Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Agustina Wilujeng Ibaratkan Indonesia Sebagai Taman Bunga

Para mahasiswa diajak berdialog tentang empat pilar kebangsaan oleh Agustina Wilujeng Pramestuti di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang, Rabu (4/12/2019).

 

HALO SEMARANG – Anggota MPR RI Agustina Wilujeng Pramestuti yang juga Wakil Ketua Komisi X DPR RI memberikan sosialisasi tentang 4 Pilar Kebangsaan di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang, Rabu (4/12/2019). Sosialisasi dengan tema “Kontribusi Generasi Milenial Dalam Pembangunan Karakter Pancasila” yang dilaksanakan di Kampus Fakultas Ilmu Budaya Undip ini digelar bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya Undip.

Agustina yang juga mahasiswa S3 di Fakultas Ilmu Budaya Undip mengajak generasi muda untuk ikut menyampaikan pemahaman tentang empat pilar kebangsaan dari sudut pandang milenial. Hal ini menurutnya penting, karena perlu ada persamaan visi terlebih dahulu dalam memahami empat pilar kebangsaan antara generasi milenial dengan generasinya.

“Kepada mereka kami ingin lagi hakikat tentang Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhineka Tunggal Ika. Namun perlu ada persamaan visi dulu, jangan sampai ternyata fisinya berbeda. Karena menurut kami, pemahaman empat pilar kebangsaanal ini sangat penting untuk menangkal radikalisme dan memupuk rasa nasionalisme generasi muda. Banyak yang bilang materinya berulang-ulang sama, tapi tak apa. Karena memang perlu untuk ditanamkan kepada generasi mudea Indonesia, yang nantinya akan menerima estafet kepemimpinan dari pemimpin saat ini,” ujarnya.

Menurut Agustina Wilujeng, tugas generasi milenial memang menerima estafet dari generasi yang sekarang memimpin. “Indonesia dulu dibangun dengan keberagaman. Berkumpul banyak suku agama dan ras dan menjadi bangsa ini. Perlu disadari oleh generasi milenial, bahwa Indonesia ini kayak taman bunga. Akan indah seperti cita-cita leluhur bangsa, kalau ada beragam dan warna-warni. Jika ada bunga yang jelek maupun baik, itu bagian dari keindahan Indonesia,” katanya.

Indonesia juga dibangun dengan landasan Pancasila. Dalam falsafah Pancasila diajarkan pula tentang ketuhanan, keberagaman, keadilan, dan persatuan.

Jika memahami dengan baik falsafah Pancasila dan UUD 45, maka di sana diajarkan tentang bagaimana kita hidup berbangsa. Bagaimana yang besar melindungi yang kecil dan yang kecil juga bisa menjaga yang besar.

“Menjaga keseimbangan dan ketentraman sehingga penghuninya sejahtera. Kesejahteraan tak hanya milik satu atau dua orang saja, namun dimiliki seluruh bangsa,” tegasnya.

Agustina juga berpesan kepada generasi milenial untuk disiplin. Baik disiplin waktu, disiplin komunikasi, disiplin bertindak, disiplin bicara, disiplin berpikir. “Generasi di era milenial ini, dengan kemajuan teknologi informasi, membuat mereka reaktif ketika dapat informasi. Padahal informasi yang mereka dapatkan itu belum tentu benar. Maka perlu ada barier dengan berdisiplin, khususnya disiplin berpikir,” tegasnya.

Diskusi yang dipandu alumni FIB Undip Dr Teguh Hadi Prayitno, MHum MH ini juga menampilkan pembicara Guru Besar Sejarah Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono.

Dalam kesempatannya, Guru Besar Sejarah, Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono menegaskan, generasi milenial perlu tahu tujuan bernegara.

“Pertanyaan besar masihkah relevan masyarakat harus berbangsa. Dulu pendiri bangsa ini membentuk Indonesia dengan tujuan tujuan yang sama, yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Karena dalam masa kolonial tak ada kesejahteraan maupun kemakmuran. Di era sekarang ini, jangan sampai perbedaan yang ada malah memecah belah Indonesia. Karena dari perbedaan inilah, bangsa Indonesia ini dibentuk,” tegasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.