in

Soto Ayam Bokoran, Berawal dari Nama Sebuah Kampung Bokoran di Semarang

Suasana pengunjung di warung soto ayam Bokoran, baru-baru ini.

KOTA Semarang memiliki banyak makanan khas yang sudah dikenal masyarakat luas. Salah satunya soto Semarang. Ternyata soto asal Semarang yang dikenal tak hanya Soto Bangkong saja. Ada satu soto legendaris yang hingga kini masih eksis, yaitu Soto Bokoran.

Warung soto dengan nama Warung Soto Ayam Bokoran 1949, berada di Jalan Plampitan Nomor 55 ini cukup terkenal bagi warga di wilayah Kota Semarang. Namanya yang unik, ternyata bermula dari sebuah nama kampung di Semarang, yakni Bokoran, Plampitan yang masuk wilayah Kelurahan Bangunharjo, Kecamatan Semarang Tengah, tak jauh dari lokasi warung yang masih eksis hingga kini tersebut. Di kampung itulah tempat pertama kali soto dibuat, sehingga dinamakan Soto Bokoran.

Soto Ayam Bokoran salah satu warung dari puluhan warung soto yang masih bertahan sejak puluhan tahun lalu, dan kini telah memiliki banyak pelanggan setia di Kota Semarang. Soto Bokoran ini juga termasuk salah satu pelopor warung soto di Semarang, yang dikelola dan telah diteruskan secara turun-temurun hingga saat ini oleh generasi yang keempat.

Salah satu generasi penerus pemilik warung Soto Bokoran, Slamet menjelaskan, nama Soto Bokoran sendiri diambil dari nama kampung di Semarang yakni kampung Bokoran. Dulunya, kata dia, kakeknya tinggal di kampung itu, yang sejak 1949 sudah berjualan soto keliling dengan cara dipikul.

“Lokasi jualannya ya di sekitar Jalan Plampitan. Terus, lama-lama punya warung kecil di pinggir kali, tapi dibongkar. Dan sampai sekarang bisa menetap lagi dengan mengontrak tempat yang baru, seterusnya dipakai sampai sekarang ini,” katanya, baru-baru ini.

Dikatakan, dulunya memang banyak warga Tionghoa di sekitar Jalan Plampitan yang menjadi pelanggannya. Namun, seiiring waktu mulai dikenal oleh pelanggan lainnya di luar wilayah Plampitan. Berkat sotonya yang legendaris dan disebarkan dari mulut ke mulut, lama kelamaan Soto Bokoran lebih dikenal oleh kalangan luas. Bahkan, pelanggannya pun banyak yang dari luar Kota Semarang. “Dulu, hanya warga sekitar saja yang jadi pelanggan, kebanyakan warga Tionghoa, lalu makin dikenal luas masyarakat,” paparnya.

Yang membedakan dengan soto khas Semarang di tempat lain, dengan soto ayam Bokoran ini adalah kuah soto yang berwarna kecokelatan. Karena diracik dengan bahan rempah-rempah resep yang diwariskan secara turun-temurun, rasanya pun makin khas. “Sehingga rasanya masih terjaga dan banyak yang mencoba makan soto di sini akan kembali lagi. Dan kami tidak membuka cabang di tempat lain, hanya satu tempat ini aja,” ungkapnya.

Harga satu porsi soto juga terjangkau, yaitu ditawarkan Rp 14 ribu. Di warung ini juga tersedia lauk tambahan yang menambah selera saat menikmati soto. Seperti sate-satean, misalnya sate kerang, sate ayam, telur puyuh dan gorengan. “Harga sate-satean sendiri Rp 5.000/tusuk. Kalau paling banyak dicari sate kerang, dan telur pindang atau telur asinnya. Selain ada perkedel, tempe goreng, dan aneka gorengan misalnya mendoan dan bakwan,” lanjutnya.

Untuk jam buka warung setiap hari, mulai dari pukul 06.00 WIB- 14.00 WIB. Kedai soto sederhana ini selalu ramai oleh pengunjung yang ingin menyantap hidangan sotonya. Terutama saat jadwal sarapan dan makan siang nampak di dalam warung ini akan terisi penuh dengan pelanggan.(HS)

Peringati 2 Tahun Organisasi, Aspur Kendal Gelar Berbagai Kegiatan

Dukungan di Jateng Makin Meningkat, Prabowo Mengaku Makin Bersemangat