Status Burung Kepodang Kritis, Pemda Diminta Buat Aturan Perlindungan

Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, menemukan penumpang kapal laut menyelundupkan satwa burung asal Kalimantan di Pelabuhan Tanjung Emas, belum lama ini.

 

HALO SEMARANG – Status burung Kepodang saat ini kritis atau dalam ancaman kepunahan. Maka untuk itu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, mendorong pemerintah desa atau daerah untuk menerbitkan peraturan terkait upaya perlindungan satwa Burung Kepodang (Kepudang Kuduk Hitam) atau dalam nama latin Oriolus Chinensis.

Sebab status burung maskot Jawa Tengah ini statusnya semakin tidak diketahui atau kurang data, sehingga memiliki kemungkinan dalam status kritis.

“BKSDA Jawa Tengah mendukung percepatan masuknya jenis burung kepodang ke dalam status dilindungi oleh undang-undang. Bilamana berdasarkan hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta perguruan tinggi/LSM, keberadaan burung kepodang di Jawa Tengah menunjukkan kondisi yang kritis,” terang Kepala BKSDA Jawa Tengah, Darmanto, Selasa (4/5/2021).

Dia menguraikan, satwa tersebut belum termasuk jenis dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106//Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi.

Meski demikian, Burung Kepodang Kuduk Hitam yang berada dalam kawasan hutan konservasi, statusnya mutlak dilindungi. BKSDA Jawa Tengah menegaskan tidak menerbitkan dokumen pemanfaatan Kepodang dari tangkapan di alam.

Untuk melindungi populasi burung berwarna kuning itu, BKSDA Jawa Tengah berupaya dalam konservasi dengan mendorong kegiatan penangkaran. Selain itu, perlunya kerja sama dengan pihak-pihak akademisi perguruan tinggi, serta masyarakat dalam penelitian, dan upaya konservasi satwa bekicau tersebut.

“Maka perlunya dilakukan kajian populasi burung kepodang di alam serta rekomendasi untuk upaya pelestariannya di alam,” jelas Darmanto.

Sebelumnya, Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Officer Burung Indonesia, di Kota Bogor merilis status keterancaman pada jenis Kepodang Jawa yang lain, yakni Kepudang Dada Merah (Oriolus cruentus).

Status keterancaman jenis ini diturunkan ke dalam kategori kurang data (Data Deficient/DD) karena minimnya catatan perjumpaannya.

Sehingga dibutuhkan evaluasi yang lebih mendalam lagi terkait status keterancamannya.

“Kini, Kepudang Jawa menjadi salah satu jenis burung dengan informasi paling minim di Pulau Jawa,” katanya.

Lebih jauh, di Indonesia, kini terdapat 179 jenis burung yang masuk ke dalam daftar jenis burung terancam punah secara global. Ada 31 jenis burung masuk dalam kategori Kritis, di mana satu langkah lagi menuju status kepunahan.

Kemudian 52 jenis dinyatakan Genting (Endangered/EN), dan 96 jenis rentan terhadap kepunahan (Vulnerable/VU).

Hal ini mengacu pada data dari, Badan Konservasi Dunia (IUCN Red List of Threatened Species). Perburuan di alam liar menjadi salah satu penyebab ancaman kepunahan.

Indonesia, lanjut dia, kini memiliki 1812 jenis burung, atau bertambah 18 jenis dibandingkan tahun sebelumnya. Pemecahan taksonomi menjadi faktor yang menyebabkan penambahan jumlah jenis burung di Indonesia.

“Hingga 2021, jumlah jenis burung endemis di Indonesia tercatat sebanyak 532 jenis. Peningkatan catatan jumlah jenis endemis di terjadi pada 2020, yakni sebanyak 16 jenis. Setidaknya tercatat ada tujuh jenis burung baru yang ditemukan di kawasan Wallacea,” terang Ridha.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.