in

Slamet Guru Ngaji di Tejorejo Kendal, Menjadi Penjahit Keliling Untuk Mencukupi Kebutuhan Keluarga

Slamet, guru mengaji di Desa Tejorejo, Ringinarum, Kabupaten Kendal yang kesehariannya sebagai penjahit keliling ditemui di Desa Nawangsari Weleri, Minggu (29/8/2021).

 

HALO KENDAL – Nasib para guru ngaji dan madrasah di Kabupaten Kendal, taraf hidupnya masih jauh dari kata layak. Dengan honor yang diterima dari para orang tua yang menitipkan anak-anak mereka dengan jumlah tak besar, mereka banyak yang membutuhkan perhatian dari pemerintah.

Seperti yang diungkapkan Slamet, Guru Ngaji di Dukuh Mbojo Desa Tejorejo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, yang harus memenuhi kebutuhan hidup dia dan keluarga dengan menjadi tukang jahit keliling.

“Ya buat memenuhi kebutuhan anak dan istri, sehari-hari saya bekerja sebagai tukang jahit di sela menjadi guru ngaji. Baik keliling maupun di rumah. Dapatnya tak menentu, kadang Rp 50 ribu kadang Rp 100 ribu/hari,” ungkapnya kepada halosemarang.id saat ditemui di wilayah Weleri, Minggu (29/8/2021).

Menurutnya, selama ini para guru ngaji secara profesi masih dipandang sebelah mata. Mereka dianggap sebagai pengejar pahala, sehingga tidak perlu diperhatikan kebutuhan materinya.

“Padahal kami juga sama seperti guru di sekolah-sekolah formal yang punya tanggungan keluarga dan membutuhkan kesejahteraan hidup, di sela tanggungan mendidik murid-murid agar bisa pintar mengaji,” ujar Slamet.

Meski demikian, dirinya tidak lantas frustasi dan putus asa. Menurut Slamet, dia harus tegar, demi mengajar ilmu agama kepada anak-anak di desanya.

“Bermodalkan ilmu agama yang saya peroleh dari pondok pesantren, sepulang kerja menjahit keliling saya kemudian mengajar ngaji anak-anak yang ada di dusun saya,” jelasnya.

Slamet juga mengaku, selama puluhan tahun menjadi guru ngaji, ia tidak pernah mematok atau meminta imbalan dari orang tua siswa. Baginya, profesi sebagai guru ngaji dimaknai sebagai ibadah.

“Yang saya lakukan hanya berharap ridha Allah SWT. Saya hanya bisa berharap semoga ada kepedulian dari pemerintah kepada para guru pengajar ngaji di Kabupaten Kendal dan daerah lain,” ungkapnya.

Slamet juga berharap ada kepedulian untuk menunjang pendidikan lebih layak, khususnya pendidikan agama.

“Saat ini kami mengajar 20 anak di kampung. Para orang tua yang menitipkan putra-putri mereka, berharap anaknya bisa membaca dan menulis Al-Quran, sehingga bisa bermanfaat untuk agama, nusa dan bangsa,” imbuh Slamet.

Saat ditanya apakah selama ini dirinya pernah mendapat bantuan dari pemerintah terkait profesinya, Slamet hanya menggelengkan kepala.

“Belum pernah kami menerima bantuan dari pemerintah baik BLT maupun bantuan lain. Jadi kalau ditanya seperti ini ya saya jawab belum pernah. Dan kami pun hanya bisa berharap,” imbuhnya.

Padahal dalam kesehariannya, keluarga Slamet pun hidup dalam serba kekurangan.

“Saya memilih istiqamah, dengan menjalani dunia pendidikan agama Islam, dan mengabdi untuk generasi muda bangsa Indonesia. Meski dari segi ekonomi, sosial, dan keluarga saya masih kekurangan,” pungkasnya.(HS)

Share This

6 Atlet Kickboxing Kendal, Sabet Emas Seleksi Daerah Eksibisi PON Papua XX Di Brebes

Gelar Pelatihan Ilmu Falak, UIN Walisongo Interpretasi Teori dan Praktik dengan Al-Murobba’