Soal Larangan Mudik, Ini Kata Yudi Indras Wiendarto

Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Yudi Indras Wiendarto.

 

HALO SEMARANG – Bulan suci Ramadan telah masuk hari kedelapan di tengah pandemi Covid-19. Pada bulan Ramadan kali ini diharapkan angka penularan Covid-19 dapat menurun.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Yudi Indras Wiendarto, kepada halosemarang.id, Rabu (21/4/2021).

“Ramadan kali ini, kita masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Di Jawa Tengah sedang berlangsung vaksinasi. Harapannya Covid-19 bisa terkendali, yang sakit maupun yang meninggal dunia dapat berkurang drastis,” kata Yudi.

Dikatakan Yudi, dengan begitu nantinya dapat mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity sesuai konsep yang digunakan untuk imunisasi.

Selanjutnya dapat memberikan perlindungan secara tidak langsung bagi seseorang yang tidak kebal terhadap penyakit menular.

Namun, lanjut Yudi, bulan Ramadan tidak afdal jika pada Hari Raya Idul Fitri masyarakat tidak melakukan mudik. Di sisi lain, pemerintah sudah mengeluarkan aturan untuk tidak mudik pada Lebaran tahun ini.

Yudi mengajak masyarakat Jawa Tengah untuk mendorong keluarganya supaya tidak melakukan mudik. Hal ini tak lain sebagai upaya untuk menekan angka penularan Covid-19 di Tanah Air.

“Masyarakat Jawa Tengah tolong sampaikan kepada handai tolan dan kerabat untuk menunda mudik dulu, tunggu dulu sampai kasus Covid-19 dapat menurun angkanya,” katanya.

Menurutnya, jika kasus penularan Covid-19 dapat dikendalikan, akan menuju kehidupan normal baru atau new normal. Kelonggaran akan diberikan pemerintah kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas.

“Jika sudah new normal akan dapat diberikan kelonggran dari pemerintah, namun juga harus terapkan protokol kesehatan,” imbuh Yudi.

Hal yang menjadikannya kwatir adalah, masyarakat melakukan mudik terlebih dulu sebelum larangan mudik yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu tanggal 6-17 Mei mendatang

“Sepertinya pemerintah pada saat menetapkan aturan itu berkaca pada data kasus-kasus sebelumnya yang melandai,” tuturnya.

Menjawab wilayah aglomerasi yang berada di Jawa Tengah yaitu, Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, Purwodadi (Kedungsepur) dan Solo Raya (Kota Solo, Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar, Klaten, Wonogiri, Sragen). Dirinya mengkawatirkan akan terjadi lonjakan di wilayah tersebut.

“Ini dikawatirkan di wilayah Solo Raya dan sekitarnya itu sasaran mudik. Takutnya ada mudik dini dari masyarkat yang asli Solo dan sekitarnya sudah pada pulang sebelum larangan dari pemerintah,” cemas Yudi.

Dengan adanya perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro, tambah Yudi, dapat membantu untuk memantau dan menahan kasus Covid-19.

“Ini harus diwaspadai, makanya PPKM Mikro harus tetep dijalankan dan pemantauan dari tingkat desa untuk melihat dinamika penambahan siapa yang datang dan pergi harus dipantau,” ujarnya.

Di sisi lain, masyarakat juga menjadi pelaku untuk melawan wabah Covid-19. Dan pemerintah juga bertanggung jawab dalam memantau perkembangan untuk mengeluarak sebuah kebijakan.

“Intinya gini, dengan situasi pada bulan Ramadan kita bicara dinamika naik dan turunnya angka Covid-19. Ini harus dipantau oleh seluruh stakeholder yang bertanggung jawab terhadap itu,” terang Yudi.

“Masyarakat sudah mulai membuat perbandingan-perbandingan sendiri misalnya mudik dilarang tapi tempat pariwisata dibuka. Sebenarnya Covid-19 itu ditangani, namun juga sadar kondisi ekonomi harus terjaga. Jika ekonomi jatuh malah covid bisa naik lagi,” tutupnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.