in

SN-Dikti Jadi Acuan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi

Workshop peninjauan kurikulum dalam menyiapkan kurikulum MBKM secara daring yang digelar Pendidikan Bahasa Inggris UPGRIS, belum lama ini.

 

HALO SEMARANG – Program studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menggelar workshop peninjauan kurikulum dalam menyiapkan kurikulum Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) secara daring, belum lama ini.

Akademisi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Paulus Kuswandono, PhD yang hadir sebagai nara sumber mengatakan, MKBM perlu diperhatikan dan dikembangkan, sebab mendukung sebagai pendidikan karakter.

“Kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang berbasis OBE atau Outcome-Based Education dan MBKM, berfungsi sebagai pendidikan karakter. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan, pelaksanaan, evaluasi kurikulum berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti) dinyatakan, bahwasanya SKL/CPL merupakan acuan atau landasan utamanya,” papar Kuswandono

Menurutnya, melalui pendekatan Outcome Based Education (OBE) dapat mendorong program studi melakukan peningkatan akreditasi internasional.

“Dengan demikian Kurikulum Pendidikan Tinggi yang telah dikembangkan berdasarkan SN-Dikti sesungguhnya telah menggunakan pendekatan Outcome Based Education (OBE). Hal ini sangat mendukung kurikulum. Program studi ikut serta dalam akreditasi internasional yang berlandaskan pendekatan OBE,” tutur Kuswandono.

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UPGRIS, Dr Jafar Sodiq, MPd menyatakan, dalam pengembangan atau penyesuaian kurikulum, pihaknya mengimplementasikan MBKM sebagai upaya peningkatan kualitas program studi.

“Diharapkan mampu memberikan pengetahuan tentang kurikulum MBKM yang sudah ada. Peninjauan ini rutin diagendakan agar kurikulum sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman,” ucap Jafar.

Sementara itu, Dekan FPBS, Dr Asropah, MPd menyampaikan, terselenggaranya workshop peninjauan kurikulum diharapkan dapat menjadi pembaharuan penamaan, penataan, atau organisasi mata kuliah, perlu dilakukan untuk memfasilitasi MBKM.

“Dari kegiatan ini diharapkan tujuan pembelajaran diubah dari Content-Based Education menjadi Outcome-Based Education. Mata kuliah lebih baik tidak terlalu banyak supaya tidak terjadi variasi mata kuliah yang terlalu banyak, sehingga memberatkan dosen dan mahasiswa,” katanya.(HS)

Share This

Woro Widowati Rilis Lagu “Borobudur Saksi Ati”

Wujud Transparansi Pemerintah Daerah, Kendal Corner Diresmikan