Spot “Bukit Cinta” Desa Wisata Jamalsari, Semarang Jadi Primadona Baru Para Mancing Mania

Para pehobi mancing tengah berada di salah satu spot tersembunyi yang diberi nama “bukit cinta” oleh warga di Desa Wisata Jamalsari, Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

 

HALO SEMARANG – Berbagai wilayah pinggiran Kota Semarang menyimpan sisi unik yang patut dikunjungi. Salah satu spot menarik yang sejauh ini belum banyak terekspos adalah Desa Wisata Jamalsari.

Secara kewilayahan, Desa Jamalsari ini berada di Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Di ujung perkampungan ini terdapat spot unik berupa hamparan Waduk Jatibarang sebelah barat.

Terlihat view pulau mungil Objek Wisata Goa Kreo tampak dari belakang. Para wisatawan cenderung lebih mengenal Desa Wisata Kandri Kecamatan Gunungpati, karena sebagai pintu masuk menuju ke Goa Kreo dan Waduk Jatibarang.

Desa Jamalsari yang terletak di sebelah barat Waduk Jatibarang inipun menyimpan sisi menarik. Memiliki hamparan lahan kurang lebih seluas 6 hektare, berupa bukit hijau yang sejuk. Warga setempat mengelola dan merintis kampung tersebut menjadi desa wisata.

Sejumlah menu kuliner tradisional bisa didapati di warung-warung milik warga, seperti bir pletok, makanan ringan jantung pisang raja, jamu jun, tape, jahe, keripik kulit singkong, kopi hingga sekadar menikmati mie rebus telur sembari memandang perahu melintas di Waduk Jatibarang.

Spot wisata tersembunyi di ujung Desa Jamalsari tersebut diberi nama oleh warga sekitar “Bukit Cinta”.

Di lokasi itu, juga berdiri beberapa gazebo-gazebo sederhana dan spot-spot swafoto buatan warga meski sedikit kurang terawat. Para pengunjung juga bisa menyewa perahu milik warga untuk menyeberang ke Goa Kreo ataupun berkeliling mengelilingi Waduk Jatibarang.

Hal yang tak kalah menarik, dermaga waduk di wilayah tersebut menjadi surganya para pehobi mancing. Terdapat perahu-perahu kayu, dan jembatan bambu untuk dimanfaatkan saat memancing.

Sehingga para mancing mania tak sedikit yang berada di spot tersebut nampak asyik menghabiskan waktu sepanjang hari di lokasi tersebut.

“Di sini tidak ada biaya tiket masuk. Pemancing maupun pengunjung hanya perlu membayar uang parkir seikhlasnya. Biasanya saya berikan Rp 3.000,” ungkap seorang pemancing, Susanto, warga Mijen, baru-baru ini.

Dia mengaku baru pertama kali memancing di lokasi tersebut.

“Saya diberi tahu oleh teman kalau di tempat ini asik buat mancing. Ternyata benar. Ikan di waduk ini juga beragam jenis. Mulai dari kutuk atau gabus, lele, nila, bandeng, kakap, bawal, patin, hingga udang,” katanya.

Bahkan ukuran ikan di lokasi tersebut terbilang menggiurkan bagi para pemancing.

“Kalau soal besaran ikan, di sini beragam. Saya disarankan teman saya menggunakan umpan lumut dan garam, terutama untuk ikan bandeng. Kalau untuk ikan gabus bisa menggunakan umpan yuyu (kepiting sawah),” ujarnya.

Salah satu pengunjung, Nita (29), mengaku penasaran ingin melihat Waduk Jatibarang dari Desa Jamalsari.

“Sebetulnya saya hanya iseng jalan-jalan saja sama suami. Sebelumnya belum pernah ke sini. Saya ingin lihat tepi waduk kalau dari arah barat seperti apa. Orang-orang kan cenderung mengunjungi Waduk Jatibarang dan Goa Kreo dari Desa Kandri. Ternyata menarik juga di sini, tapi sayang belum dikelola secara serius,” katanya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.