Sudah Seabad Rakyat Berparlemen

 

Ketua Bdan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI Agung Budi Santoso.(Foto: dpr.go.id)

 

HALO SEMARANG – Rakyat Indonesia ternyata sudah sekitar seabad berparlemen. Sebuah perjalanan panjang demokrasi, yang tercatat dalam buku “Seabad Rakyat Indonesia Berparlemen”.

Oleh Museum  DPR  RI,  buku  tersebut  dibedah  lewat  diskusi  virtual,  menghadirkan  tiga  pembicara bidang  sejarah,  yaitu   Asvi  Warman  Adam  (sejarawan  LIPI),  Mohammad  Iskandar  (sejarawan  UI),  dan  Nur  Janti (periset  sejarah,  majalah  Historia).

Seperti dirilis dpr.go.id Acara   yang  digelar  Kamis  (15/10/2020)  itu,  dihadiri  pula  Ketua  Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI Agung Budi Santoso.

Dalam  sambutannya,  Agung  mengatakan,  Bangsa  Indonesia  sudah  lebih  dari  100  tahun  berparlemen.  Parlemen  Indonesia  pun pernah berkali-kali mengalami  perubahan bentuk,  mengikuti  bentuk  negara  yang  dianut.

Mulai  dari Volksraad  di  era  kolonialisme,  lalu  parlementer di  era  kemerdekaan,  parlemen  gotong-royong  pada  era  Demokrasi Terpimpin,  hingga  parlemen  yang  hadir  di  era  modern  saat  ini.

Walaupun akses menyuarakan  aspirasi  rakyat  sangat  terbatas  pada  parlemen  era  kolonialisme,  namun  banyak  tokoh  politik penting  di  Indonesia, yang  memperjuangkan  aspirasi  rakyat.

“Banyak  tokoh  nasionalis  yang menyuarakan  aspirasi  rakyat  dan  memperjuangkan  kemerdekaan  Indonesia.  Aspirasi  masyarakat  diperjuangkan secara  maksimal  oleh  Anggota  Dewan,  seperti  Muhamad  Husni  Thamrin,  Cipto  Mangkusumo,  Muhammad Yamin, Otto Iskandardinata, dan sebagainya,” ucap Agung.

Catatan  sejarah  parlemen  ini  penting  direkam  kembali  dalam  memori  anak  bangsa.  Perjalanan  parlemen  di Republik  ini  juga  menggambarkan  sejarah  politik  Indonesia.  Bedah  buku  yang  dimoderatori  Achmad  Sani Alhusain  ini,  ingin  “menguliti”  buku  Seabad   Rakyat  Indonesia  Berparlemen.  Buku  ini  lalu  dibedah  para  sejarawan dengan tajuk “Upaya Menyatukan Republik Indonesia 1950-1960 dan Wajah Baru Parlemen Indonesia”.

Sejarah  juga  mencatat,  Indonesia  pernah  berbentuk  Republik  Indonesia  Serikat  (RIS),  lalu  berubah  menjadi Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  (NK RI).  Tentu  bentuk  negara  ini  memengaruhi  format  parlemen  di  Tanah Air.

“Harapan  saya  semoga  buku  Seabad Rakyat Indonesia Berparlemen,  dapat  terkenal  luas  dan  dapat dimanfaatkan  publik,  baik  dalam  segi  peningkatan  wawasan  parlemen  maupun  referensi  penelitian.  Saya berharap dapat membedah buku ini secara kondusif dengan peserta daring hari ini,” harap Agung.  (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.