Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Situs Pleburan dan Jejak Mataram Kuno di Semarang

Petugas Kelurahan Pleburan menunjukkan pecahan patung yang ditemukan di makam Pleburan Semarang.

 

KOTA SEMARANG dulunya pernah menjadi salah satu daerah dengan peradaban maju di era Kerajaan Mataram Kuno, sekitar abad ke 7 sampai abad 9. Sehingga tidak heran jika banyak peninggalan sejarah terutama situs masa lalu, yang ditemukan di kota ini. Hal ini didukung informasi sejarah, bahwa pelabuhan kuno Kerajaan Mataram dulunya dipercaya berada di wilayah Pragota yang kini berada di tengah Kota Semarang.

Sebagai sebuah kerajaan besar, Mataram Lama punya pelabuhan untuk berhubungan dengan kerajaan lain dan juga untuk perdagangan.

Sehingga di Kota Semarang masih banyak ditemukan sejumlah situs di beberapa tempat, baik terpisah maupun berdekatan.

Beberapa peninggalan sejarah yang masih ada hingga kini, di antaranya temuan candi Hindu abad IX di Mijen, Watu Tugu di Kecamatan Tugu, Situs Klentengsari, Banyumanik, hinga pemakaman kuno di wilayah Pleburan, Semarang Tengah.
Salah satunya di lokasi Pemakaman Umum Sukolilo Kelurahan Pleburan, Semarang Tengah, dan diperkirakan dulunya adalah sebuah bangunan suci bagi umat Hindu masa lampau. Sesepuh setempat, Mudi mengatakan, di sekitar makam kuno Kelurahan Pleburan memang banyak ditemukan batu-batu kuno menyerupai batu candi.

Batu-batuan itu kini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk penanda makam kuno di pemakaman Pleburan.

“Ada artefak berupa watu umpak dan watu pondasi candi. Watu umpak sebuah batuan berbentuk bulat pipih yang mempunyai ukuran diameter sekitar 86 cm dan tebalnya sekitar 38 cm. Yang konon ceritanya, batu tersebut adalah tempat duduk Kiai Sukolilo saat bermunajat ataupun berdzikir kepada Yang Maha Kuasa,” kata Mudi.

Situs Watu Umpak ini, lanjut dia, adalah bagian dari komponen bangunan suci berupa candi atau bangunan tempat pemujaan. Tak hanya itu, tidak jauh dari situs makam Mbah Kiai Sukolilo dan masih di area makam tersebut, terdapat situs watu lumpang terbalik yang sudah pecah, mempunyai ukuran diameter 160 cm.

Situs Watu Lumpang, menurut kebiasaan pada masa kerajaan, sebagai simbol tanah Sima, tanah perdikan atau tanah bebas pajak. Hal ini menguatkan, dulunya, komplek pemakaman ini pernah berdiri sebuah bangunan suci.

“Dan telah memenuhi kriteria untuk bisa disebut lumpang perdikan, karena adanya kehadiran suatu bangunan candi atau pemujaan di tempat ini,” katanya.

Ketua RW 2, Kelurahan Pleburan, Hadi Handayani mengatakan, selain banyak batu kuno berupa Lingga dan batu candi, juga ada juga potongan batu berbentuk patung atau arca dewa/dewi, yang tinggal bagian telapak kakinya.

“Patung yang mirip Ganesha, patung berbadan manusia, berkepala gajah. Tapi sudah tidak utuh lagi,” katanya.

Dari berbagai sumber literasi yang diperoleh halosemarang.id, dijelaskan bahwa sebelum peradaban Islam masuk ke Nusantara, di wilayah yang kini bernama Semarang sudah ada peradaban Hindu-Buddha khususnya pada abad 5-7 Masehi. Dari buku Semarang Riwayatmu Dulu jilid pertama karya Amen Budiman juga menjelaskan, pada abad 6-7, Bandar atau Pelabuhan Bergota di Pulau Tirang (lokasi sekarang Semarang) pernah menjadi bandar utama Kerajaan Mataram Kuno yang dimungkinkan berpusat kota di wilayah Medang (lokasinya masuk wilayah Jawa Tengah, namun posisi pastinya kini masih dalam perdebatan). Hingga akhirnya pada abad VIII Masehi, pusat kerajaan Mataram Kuno ini dipindah ke wilayah Jawa Timur.

Dari tulisan dalam buku tersebut bisa disimpulkan bawa pada abad 5-7 Masehi wilayah yang kini bernama Kota Semarang ini memiliki peran penting dalam kemajuan pemerintahan Mataram Kuno. Oleh sebab itu tak menutup kemungkinan di wilayah ini sudah ada peradaban yang akhirnya meninggalkan banyak jejak sejarah, termasuk beberapa situs yang ditemukan di sekitar Kota Semarang.

 

Warga menunjukkan temuan batu mirip struktur candi yang sering ditemukan di sekitar makam Pleburan.

Potensi Wisata

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, dengan keberadaan situs Pleburan Kota Semarang ini, pihaknya akan mengecek terlebih dulu. Apalagi adanya keinginan masyarakat setempat yang ingin dikembangkan sebagai salah satu lokasi wisata religi.

“Nanti kami cek dulu, dilihat respon masyarakat seperti apa? Karena lokasi wisata tidak bisa hanya ada satu atau dua situs saja, tapi kalau bisa dikembangkan potensi lainnya yang bisa dikembangkan untuk menarik wisatawan,” imbuhnya.

Sebagai informasi, di area pemakaman umum Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan ada sebuah makam kuno yang bentuk makam berbeda dari makam umumnya. Yakni tumpukan batu persegi, dan ditandai dengan batu nisan yang sangat mirip dengan Lingga (sebuah arca atau patung, yang merupakan sebuah objek pemujaan atau sembahyang umat Hindu). Serta di sekitar lokasi kerap ditemukan bebatuan persegi dan terukir yang banyak digunakan pada bangunan candi zaman kerajaan masa silam.

Masyarakat sekitar menyebut makam kuno tersebut adalah Makam Eyang Sukolilo.

Lokasinya, dari depan eks-Wonderia, di seberangnya ada jalan menuju Pleburan Raya. Tepat di samping Sekolah AKIN (Akademi Kimia), masuk menuju jalan tersebut, kira-kira 100 meter lagi ada gang sebelah kiri yang menanjak cukup curam menuju RT 04 RW II. Ikuti tanjakan, sampai ketemu dengan Makam Pleburan.

Tak jauh dari makam kuno tersebut juga terdapat pohon randu yang berukuran besar, yang telah berumur sangat lama. Kemudian, di sekitar makam juga tersebar situs dan artefak yang diduga bekas reruntuhan candi peninggalan kerajaan Hindu/Budha yang ada disekitar lokasi makam, termasuk nisan yang digunakan sebagai penanda makam.

Selain makam Mbah Sukolilo, di samping kanan dan kirinya ada juga makam lain yang memakai batu mirip Lingga yang dipakai untuk ‘pathok’ makam, juga watu candi kotak yang berceceran di sekitar makam.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang