in

Stok Minyak Goreng Langka di Pasaran, Begini Solusinya Menurut Pengamat dari Undip

Stok minyak goreng satu harga sebesar Rp 14 ribu per liter, saat masih tersedia di salah-satu swalayan beberapa waktu lalu. 

HALO SEMARANG – Komoditas bahan pangan penting masyarakat terutama minyak goreng pada satu pekan terakhir mengalami kenaikan harga cukup signifikan dan juga terjadi kelangkaan di pasaran, baik itu di toko-toko modern maupun pasar tradisional.

Di salah satu pasar tradisional Kota Semarang misalnya minyak goreng kemasan sampai menyentuh harga Rp 20 ribu per liternya. Sedangkan minyak goreng kemasan satu harga sebesar Rp 14 ribu per liter di toko-toko modern kosong dan kehabisan stok.

Salah satu karyawan sebuah swalayan di Semarang saat ditemui, Indah mengaku bahwa stok minyak goreng subsidi pemerintah dengan harga Rp 14 ribu perliter sudah ludes dan kosong sejak satu pekan lalu.

Dia mengatakan, sampai saat ini memang belum ada lagi stok minyak goreng, karena belum datang.

“Saya kurang tahu kapan lagi datangnya, sekarang minyak goreng sudah kosong di sini,” katanya, Sabtu (5/3/2022).

Dengan langkanya stok komoditas minyak goreng di pasaran dan harga yang cukup tinggi, membuat masyarakat Kota Semarang sangat resah. Terutama pelaku usaha seperti UMKM yang memakai bahan utamanya minyak goreng yang juga terkena imbasnya.

Menurut pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Undip Semarang, Wahyu Widodo mengatakan, sebenarnya adanya kenaikan harga dan kelangkaan stok minyak goreng di pasaran karena memang ada saling keterkaitan dan dipengaruhi oleh harga komoditas minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dunia, yang meningkat cukup signifikan.

Sejak dua tahun terakhir harga komoditas tersebut meningkat sehingga dengan adanya kenaikan harga CPO, produksi dalam negeri dilarikan di pasar internasional.

“Padahal produksi minyak sawit mentah CPO Indonesia terbesar ke-2 di dunia, setelah Malaysia. Akibatnya di pasar domestik menjadi kekurangan pasokan, dan harga minyak goreng pun jadi naik. Karena adanya saling keterkaitan dengan harga komoditas dunia,” terangnya.

Sebenarnya, kata Widodo, untuk mencukupi kebutuhan domestik minyak goreng dalam negeri, pemerintah memiliki kebijakan yang harus diikuti oleh para produsen minyak goreng.

“Namun, kenyataannya komoditas CPO dunia mayoritas justru untuk ekspor, namun di samping itu sebenarnya ada aturan jika produsen minyak goreng juga harus punya kewajiban penuhi kebutuhan domestik. Agar stok di dalam negeri terjaga,” katanya.

Respon dari pemerintah terhadap kenaikan harga minyak goreng, menurut dia langkahnya kurang tepat, karena pemerintah berencana untuk menghapuskan minyak goreng curah dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

“Kebijakan ini saya rasa tidak tepat waktunya, karena berbarengan dengan adanya harga CPO dunia yang sedang bergejolak. Akhirnya kebijakan untuk menghapuskan minyak curah tidak jadi diberlakukan, namun sempat kacaukan harga minyak goreng di pasar. Padahal harga minyak goreng curah dengan kemasan selisihnya cukup jauh, justru yang paling banyak memakai minyak curah para pelaku UMKM,” paparnya.

Bahkan, lanjut Widodo, kebijakan pemerintah yang menetapkan harga tunggal Rp14 ribu per liter ketika harga minyak goreng masih tinggi, itu tidak efektif.

“Sehingga membuat stok minyak goreng tidak ada. Mestinya, kewajiban produsen untuk penuhi dulu market domestik ini bisa mendapatkan pengawasan yang ketat. Jadi stok ada di pasaran,” jelasnya.

Disisi lain, adanya gejolak harga minyak goreng saat ini juga digunakan sejumlah “pemain” untuk meraih keuntungan sesaat dengan menimbun minyak goreng, dan mengeluarkannya jika kondisi harga naik cukup tajam.

Menurut dia, pendorong utama kenaikan harga minyak goreng adalah harga CPO internasional yang mengalami kenaikan cukup signifikan, seperti komoditas lainnya. Di antaraya bahan tambang seperti batu bara, dan membuat neraca perdagangan surplus.

“Jika produsen diawasi produksi minyak sawit memprioritaskan kebutuhan untuk domestik, meski adanya kenaikan harga, tidak menjadi berat, karena stok ada. Seperti misalnya yang terjadi pada kenaikan harga BBM, karena harga minyak dunia juga tinggi,” katanya.

Dia memberi masukan, seharusnya pemerintah ketika market tidak stabil, tidak perlu untuk mengambil kebijakan yang ekstrim.

“Seperti kebijakan sebelumnya yang ingin menghilangkan minyak curah dalam kondisi tidak pastinya harga minyak dunia. Sehingga justru bisa memperkeruh dan membuat panik masyarakat. Kemudian, langkah selanjutnya pemerintah mempertegas adanya kebijakan domestik market obligation dari produsen untuk penuhi kebutuhan dalam negeri harus dikawal, dan sampai ke masyarakat,” harapnya.

Dia mengakui saat ini memang harga CPO dunia sangat tinggi sehingga produsen memilih membawanya ke pasar internasional, sedangkan harga domestik Rp 14 ribu. Jika dibandingkan di pasar domestik dengan harga di internasional lebih tinggi.

“Paling tidak pasokan tetap ada,¬†sekarang harga Rp 14 ribu tidak ada. Sekarang prioritas supaya kebutuhan domestik terpenuhi. Pemerintah jangan ngotot harga Rp 14 ribu, tapi stok tidak ada,”urainya.

Ditakutkan kenaikan harga minyak goreng akan merembet terhadap kenaikan harga komoditas lainnya.

“Karena selama harga internasional masih tinggi, kebijakan satu harga dan operasi pasar tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, karena volumenya belum cukup. Kondisi seperti ini dalam waktu dekat sulit stabil dan bertahan cukup lama, mengingat distribusi logistik internasional tidak lancar karena imbas Covid-19 dan perang antara Ukraina -Rusia juga berdampak pada harga komoditas bahan pangan lainnya, ” pungkasnya. (HS-06)

Ulfi Imran Basuki Pimpin Persatuan Golf Indonesia Kota Semarang

Selain Sembako, Harga Tepung Terigu di Kendal Juga Ikutan Naik