Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Situs Makam Pleburan yang Masih Menyimpan Banyak Misteri

Pihak Kelurahan Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan mengecek keberadaan Makam Pleburan yang diduga bagian dari sebuah situs bersejarah.

 

SIAPA sangka, jika di tengah pusat Kota Semarang, terdapat makam kuno, yang konon usianya sudah ratusan tahun. Makam kuno itu ada di area pemakaman umum Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan.

Uniknya lagi, bentuk makam berbeda dari makam umumnya. Yakni tumpukan batu persegi, dan ditandai dengan batu nisan yang sangat mirip dengan Lingga (sebuah arca atau patung, yang merupakan sebuah objek pemujaan atau sembahyang umat Hindu). Serta di sekitar lokasi kerap ditemukan bebatuan persegi dan terukir yang banyak digunakan pada bangunan candi zaman kerajaan masa silam.

Masyarakat sekitar menyebut makam kuno tersebut adalah Makam Eyang Sukolilo.
Lokasinya, dari depan eks-Wonderia, di seberangnya ada jalan menuju Pleburan Raya. Tepat di samping Sekolah AKIN (Akademi Kimia), masuk menuju jalan tersebut, kira-kira 100 meter lagi ada gang sebelah kiri yang menanjak cukup curam menuju RT 04 RW II.
Ikuti tanjakan, sampai ketemu dengan Makam Pleburan.

 

Nisan pada makam yang bentuknya mirip Lingga.

Ketua RW 2, Kelurahan Pleburan, Hadi Handayani mengatakan, di sekitar makam banyak berserakan batu-batu kuno, yang menyerupai batu candi.

“Motif dan bentuk di batu nisan ini, berbeda-berbeda, ada berbentuk oval, persegi panjang dan motifnya garis melingkar, dan polos. Ada juga potongan batu berbentuk patung atau arca dewa/dewi, yang tinggal bagian telapak kakinya,” katanya.

Diceritakan, dulunya, kampung Pleburan, nama jalannya adalah nama-nama kerajaan Jalan Kertanegara Selatan, Jalan Singosari. Makam kuno ini sudah ditemukan warga, sebelum zaman kemerdekaan, sekitar tahun 1940-an.

“Dan lokasi makam, memang berada di dataran tinggi,” imbuhnya.

Sementara menurut juru pemelihara makam, Mudi Margono (70), konon Eyang Sukolilo, Kiai Sukolilo, atau Mbah Sukolilo ini merupakan tokoh yang membuka wilayah Pleburan.

Ada yang menyatakan, bahwa Kiai Sukolilo adalah pengawal atau punggawa dari Sunan Kalijaga yang membantu menyebarkan agama Islam di wilayah Pleburan. Namun Mudi tak mengetahui secara pasti, sejak kapan makam itu ada dan kenapa banyak berserakan batu kuno di sekitar makam.

“Dulu, sekitar tahun 1940 makam ini sudah ada dan di sekitarnya dikelilingi rawa-rawa dan perbukitan,” katanya, saat ditemui, Rabu (21/8/2019).

Mudi menambahkan, tidak jauh dari makam ini, ada sebuah sendang yang juga dinamai Sendang Sukolilo. Dikatakan, sendang tersebut dulunya digunakan untuk mandi orang yang akan berziarah dan sebagai pemandian atau padhusan Eyang Sukolilo.

“Dulunya pintu masuk ke makam dari sendang tersebut. Sedangkan jalan baru yang kini dilewati ke makam, baru dibangun tahun 1962,” imbuhnya.

 

Batu mirip pecahan patung di sekitar makam.

Tak jauh dari makam kuno tersebut juga terdapat pohon randu yang berukuran besar, yang telah berumur sangat lama. Kemudian, di sekitar makam juga tersebar situs dan artefak yang diduga bekas reruntuhan candi peninggalan kerajaan Hindu/Budha yang ada disekitar lokasi makam, termasuk nisan yang digunakan sebagai penanda makam.

Mudi tak mengetahui dengan detail, apa hubungan batu-batu tua yang berserakan di sekitar makam dengan cerita tentang Mbah Sukolilo serta sejarahnya.

Saat halosemarang.id berkunjung ke makam tersebut, beberapa batuan yang digunakan untuk nisan dan kijing memang terlihat sangat mirip dengan Lingga dengan ciri khasnya di bagian bawah bersegi delapan. Dan di sekitar makam tersebut banyak batu yang berserakan dan strukturnya sangat mirip dengan batu candi. Bahkan sebagian batu yang dimungkinkan sebagai tatanan watu candi itu, digunakan pula sebagai kijing makam.

Selain makam Mbah Sukolilo, di samping kanan dan kirinya ada juga makam lain yang memakai batu mirip Lingga yang dipakai untuk ‘pathok’ makam, juga watu candi kotak yang berceceran di sekitar makam.

“Setiap menggali makam baru di sekitar sini, banyak ditemukan batu berukuran besar yang serupa,” kata Pak Mudi yang menambah bukti, adanya sebuah bangunan suci di area ini.

Ditambahkan Mudi, sebenarnya dulu kerap pula ditemukan batu mirip patung di sekitar lokasi. Sayangnya batu yang diperkirakan bagian dari patung besar yang telah rusak itu, kini banyak hilang tak tau entah ke mana.

Untuk mengetahui tentang sejarah situs makam Sukolilo, memang dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Tujuannya agar misteri tentang batu-batu tua yang ada di sekitar makam bisa terjawab dan jadi pengetahuan warga sekitar serta generasi muda di Kota Semarang.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang