.

Pemerhati Sejarah Kota Semarang Tjahjono Rajardjo menambahkan, sesuai catatan sejarah, sumur di Taman Srigunting (dulu Paradeplein) dibangun pada tahun 1841. Kedalamannya mencapai 71 meter.

Sumur tersebut menyediakan air minum yang melimpah dan berkualitas tinggi. Tidak hanya dimanfaatkan penduduk kota, tetapi juga untuk kapal-kapal yang bersandar di dermaga dekat kawasan ini.

Ketua Badan Pengelolaan Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, Hevearita G Rahayu saat dikonfirmasi menegaskan, pihaknya baru mengetahui penutupan sumur tersebut setelah mendapatkan laporan dari masyarakat. Dirinya belum mengetahui siapa pihak yang melakukan penutupan sumur tersebut.

“Sudah kami komunikasikan, karena banyak jadi perhatian masyarakat. Dalam waktu dekat penutup sumur akan kami bongkar,” kata Wakil Wali Kota Semarang ini, Senin (18/4/2022).

Sumur Artetis Pertama

Sebagai informasi, sumur tua itu memiliki nilai sejarah panjang dalam perjalanan pembentukan Kota Semarang.

“Ini adalah sumur bersejarah, sumur artetis pertama di Semarang yang dibuat oleh Pemerintah Belanda tahun 1841, berkedalaman 71 meter,” tutur pemerhati sejarah Semarang, Johanes Christiono, beberapa waktu lalu.

Selain merupakan sumur artetis pertama di Semarang, sumur tua Kota Lama ini juga banyak memberi manfaat bagi warga Semarang. Bahkan masih digunakan oleh warga dan petugas pemadam untuk menanggulangi kebakaran di area Semarang wilayah bawah.

“Sumur ini pernah berperan membantu mengatasi wabah penyakit yang merebak di akhir tahun 1800 dan 1916. Juga untuk suplai air bersih kapal dan pelabuhan. Dulu kan kapal sampai Kali Berok, air bersihnya diambilkan dari sumur ini,” jelas dia.

Pegiat sejarah Semarang, Rukardi Achmadi menyebut sumur tua Kota Lama dulunya terletak di area lapang yang disebut Paradeplein atau lapangan untuk parade militer. Pemerintah Belanda membangun sumur dengan tujuan mengurangi dampak wabah kolera yang kala itu melanda Semarang.

Rukardi menyebut Semarang saat itu memang endemik dengan wabah penyakit kolera dan malaria. Ini lantaran Semarang sering dilanda banjir dan dikelilingi rawa, tempat yang sangat cocok untuk berkembang biaknya nyamuk Anopheles. Ditambah kebiasaan hidup tidak sehat dari warga, terutama warga Bumiputra.

Sejarah mencatat, wabah kolera paling parah terjadi pada tahun 1821. Saat itu tercatat 150 hingga 200 orang meninggal dunia setiap hari akibat penyakit tersebut. Setelah membangun sumur Paradeplein, pemerintah membangun sumur-sumur sejenis antara lain di Tawang, Karang Bidara yang sekarang jadi Jalan Raden Patah, dan Poncol.

“Jadi itu lah sumur artetis pertama di Semarang yang dibuat untuk umum. Mengingat pentingnya situs ini bagi sejarah perkembangan Kota Semarang maka sudah sepatutnya dilestarikan,” tegas dia.(HS)

Bupati Demak Lantik Penjabat Sekretaris Daerah

Polri Gelar Lomba Kreasi Setapak Perubahan dan Festival Musik Bhayangkara