Status Rumah Tak Jelas, Kisah Di Balik Perjuangan Kapten Sanjoto Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Kapten Sanjoto saat menceritakan kondisi kehidupannya kini kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang bertamu di rumahnya, Rabu (19/8) pagi.

 

MESKI usianya sudah 90 tahun, namun ingatan Kapten Sanjoto akan kisah-kisah heroik saat melawan penjajahan Belanda dan Jepang masih tajam.

Kakek yang mengaku sudah memikul senjata melawan penjajah di usia 12 tahun itu, saat ini masih nampak lancar saat menceritakan kisahnya kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

- Advertisement -

Rabu (19/8) pagi, rumah Kapten Sanjoto memang didatangi orang nomor satu di Jawa Tengah itu. Usai sepedaan keliling Kota Semarang, Ganjar menyempatkan mampir di rumah Kapten Sanjoto.

Kepada Ganjar, Kapten Sanjoto dengan bangga memperlihatkan foto-foto masa mudanya. Termasuk saat bertugas mengawal Presiden Soekarno hingga Jenderal Ahmad Yani.

“Saya juga pernah ditugaskan untuk mengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman, saat itu ditandu untuk menyeberang jalan poros Wonogiri-Ponorogo. Itu di jalan banyak tentara Belanda, sampai aman hingga Jenderal Besar Soedirman bertemu Bung Karno,” certia Kapten Sanjoto.

Namun di balik kisah heroik seorang Kapten Sanjoto, ada kisah pilu yang dirasakan. Selama bertahun-tahun, dia bersama keluarganya tinggal di sebuah rumah di Jalan Belimbing, Peterongan Kota Semarang tanpa kejelasan status.

Rumah tersebut menurut Kapten Sanjoto, dulunya adalah tempat persinggahan petinggi PKI, DN Aidit.

Ketika mendapat perintah untuk melakukan penggrebekan di rumah itu, dia tidak menemukan DN Aidit. Kondisi rumah saat itu rusak parah, dan ada peta di dinding yang ditujukan bagi pengikut Aidit untuk kabur.

“Setelah itu, karena saya perwira, jadi tinggal di hotel. Komandan saya kemudian memberikan rumah itu kepada saya. Rumahnya rusak parah, kemudian saya dandani dan tempati sejak tahun 1969,” jelasnya.

Sampai saat ini, status kepemilikan rumah yang ditempati Kapten Sanjoto bersama keluarga itu belum jelas. Ia juga sempat mengurus hak atas rumah itu sejak 2004, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan.

“Saya hanya ingin, rumah ini menjadi tempat berlindung saya menikmati masa tua bersama keluarga,” terangnya.

Rumah yang ditempati Kapten Sanjoto itu memang jauh dari kata layak. Meski sudah ditembok, namun sering bocor saat hujan. Beberapa bagian atap juga sudah ambrol dan tembok retak-retak.

Ganjar pun langsung bergerak cepat. Melihat ada Lurah dan Camat yang hadir di kediaman Kapten Sanjoto, dia langsung memerintahkan untuk membantu mengurusnya.

“Beliau termasuk orang hebat, masih sehat dan sampai hari ini bisa menceritakan kisah perjuangannya saat gerilya melawan penjajah. Beliau juga menjadi pengawal Jenderal Besar Soedirman, pindah ke Tegal bersama Jenderal Ahmad Yani dan pernah mengawal Bung Karno. Kalau kita ingin mendengarkan cerita sejarah yang dilakukan pelaku, beliau ini veteran yang langka saat ini,” kata Ganjar.

Namun saat ini, menurut Ganjar, hal yang paling penting adalah membantu kehidupan Kapten Sanjoto. Rumah yang ditempatinya, yang konon dulu merupakan tempat persinggahan DN Aidit di Semarang, tidak jelas statusnya.

“Dan rumah ini ditempati beliau, yang statusnya juga hanya memakai. Ada rencana dan kabar baik akan dihibahkan, maka saya minta tolong Lurah dan Camat untuk mengecek asetnya. Kalau memang punya Pemkot Semarang, maka bisa diberikan sesuai yang beliau pernah dengar. Nanti saya akan bantu mendapatkannya,” kata Ganjar.

Ganjar juga akan membantu memperbaiki kondisi rumah yang sudah bocor. Bersama semua pihak termasuk TNI, Ganjar meminta semuanya ikut peduli.

“Saya rasa, setidaknya beginilah cara kita menghormati sesepuh-sesepuh kita. Dalam usia 75 tahun Indonesia merdeka, saya rasa ini waktu yang tepat,” tegasnya.

Ganjar juga begitu terkesan dengan sikap Kapten Sanjoto. Meski hidup pas-pasan, namun dia tidak pernah mengeluh. Gaji yang diterima dari negara sebagai veteran, juga tidak dipermasalahkan.

“Saya terharu, beliau sama sekali tidak mengeluh, tidak merasa kekurangan dan selalu menerima dengan ikhlas. Tidak ada keluar kata-kata, saya sudah berjuang kok hidupnya begini. Tapi sebagai generasi berikutnya termasuk pemerintah saat ini, harus ikut perhatian. Kisah perjuangan dan integritas yang ditunjukkan beliau sungguh-sungguh berkesan bagi generasi muda saat ini,” tutupnya.

Sementara itu, istri Kapten Sanjoto, Sudarsih mengatakan, dirinya sangat gembira dengan tindakan cepat Ganjar Pranowo. Dia yakin, Ganjar mampu mewujudkan keinginan keluarganya untuk bisa mendapatkan hak atas rumah yang ditempati.

“Kalau cita-cita bapak itu, bisa memiliki rumah ini sebelum meninggal. Saya yakin Pak Ganjar bisa membantu. Dan saya terima kasih Pak Ganjar peduli dengan nasib kami,” ucapnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.