in

Sukirman Ingatkan Soal Prioritas Penanganan Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Wakil Ketua DPRD Jateng, Sukirman

HALO SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Jateng, Sukirman mengingkatkan kembali tentang fokus penanganan kemiskinan ekstrem di Jawa Tengah pada program pembangunan 2024 ini.

Sukirman memberikan penegasan mengenai kondisi kemiskinan di Jateng terutama di daerah-daerah yang masuk wilayah ekstrem. Dia meminta Pejabat Gubernur sampai bupati/wali kota supaya mendata secara detail kembali kondisi kemiskinan di daerah masing-masing. Dengan validitas data kemiskinan yang terbarukan, pemerintah daerah dapat fokus menangani serta mengurangi jumlah kasus di daerah masing-masing. Programnya pun akan tepat sasaran dengan data terbaru.

“Dalam konteks kemiskinan, program yang sudah dicanangkan Pemprov Jateng, kepala daerah bisa lebih detail mendata seluruh warga-warga yang miskin. Mungkin memang agak kerepotan, namun harapannya angka kemiskinan dapat kita turunkan dengan program yang tepat sasaran,” ungkap Politikus PKB itu.

Pembaharuan data diperlukan, tentu agar program yang dirancang Pemprov Jateng bisa tepat sasaran. Untuk itu pemerintah daerah dia minta meng-update data jumlah warga miskinnya kembali, sehingga muncul data baru dalam perencanaan program.

Sukirman juga mengingatkan soal kemiskinan menjadi kebijakan prioritas dalam rencana pembangunan daerah (RPD) 2024-2026. “Jadi hal tersebut bisa benar-benar menjadi kerangka pikir perjuangan kita bersama,” tandasnya.

Stunting dan Pengangguran

Sebelumnya, penurunan angka kemiskinan ekstrem, pengangguran, hingga persoalan stunting masih menjadi prioritas Pemprov Jateng dengan melakukan berbagai upaya, di antaranya dengan menyalurkan berbagai bantuan untuk beberapa sektor.

“Di tahun ini kami akan memprioritaskan anggaran untuk mengurangi angka kemiskinan, stunting dan pengangguran, melalui berbagai bantuan tadi,” kata Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana.

Nana Sudjana menyebut jumlah angka kemiskinan ekstrem di wilayahnya tinggal 1,1% pada 2023. Pada 2024 ditargetkan tuntas sampai 0%.

Prosentase kemiskinan ekstrem di Jateng menurun dibandingkan pada 2022 yang mencapai 1,97%, namun di penghujung tahun ini menjadi 1,1% atau turun sebesar 0.87%.

“Pada tahun 2023 kemiskinan ekstrem Jateng berada di posisi 1,1%,” kata Nana Sudjana beberapa waktu lalu.

Ada delapan komponen sasaran untuk menekan angka kemiskinan ekstrem. Yaitu perbaikan rumah tidak layak huni, pemasangan listrik gratis (program listrik murah), sumber air, jamban, penanganan stunting, anak tidak sekolah, disabilitas dan individu tidak bekerja.

Selain menggunakan anggaran negara, berbagai pihak juga digandeng untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pengentasan kemiskinan. Antara lain CSR perusahaan swasta, BUMN, BUMD, lembaga amil zakat, dan masyarakat filantropi.(Advetorial-HS)

DJP Jateng I Mudahkan Akses Pelayanan dengan Pojok Pajak, Ini Jadwalnya

Diundang Khutbah Nikah hingga Ajarkan Tilawah, Ini Cerita Dai 3T di Selat Nasik Belitung