in

Suhu Kota Semarang Panas, Hutan Kota Semakin Berkurang

Sekretaris Komunitas Pecinta Alam Jagad Panguripan (JP) Pipin (kiri) saat ditemui di Hutan Kota kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).

 

HALO SEMARANG – Kota Semarang beberapa waktu terakhir tercatat sebagai bagian lima kota dengan suhu terpanas di Indonesia. Merespon hal tersebut, sekelompok aktivis lingkungan memberikan fokus perhatiannya terhadap hutan kota di Kota Semarang yang semakin berkurang.

“Luas hutan kota sekitar dua hektare. Diisi oleh kebanyakan tanaman keras bambu hutan, pinus, akasia, mahoni, dan petai,” ungkap Sekretaris Komunitas Pecinta Alam Jagad Panguripan (JP) Pipin, saat ditemui di Hutan Kota kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Senin (4/9/2021).

Ia mengatakan, belum banyak masyarakat yang mengetahui hutan kota di kawasan TBRS. Padahal merupakan satu-satunya hutan kota yang terletak di pusat keramaian, namun ketika memasuki seperti jauh dari kota.

“Satu-satunya hutan kota yang ada di tengah dan pusat Kota Semarang,” ujarnya.

Meskipun komunitasnya berada di bawah Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Pipin selalu menyuarakan kurangnya hutan kota. Ia menyebut, hutan kota di Kota Semarang runtuh dengan kepentingan sesaat. Banyak hutan kota yang beralih fungsi, menjadi seperti fasilitas ruang publik hingga permukiman.

“Kami dari aktivis lingkungan hidup, sedikit banyak yang mengelola di bawah Dinas Lingkungan Hidup. Ini juga sebagai paru-paru Kota Semarang, sebagai produksi oksigen dan sudah banyak hutan kota yang beralih fungsi,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, kondisi hutan kota di Kota Lumpia semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan catatannya, hutan kota di kawasan TBRS adalah bagian dari hutan kota yang jumlahnya kurang dari sepuluh.

“Catatan kami masih ada lima hingga delapan hutan kota, data resminya ada di Dinas Lingkungan Hidup,” jelasnya.

Selain berfungsi sebagai paru-paru kota, Humas Komunitas Pecinta Alam JP Yovie Dian Aristiawan mengatakan, hutan kota juga menjadi sumber resapan air. Pihaknya berupaya untuk selalu menjaga kelestariannya.

“Mengembangkan untuk menjaga kelestariannya. Hutan kota di sini fungsinya sebagai resapan air karena dikelilingi permukiman yang banyak menggunakan pompa-pompa artetis. Semisal hutan kota ini hilang, matilah sumur-sumur itu. Sangat fatal sekali seumpama tidak ada hutan kota,” katanya.

Pihaknya berharap, pemerintah untuk berkonsentrasi memperhatikan hutan kota sebagai daya tarik wisata dan menambah jumlahnya.

“Sebisa mungkin dari dinas terkait untuk bisa mengelola dan menambah lagi,” tandasnya.(HS)

Share This

Bank Jateng Cabang Kendal Dukung Pengembangan Pantai Indah Kemangi

Prakiraan Cuaca Semarang Dan Sekitarnya, Selasa (5/10/2021)