Soal Dugaan Penganiayaan Dan Intimidasi Wartawan Di Surabaya, Ini Tuntutan AJI Semarang

Ilustrasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang.

 

HALO SEMARANG – Lagu “Pantun Jadi-Jadian” karya Anis Sholeh Ba’asyin mengiringi aksi solidaritas Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang atas aksi kekerasan dan intimidasi yang menimpa Jurnalis Tempo Nurhadi di Surabaya.

Lagu tersebut dinyanyikan oleh perwakilan Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) dan teman-teman seniman asal Kota Semarang yang turut bersolidaritas melalui musik.

Selain lagu “Pantun Jadi-Jadian”, mereka juga menyanyikan lagu “Rahim Ibu” karya Efek Rumah Kaca dan “Bongkar” karya musisi kawakan Iwan Fals.

Pada kesempatan tersebut, Ketua AJI Kota Semarang, Aris Mulyawan mengutuk keras kekerasan terhadap jurnalis Tempo Nurhadi di Surabaya. Menurutnya, kekerasan tersebut adalah bentuk serangan terhadap kebebasan pers.

“Kekerasan jurnalis adalah bentuk dari serangan kebebasan pers dan itu merupakan bentuk pelanggaran undang-undang pers. Ini adalah bentuk kemunduran demokrasi di negeri ini,” jelasnya dalam aksi solidaritas virtual yang diselenggarakan AJI Kota Semarang, Kamis (8/4/2021).

Untuk itu, dia mewakili AJI Kota Semarang menuntut dan mendesak kepada Presiden RI Joko Widodo dan kapolri untuk memerintahkan jajarannya mengusut tuntas kekerasan yang menimpa jurnalis Nurhadi.

“Jangan sampai ada kekerasan lagi di Indonesia. Kita juga menuntut Kapolri dan jajarannya secara profesional. Tangkap pelaku kekerasan terhadap jurnalis Nurhadi. Adili mereka sampai ke pengadilan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Tengah, Nurkholis juga merasa prihatin atas kasus kekerasan yang menimpa jurnalis. Beberapa tahun terakhir, kasus serupa juga pernah terjadi hingga akhirnya tahun ini menimpa jurnalis Tempo Nurhadi.

“Sebagai negara demokrasi kasus seperti ini tak selayaknya terjadi dan berulang-ulang. Kami dari AMSI Jateng menuntut kepada aparat penegak hukum terutama polri untuk mengusut tuntas kekerasan yang menimpa jurnalis Nurhadi,” imbuhnya.

Tak hanya itu, dia juga mendesak pelaku diadili, sipapun pelakunya termasuk pucuk pimpinan sekalipun. Dia meminta agar kasus tersebut dapat dituntut tuntas, tak hanya oknum-oknum yang berada di lapangan saja.

“Yang bertanggung jawab sebagai atasan juga harus diperiksa,” ucapnya.

Aksi solidaritas secara virtual itu juga dihadiri beberapa organisasi lintas profesi seperti SPLM Jateng, LBH Semarang, LRC KJHAM, LBH Apik, Walhi Jateng, Greenpeace, PPMI Kota Semarang, IJTI Jateng dan AMSI Jateng yang ikut bersuara atas kasus yang menimpa jurnalis Nurhadi di Surabaya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.