in

Sukoyo, Korban Gempa Mamuju Mengaku Masih Trauma

Pemkab Karanganyar memberikan bantuan paket sembako dan uang Rp 500 ribu per jiwa, kepada 23 warga asal Kecamatan Jumantono dan Jatipuro Karanganyar, yang menajdi korban gempa di Mamuju, Sulawesi Barat. (Foto : Karanganyarkab.go.id)

 

HALO KARANGANYAR – Bagi Sukoyo (45), warga Mamuju asal Jumantono, Karanganyar, peristiwa gempa dengan magnitudo 6,2, Jumat (15/1) di Mamuju, Sulawesi Barat, benar-benar merupakan pengalaman tak terlupakan.

Dia bahkan mengaku masih trauma, karena mengalami langsung bencana itu. Karena itulah dia beserta keluarganya memilih pulang kampu ke Jumantono, Karanganyar untuk menenangkan diri.

Dia menuturkan, saat itu pukul 02.30 dinihari terdengar suara gemuruh, disusul goyangan gempa yang kuat. “Saya keluar rumah. Hotel dan mall di dekat rumah saya ambruk. Rumah saya retak-retak, sehingga tak berani masuk,” papar Sukoyo.

Setelah gempa, dia bersama empat anggota keluarganya pergi ke bukit atau tempat tinggi. Dia takut terjadi tsunami, seperti di Palu Sulawesi Tengah.

“Di bukit itu, saya menginap satu malam,’’ kata dia, seperti dituturkan Karanganyarkab.go.id.

Ketika pulang, dia dan keluarganya tak berani masuk rumah, apalagi ke lantai dua yang sudah retak-retak. Dia khawatir bangunan itu bisa sewaktu-waktu runtuh.

Bukan hanya itu, gempa juga telah mengakibatkan banyak orang meninggal. Para korban itu termasuk teman Sukoyo yang berasal dari Sukoharjo.

Karena itulah dia dan keluarganya kemudian memutuskan untuk pulang ke Karanganyar.

“Kebetulan ada hercules TNI yang kosong seusai ngedrop bantuan. Kami diizinkan untuk bisa pulang ke Jawa,” ungkapnya.

Sukoyo mengaku pulang Minggu lalu. Pihaknya terbang dari Mamuju ke Sulawesi Selatan. Di sana menginap tiga hari, untuk kemudian pulang ke Solo dan menginap satu malam dan kemudian melanjutkan pulang ke Karanganyar.

Kehidupan lelaki yang sudah 18 tahun mencari nafkah di Mamuju ini sebenarnya sudah relatif mapan. Dia sudah mempunyai warung atau toko, yang menjadi sandaran hidup sehari-hari.

Tapi kini akibat gempa, rumah dan tokonya retak-retak. Dia mengaku belum memiliki gambaran untuk membenahi kehidupan di tempat perantauannya itu. (HS-08)

Share This

Tavip Supriyanto Meninggal Dunia, Ini Kesan Jajaran DPRD Kota Semarang

Doni Monardo Menduga Terpapar Covid-19 Saat Makan Bersama