Stunting Belum Turun, Kudus Galakkan Gemar Makan Ikan

Wakil Ketua I TP PKK Kabupaten Kudus, Mawar Hartopo, dalam pelatihan pengolahan hasil perikanan, di Aula Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus. (Foto : Laman Pemkab Kudus)

 

HALO KUDUS – Stunting di Kudus belum mengalami penurunan, yaitu masih pada angka 4,71 persen. Karena itu Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) menjadi penting, sebagai upaya peningkatan gizi anak balita.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua I TP PKK Kabupaten Kudus, Mawar Hartopo, ketika membuka pelatihan pengolahan hasil perikanan, di Aula Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Selasa (16/3).

Dalam kesempatan itu, Mawar Hartopo berharap ikan dapat menjadi menu wajib setiap hari, karena harganya yang terjangkau dan mengandung banyak protein.

“Tiap hari minimal ada satu menu ikan, harganya juga terjangkau dan disukai anak-anak dan dewasa. Tak perlu ikan mahal, yang harganya terjangkau seperti lele dan nila juga kaya akan protein yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan anak,” kata dia, seperti dirilis laman resmi Pemkab Kudus.

Lebih lanjut Mawar menyatakan apresiasinya, pada penyelenggaraan kegiatan tersebut. “Saya sebagai Wakil Ketua I TP PKK dan pribadi, sangat mengapresiasi Dinas Pertanian dan Pangan yang telah memfasilitasi kegiatan. Kegiatan ini sangat erat kaitannya dengan program PKK, yakni dalam mengampanyekan program gemarikan dan penanganan stunting,” ujar Mawar Hartopo dalam sambutannya.

Dalam kegiatan yang diikuti 45 orang, di antaranya adalah kader PKK itu, peserta dilatih mengolah makanan berbahan dasar ikan nila.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Catur Sulistiyanto, mengatakan pihaknya sangat mendukung pemberdayaan kader PKK, sebagai garda terdepan dalam mengampanyekan program gemarikan dan penanganan stunting.

Karenanya dia berharap kolaborasi dalam kegiatan tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Berharap kegiatan selama tiga hari kedepan dapat berjalan lancar, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Selain kegiatan ini, kami juga sedang melakukan pengolahan pangan lokal sebagai alternatif beras,” jelasnya.

Usai membuka kegiatan, Mawar Hartopo, juga berkesempatan menengok pelatihan pengolahan pangan lokal, sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.